MasukTia merasa tubuhnya ringan.
Sangat ringan. Ia merasa seolah sedang melayang di udara. Di sekelilingnya hanya ada kabut putih tebal yang menutupi pandangan.Ia berusaha berjalan, tetapi kakinya seperti tidak menyentuh apa pun.
"Kak Tia..."
Suara kecil itu terdengar samar.
"Rima?"
Tia menoleh ke segala arah.
Namun tidak melihat siapa-siapa."Kak Tia jangan tinggalin Rima ya..."
Suara itu kembali terdengar. Hati Tia mencelos. Ia ingin menjawab. Tapi bibirnya terasa berat. Kabut semakin tebal. Dan semuanya kembali gelap.
Sementara itu, sebuah mobil hitam melaju memasuki area parkir bawah tanah Hotel Paramount melalui jalur khusus yang tidak dilewati tamu biasa.
Jason menyeringai puas dari balik kemudi.
"Beres juga akhirnya. Berhasil juga kita ngelabuhin si Dex." Jason kembali menyeringai senang.
Di kursi belakang, tubuh Tia terkulai lemah. Kepalanya bersandar ke jendela tanpa kesadaran penuh.
Alvin melirik ke belakang. "Iya berhasil. Tapi kalo tadi kita gagal gimana?" Alvin berdecak.
Jason tertawa pendek.
"Selama ini gue nggak pernah gagal. Udah, nggak usah ngomongin yang belum terjadi. Lo mau ikut nyicipin nggak?" Jason menaikturunkan alisnya mesum.Alvin mendengkus. "Kalo nggak mau, gue nggak bakal bantuin lo tadi."
Tak lama mobil berhenti di area privat. Beberapa staf hotel yang sudah mengenal Jason segera menghampiri. Salah seorang menyerahkan kartu akses kamar tanpa banyak bicara. Mereka sudah terlalu sering membantu pria itu. Dan selama ini tidak pernah ada masalah. Setidaknya begitu yang mereka kira.
Jason dan Alvin lalu membawa Tia menuju lift khusus yang jarang digunakan tamu umum.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah suite mewah di lantai atas.
Pintu terbuka. Jason membaringkan tubuh Tia di atas ranjang besar yang empuk.
Tatapannya langsung berubah mesum. Ia menyeringai seraya menggosok-gosok kedua telapak tangannya tidak sabar.Alvin bersandar di dekat pintu. Ia meringis melihat ekspresi Jason. Temannya ini memang pecinta wanita sejati.
"Gue tunggu di lobby aja. Biar lo puas nyicipinnya." Alvin nyengir.
Jason terkekeh. "Siap. Lo tenang aja. Gue pastiin gadis itu masih fresh saat gue serah terima ke lo nanti."
"Bener ya? Jangan ntar udah ancur aja baru lo kasih ke gue. Ya udah gue ke depan. Inget
Kalo udah selesai, langsung kabarin. Jangan lama-lama. Ntar dia keburu sadar." Alvin mengingatkan."Iya. Nggak percaya amat sih lo," dengkus Jason tanpa mengalihkan pandangan dari ranjang. Alvin pun keluar lalu pintu ditutup.
Kini di dalam kamar hanya tersisa Jason dan Tia. Jason melangkah mendekat ke ranjang. Menatap Tia yang tergolek lemah seolah-olah makanan yang lezat. Tepat saat ia hendak menyentuh gadis itu, bel kamar berbunyi.
Jason berdecak kesal.
"Sialan! Nggak sabar amat ini si Alvin. Belum juga ngapa-ngapain!" Jason menyumpah-nyumpah. Ia mengabaikan panggilan Alvin.
Namun bel kembali berbunyi.
"Brengsek bener ini si Alvin!"
Dengan gerutuan panjang, Jason berjalan menuju pintu."Lo ini nggak sabaran banget sih? Gue belum ngapa-ngapain tahu?" Jason membuka pintu kasar.
Sejurus kemudian wajahnya langsung berubah pucat.
Di ambang pintu berdiri seorang pria tinggi besar dengan tatapan dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Riffat Herlambang. Putra tunggal Khalid Herlambang, pemilik Hotel Paramount ini. Ayah dan anak yang dikenal sebagai penguasa dunia malam-orang-orang yang namanya lebih baik tidak disebut sembarangan.
Di belakang Riffat berdiri dua staf hotel- Dennis dan Lutfi yang biasa "membantunya. Keduanya tampak gemetar ketakutan. Satu lagi seorang perempuan berjas putih yang sepertinya seorang dokter.
"P... Pak Riffat. Sa... saya..."
Bugh!
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah bogem mentah singgah wajahnya. Riffat menghajarnya!
Kerasnya pukulan membuat Jason terhempas ke lantai.
Jason memegangi rahangnya yang nyeri luar biasa. Belum sempat Jason bersuara lebih lanjut, Riffat masuk beberapa langkah ke dalam kamar.
Tatapannya menyapu ruangan.
Lalu berhenti pada sosok Tia yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.Rahang Riffat mengeras.
"Berani sekali Anda melakukan hal kriminal di hotel saya."Jason buru-buru bangkit.
"Ini... tidak seperti Bapak kira. Saya... bisa jelaskan." Sambil menyeka hidungnya yang hangat karena darah yang mulai menetes, Jason coba membela diri. Melalui sudut mata, Jason melihat wanita berjas putih tersebut memeriksa keadaan Tia.
Bugh!
Pukulan kedua mendarat tanpa ampun. Jason kembali tersungkur.
"Apa yang ingin Anda jelaskan?" suara Riffat terdengar rendah namun mengandung ancaman berbahaya.
"Anda mau bilang kalau Anda telah memanfaatkan dua teman gadis ini untuk menjebaknya di Club Sky Light," Riffat menunjuk Tia.
"Saya kebetulan ada di club tadi dan telah memeriksa CCTV." Riffat memberi clue.
Wajah Jason makin pucat. Club Sky Light adalah club malam milik Riffat juga. Jason sadar, Riffat pasti telah melihat aksinya mengelabuhi Tia.
"Anda mempedaya gadis ini di club saya dan membawanya ke hotel saya juga? Nyali Anda sungguh besar," pungkas Riffat dingin.
Jason berkeringat dingin. Telinganya berdenging memikirkan akibat dari perbuatannya. "Saya salah, Pak."
"Salah?" Tatapan Riffat menajam. "Anda telah melakukan perbuatan kriminal."
Jason makin pucat. "Saya minta maaf."
Mendengar kata polisi, seluruh keberanian Jason lenyap.
Keringat dingin membasahi pelipisnya. Apalagi tak lama kemudian dua polisi berseragam memasuki kamar dan meringkusnya.Sisa-sisa keberaniannya menguap dalam sekejap.
"Pak polisi ... saya benar-benar minta maaf. Saya belum melakukan apa-apa pada dia." Jason meronta panik.
"Jangan seperti ayam sayur kau!" Polisi itu menoyor wajah Jason yang sudah lebih dulu dihajar Riffat. "Nanti kau jelaskan aja semuanya di kantor. Jalan sekarang!" Sang polisi itu memiting leher Jason dan menggelandangnya pergi.
Polisi lainnya menahan Dennis dan Lutfi yang sejak tadi berdiri gemetar di depan pintu. Selama ini mereka sering "membantu" Jason. Memberikan akses. Menyiapkan kamar. Dan pura-pura tidak melihat saat perempuan-perempuan mabuk dibawa masuk ke hotel.
Riffat mendekat pada dua stafnya dan berkata dingin.
"Mulai detik ini kalian dipecat."Tia mengangkat alis."Ada apa, Bu?" tanya Tia heran.Bu Narti tidak menjawab namun ia duduk di kursi sebelah Tia.Tia semakin heran. Biasanya Bu Narti sangat sibuk melayani pembeli. Namun kali ini ia membiarkan Mbak Dewi sibuk sendiri."Maksud Bu Narti apa?" tanya Tia lagi. Ia penasaran.Wanita paruh baya itu menghela napas."Selama ini Ibu sulit bertemu kamu sendirian. Soalnya kalau ke sini Nak Tia selalu bersama dengan Airin dan Amira."Mendengar nama Airin dan Amira disebut, Tia makin penasaran. Namun ia tidak mengatakan apapun karena Mbak Dewi mengantarkan pesanannya."Memangnya kenapa, Bu?" tanya Tia sambil makan.Bu Narti tampak ragu sesaat.Namun akhirnya ia berkata pelan," Kamu jangan terlalu mempercayai mereka."Tia mengernyit. "Kenapa, Bu?""Karena mereka bukan teman yang baik."Tia langsung memandang Bu Narti lekat-lekat. Selera makannya mendadak hilang."Maksudnya?"Bu Narti menurunkan suaranya menjadi lebih kecil."Kamu tidak tahu kan kalau selama ini mereka sering ngomon
Ternyata apa yang dikatakan Ronald benar. Begitu sampai di ruang guru, Tia langsung melihat dua pria yang duduk di kursi tamu dekat meja Pak Aziz.Keduanya mengenakan pakaian sipil biasa.Tidak ada seragam polisi mau pun atribut kepolisian. Namun Tia langsung tahu kalau mereka bukan orang biasa. Postur dan bahasa tubuh keduanya yang kaku dengan rambut dipotong cepak, sudah mendeskripsikan profesi mereka.Saat Tia masuk, salah satu pria berdiri."Selamat pagi, Justitia Rahmadsyah?" tanyanya.Tia mengangguk. Pria itu mengeluarkan kartu identitas."Saya IPTU Ridwan."Pria di sampingnya ikut berdiri."IPDA Gultom."Pak Aziz yang sejak tadi mendampingi segera mempersilakan Tia duduk."Duduk, Tia. Pak polisi ini hanya ingin menanyakan beberapa hal," kata Pak Aziz menenangkan.Tia menarik kursi lalu duduk.Meski wajahnya terlihat santai, dalam hati ia sedikit gugup.Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya ia dimintai keterangan oleh polisi.IPTU Ridwan membuka buku catatannya."Jangan takut.
Tia baru saja turun dari mobil saat suara riuh rendah menyambutnya dari arah gerbang sekolah."Woho! Keren banget lo, Tia. Ratu sekolah kita sudah datangbteman-teman ayo beri jalan... beri jalan!"Tia mengangkat sebelah alisnya.Di belakang gerbang, belasan siswa sudah berkumpul seperti sedang menunggu artis besar.Clara dan Desy bahkan berdiri paling depan.Begitu melihat Tia, keduanya langsung mengacungkan dua jempol tinggi-tinggi."Gokil lo, Tia!" teriak Clara. "Nggak kaleng-kaleng!" sambung Desy heboh. "Habis teler langsung check in hotel! Lo emang cegil sejati. Ratu dugem se-Harapan Bangsa!" Tepuk tangan semakin riuh. Teman-teman yang lain ikut bersorak. Beberapa orang membuat gerakan menyembah ala tren media sosial yang sedang viral."Hormat kepada Ratu Sky Light!""Salam kepada Penguasa Hotel Paramount!""Hidup Justitia Rahmadsyah!"Tia meringis. Pasti foto-fotonya sudah tersebar di dunia maya. Namun ia tak menganggap itu masalah. Dengan santai ia tersenyum jumawa dan melambai
Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, Tia sudah disambut oleh teriakan ibunya."Kamu ini kenapa membuat masalah terus sih, Tia!"Tia tidak menanggapi omelan ibunya. Kepalanya masih terasa pusing. Setelah membuka sepatu, ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa."Coba lihat ini!" Ibunya terus mengejar, menyodorkan layar tablet ke depan wajahnya.Ogah-ogahan, Tia melirik. Di sana terpampang beberapa foto yang membuatnya mengernyit.Foto dirinya di Club Sky Light. Ada foto saat ia sedang menari. Foto ketika berjalan sempoyongan. Dan yang paling parah, foto ketika tubuhnya yang setengah sadar tampak bersandar pada seorang pria asing yang membawanya keluar dari klub.Berarti inilah pria yang dikatakan ayahnya tadi.Setelah memperhatikan lebih saksama, Tia yakin pria inilah yang berbicara dengan Airin dan Amira di klub. Sialan memang dua sahabatnya itu."Sekarang jelaskan!" bentak ibunya kesal. "Siapa pria ini, Tia?" Tia mengangkat bahu lalu menguap lebar."Tia nggak kenal, Bu," sahutn
Sementara itu di ujung koridor lantai atas. Seseorang berdiri memperhatikan lift yang baru saja turun.Riffat Herlambang.Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Tatapannya tetap dingin dan tenang.Tidak menunjukkan emosi apa pun. Namun ketika angka pada layar lift terus bergerak turun menuju lantai dasar,sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia ternyum tipis namun cukup untuk menunjukkan kepuasan.Akhirnya setelah lima belas tahun berlalu ia bisa melihat wajah Aminuddin lagi. Wajah jahat dan dingin yang tega memfitnah kedua orang tuanya hingga menemui ajal dengan cara yang sangat tragis. Tidak satu hari pun sejak kejadian itu, ia bisa melupakan wajah kedua orang tuanya saat ajal menjemput.Takdir kini memberinya kesempatan untuk membalas semuanya. Ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu.Ponselnya bergetar. Salah seorang anak buahnya mengirim beberapa foto. Foto Aminuddin yang menyeret Tia keluar kamar hotel. Foto wartawan yang mengerubungi mereka. Foto Tia yang masih terli
Tia merasa dirinya sedang berenang di tengah lautan yang sangat luas. Suasananya gelap dan dingin. Ombak besar bergulung-gulung di sekelilingnya.Ia terus berenang. Namun daratan tak kunjung terlihat.Kedua tangannya pegal danKakinya mulai kram. Napasnya juga terasa sesak.Di atas kepalanya, awan hitam bergumpal menutupi langit.Petir menyambar silih berganti.Tia semakin ketakutan."Tolong..."Suaranya tenggelam ditelan badai. Lalu hujan mulai turun.Awalnya rintik-rintik kecil.Namun beberapa detik kemudian berubah menjadi hujan deras yang menghantam wajahnya tanpa ampun.Byur!Air dingin menerpa wajahnya.Sekali. Dua kali. Semakin deras dan semakin kuat. Tia berusaha membuka mata. Namun air terus menghantam wajahnya.Byur!"Bangun, Tia! Bangun!"Suara seseorang terdengar samar. Tia mengernyit.Suara itu terasa sangat familiar.Byur!Air kembali menghantam wajahnya."Kamu dengar Ayah tidak?!"Ayah? Tia tertegun.Kenapa suara ayahnya ada di tengah lautan?Byur!Kali ini air menghant







