/ Romansa / UNTAMED (Tak Tertaklukkan) / 5. Pertolongan Samaran.

공유

5. Pertolongan Samaran.

작가: Suzy Wiryanty
last update 게시일: 2026-06-21 19:08:44

Tia merasa dirinya sedang berenang di tengah lautan yang sangat luas. Suasananya gelap dan dingin. Ombak besar bergulung-gulung di sekelilingnya.

Ia terus berenang. Namun daratan tak kunjung terlihat.

Kedua tangannya pegal dan

Kakinya mulai kram. Napasnya juga terasa sesak.

Di atas kepalanya, awan hitam bergumpal menutupi langit.

Petir menyambar silih berganti.

Tia semakin ketakutan.

"Tolong..."

Suaranya tenggelam ditelan badai. Lalu hujan mulai turun.

Awalnya rintik-rintik kecil.

Namun beberapa detik kemudian berubah menjadi hujan deras yang menghantam wajahnya tanpa ampun.

Byur!

Air dingin menerpa wajahnya.

Sekali. Dua kali. Semakin deras dan semakin kuat. Tia berusaha membuka mata. Namun air terus menghantam wajahnya.

Byur!

"Bangun, Tia! Bangun!"

Suara seseorang terdengar samar. Tia mengernyit.

Suara itu terasa sangat familiar.

Byur!

Air kembali menghantam wajahnya.

"Kamu dengar Ayah tidak?!"

Ayah? Tia tertegun.

Kenapa suara ayahnya ada di tengah lautan?

Byur!

Kali ini air menghantam wajahnya begitu keras hingga membuatnya tersedak. Dan saat itulah matanya terbuka lebar.

Tia tersentak bangun. Ia batuk-batuk hebat dengan napas terengah-engah. Dadanya naik turun. Wajah dan lehernya basah. Air menetes-netes dari dagunya.

Butuh beberapa detik sebelum ia menyadari bahwa dirinya tidak berada di tengah lautan. Tidak ada badai. Apalagi hujan dan ombak. 

Yang ada hanyalah ayahnya yang berdiri tepat di depannya. Tangannya memegang botol air mineral yang sudah setengah kosong. 

"Akhirnya bangun juga kamu!"

Tia mengerjapkan mata berkali-kali. Pantas saja ia bermimpi sedang tenggelam.

Ternyata air hujan dalam mimpinya adalah air mineral yang disiramkan ayahnya ke wajahnya.

"Aduh!" Tia mendesis kesakitan.

Kepalanya berat dan pusing. Seperti ada seseorang yang memukul bagian belakang kepalanya berkali-kali.

Ia menatap kosong ke arah botol air mineral yang masih berada di tangan ayahnya. Lalu menatap wajah sang ayah yang memerah karena amarah.

"Ayah... ngapain di kamarku?" tanya Tia parau.

"Di kamarmu?" Pak Aminuddin membuang botol air mineral kosong ke lantai dengan kasar.

"Buka matamu lebar-lebar dan lihat kamu ada di mana!" amuknya sambil menarik keras lengan kanan Tia hingga terduduk. 

Dalam keadaan setengah sadar, Tia memandang sekeliling. 

Ini bukan kamarnya. Melihat dekorasi dan furniture, sepertinya ia berada di sebuah hotel. 

"Kok Tia bisa di sini, Yah?" tanyanya bingung. 

"Kamu tanya Ayah, terus Ayah tanya siapa, hah?" Pak Aminudfin memukul kepala ranjang.

"Ayah sedang bekerja waktu staf hotel menghubungi dan bilang kamu ada di sini. Dibawa dua orang laki-laki dewasa dalam keadaan mabuk."

Tia memeras ingatan. Perlahan ingatannya muncul satu persatu seperti potongan puzzle. Dimulai dari saat ia menari di Club Sky Light bersama Amira dan Airin. 

Ia ingat. Saat itu ia sedang menari bersama Airin dan Amira di dance floor. Di tengah keramaian, kedua sahabatnya itu terlihat mengobrol dengan dua pria asing. Tak lama kemudian mereka turun dari lantai dansa dan duduk bersama kedua pria tersebut.

Lalu Airin memanggilnya untuk beristirahat, sementara Amira menyodorkan sebotol air mineral.

Ia masih ingat jelas rasa air itu. Pahit dan aneh seperti obat. Namun Amira membantah dan mengatakan itu hanya perasaannya. Karena percaya pada mereka ia pun tetap meminumnya.

Beberapa menit kemudian pandangannya mulai kabur dan kepalanya pusing. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, ia sempat mengingat salah satu pria itu menggendongnya keluar dari klub. Sementara temannya mengikuti.

"Sialan!" Tia memaki geram. Ia sekarang sadar kalau Amira dan Airin telah menjebaknya!

Plak!

Tia merasa pipinya panas saat ayahnya menamparnya dengan keras.

"Berani beraninya kamu meneriaki Ayah sialan setelah ditemukan teler di hotel pada pukul dua pagi hah! Dasar anak tukang bikin malu!" 

Suara teriakan Pak Aminudin terdengar hingga keluar kamar.

Tia hanya bisa diam. Menjelaskan kebenarannya pun tidak ada gunanya. Ayahnya pasti tidak akan percarya. Lebih baik ia menanggung semuanya dalam diam.

"Kita pulang sekarang dan bicarakan semuanya di rumah. Ibumu sudah menunggu!" Pak Aminuddin mencengkeram lengan putrinya keras.

Tia meringis. Namun kali ini ia tidak melawan. Ia terlalu marah pada Amira dan Airin. Dasar sahabat tidak tahu diuntung.

Saat mereka keluar dari kamar, Tia terkesiap. Para wartawan sekonyong-konyong mengerumuni mereka. Entah dari mana mereka mendapat berita ini.

"Pak Aminuddin! Benarkah putri Anda ini sedang mabuk?" Seorang pewarta menyodorkan perekam.

"Apakah ada pesta tertutup di sini?" Seorang pewarta lain ikut bertanya.

"Apakah Tia mabuk karena mengonsumsi minuman terlarang?" Kali ini sebuah pewarta tabloid terkenal yang merangsek maju.

"Siapa pria-pria yang diamankan polisi tadi? Apakah mereka ada hubungannya dengan putri Bapak?" Pewarta tadi tidak mau menyerah meskipun ayahnya tidak mau menjawab.

"Bagaimana cara Bapak mendidik anak hingga dalam usia belia begini sudah mengenal dunia malam?" Pewarta sebuah stasiun televisi menyerobot ke samping.

Pertanyaan demi pertanyaan menghujani mereka. Tia yang masih belum sepenuhnya sadar menutup wajah dengan kedua tangannya.

Sebagai putri pengusaha terkenal, ia memang sering diwawancara. Namun tidak pernah dalam suasana kisruh seperti ini.

Pak Aminuddin memeluk bahu putrinya dan mendorong kerumunan wartawan dengan bahunya.

"Minggir semuanya! Minggir!"

Suara Pak Aminuddin menggema keras.

"Beri komentar sedikit saja, Pak!" Para wartawan terus mengejar. Namun petugas keamanan hotel segera membuka jalan. 

Pak Aminuddin membawa Tia menuju lift khusus. Pintu lift akhirnya tertutup. Menghalangi kerumunan wartawan yang masih berteriak dari luar.

"Apa yang akan dikatakan orang-orang saat para wartawan memberitakan bahwa kamu ditemukan di hotel pada pukul dua pagi dalam keadaan tidak sadarkan diri bersama dua pria dewasa?" bentak Aminuddin.

Urat di lehernya menonjol menahan amarah.

"Nama baik Ayah sebagai pengusaha yang selama ini dikenal religius dan dermawan bisa hancur dalam semalam! Begitu juga citra ibumu sebagai ketua yayasan anak-anak terlantar yang selama ini dihormati banyak orang."

Tatapannya menusuk tajam ke arah Tia.

"Kamu sudah merusak nama baik kami berdua, Tia!" amuknya lagi. 

"Tahukah kamu berapa lama kami membangun semua itu? Bertahun-tahun! Dan sekarang semuanya terancam runtuh karena ulahmu!"

Tia menatap ayahnya berani. Meski jantungnya berdebar kencang, ia tidak mengalihkan pandangan sedikit pun.

"Maksud Ayah nama baik yang Ayah dan Ibu bangun dari pencitraan?" tanyanya sinis.

"Kalau memang kenyataannya berbeda, itu namanya pembohongan publik, Yah?"

Wajah Pak Aminuddin seketika mengeras. Tatapan putrinya terasa seperti tamparan yang menelanjangi kemunafikan yang selama ini berusaha ia tutupi.

"Cukup!" bentaknya. Dengan gerakan cepat, ia mencengkeram dagu Tia hingga sang putri meringis kesakitan.

"Dengar baik-baik!" desisnya geram. "Selama kamu masih makan dari uang Ayah, tinggal di rumah Ayah, dan menikmati semua fasilitas yang Ayah berikan, jangan pernah berani menggurui Ayah!"

Cengkeramannya semakin kuat.

"Kamu cukup melakukan apa yang Ayah perintahkan. Mengerti?"

Tia menggigit bibirnya menahan sakit.

Beberapa detik kemudian, Pak Aminuddin melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga kepala Tia sedikit terhuyung ke belakang.

Pak Aminuddin mengembuskan napas panjang, berusaha mengendalikan amarah yang nyaris meledak lagi. Sikapnya harus terjaga baik di depan publik.

Tia tidak mengatakan apa-apa lagi. Kepalanya kembali berdenyut hebat. Efek obat yang belum sepenuhnya hilang membuat perutnya terasa mual dan tubuhnya lemas.

Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menahan rasa tidak nyaman yang semakin mengganggu.

Saat ini, yang ia inginkan hanyalah pulang. Membersihkan diri lantas tidur seharian.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   10. Teman Bajingan.

    Tia mengangkat alis."Ada apa, Bu?" tanya Tia heran.Bu Narti tidak menjawab namun ia duduk di kursi sebelah Tia.Tia semakin heran. Biasanya Bu Narti sangat sibuk melayani pembeli. Namun kali ini ia membiarkan Mbak Dewi sibuk sendiri."Maksud Bu Narti apa?" tanya Tia lagi. Ia penasaran.Wanita paruh baya itu menghela napas."Selama ini Ibu sulit bertemu kamu sendirian. Soalnya kalau ke sini Nak Tia selalu bersama dengan Airin dan Amira."Mendengar nama Airin dan Amira disebut, Tia makin penasaran. Namun ia tidak mengatakan apapun karena Mbak Dewi mengantarkan pesanannya."Memangnya kenapa, Bu?" tanya Tia sambil makan.Bu Narti tampak ragu sesaat.Namun akhirnya ia berkata pelan," Kamu jangan terlalu mempercayai mereka."Tia mengernyit. "Kenapa, Bu?""Karena mereka bukan teman yang baik."Tia langsung memandang Bu Narti lekat-lekat. Selera makannya mendadak hilang."Maksudnya?"Bu Narti menurunkan suaranya menjadi lebih kecil."Kamu tidak tahu kan kalau selama ini mereka sering ngomon

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   9. Curahan Hati.

    Ternyata apa yang dikatakan Ronald benar. Begitu sampai di ruang guru, Tia langsung melihat dua pria yang duduk di kursi tamu dekat meja Pak Aziz.Keduanya mengenakan pakaian sipil biasa.Tidak ada seragam polisi mau pun atribut kepolisian. Namun Tia langsung tahu kalau mereka bukan orang biasa. Postur dan bahasa tubuh keduanya yang kaku dengan rambut dipotong cepak, sudah mendeskripsikan profesi mereka.Saat Tia masuk, salah satu pria berdiri."Selamat pagi, Justitia Rahmadsyah?" tanyanya.Tia mengangguk. Pria itu mengeluarkan kartu identitas."Saya IPTU Ridwan."Pria di sampingnya ikut berdiri."IPDA Gultom."Pak Aziz yang sejak tadi mendampingi segera mempersilakan Tia duduk."Duduk, Tia. Pak polisi ini hanya ingin menanyakan beberapa hal," kata Pak Aziz menenangkan.Tia menarik kursi lalu duduk.Meski wajahnya terlihat santai, dalam hati ia sedikit gugup.Bagaimanapun juga, ini pertama kalinya ia dimintai keterangan oleh polisi.IPTU Ridwan membuka buku catatannya."Jangan takut.

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   8. Masalah Lagi.

    Tia baru saja turun dari mobil saat suara riuh rendah menyambutnya dari arah gerbang sekolah."Woho! Keren banget lo, Tia. Ratu sekolah kita sudah datangbteman-teman ayo beri jalan... beri jalan!"Tia mengangkat sebelah alisnya.Di belakang gerbang, belasan siswa sudah berkumpul seperti sedang menunggu artis besar.Clara dan Desy bahkan berdiri paling depan.Begitu melihat Tia, keduanya langsung mengacungkan dua jempol tinggi-tinggi."Gokil lo, Tia!" teriak Clara. "Nggak kaleng-kaleng!" sambung Desy heboh. "Habis teler langsung check in hotel! Lo emang cegil sejati. Ratu dugem se-Harapan Bangsa!" Tepuk tangan semakin riuh. Teman-teman yang lain ikut bersorak. Beberapa orang membuat gerakan menyembah ala tren media sosial yang sedang viral."Hormat kepada Ratu Sky Light!""Salam kepada Penguasa Hotel Paramount!""Hidup Justitia Rahmadsyah!"Tia meringis. Pasti foto-fotonya sudah tersebar di dunia maya. Namun ia tak menganggap itu masalah. Dengan santai ia tersenyum jumawa dan melambai

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   7. Masa Lalu.

    Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, Tia sudah disambut oleh teriakan ibunya."Kamu ini kenapa membuat masalah terus sih, Tia!"Tia tidak menanggapi omelan ibunya. Kepalanya masih terasa pusing. Setelah membuka sepatu, ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa."Coba lihat ini!" Ibunya terus mengejar, menyodorkan layar tablet ke depan wajahnya.Ogah-ogahan, Tia melirik. Di sana terpampang beberapa foto yang membuatnya mengernyit.Foto dirinya di Club Sky Light. Ada foto saat ia sedang menari. Foto ketika berjalan sempoyongan. Dan yang paling parah, foto ketika tubuhnya yang setengah sadar tampak bersandar pada seorang pria asing yang membawanya keluar dari klub.Berarti inilah pria yang dikatakan ayahnya tadi.Setelah memperhatikan lebih saksama, Tia yakin pria inilah yang berbicara dengan Airin dan Amira di klub. Sialan memang dua sahabatnya itu."Sekarang jelaskan!" bentak ibunya kesal. "Siapa pria ini, Tia?" Tia mengangkat bahu lalu menguap lebar."Tia nggak kenal, Bu," sahutn

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   6. Awal Bencana.

    Sementara itu di ujung koridor lantai atas. Seseorang berdiri memperhatikan lift yang baru saja turun.Riffat Herlambang.Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Tatapannya tetap dingin dan tenang.Tidak menunjukkan emosi apa pun. Namun ketika angka pada layar lift terus bergerak turun menuju lantai dasar,sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia ternyum tipis namun cukup untuk menunjukkan kepuasan.Akhirnya setelah lima belas tahun berlalu ia bisa melihat wajah Aminuddin lagi. Wajah jahat dan dingin yang tega memfitnah kedua orang tuanya hingga menemui ajal dengan cara yang sangat tragis. Tidak satu hari pun sejak kejadian itu, ia bisa melupakan wajah kedua orang tuanya saat ajal menjemput.Takdir kini memberinya kesempatan untuk membalas semuanya. Ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu.Ponselnya bergetar. Salah seorang anak buahnya mengirim beberapa foto. Foto Aminuddin yang menyeret Tia keluar kamar hotel. Foto wartawan yang mengerubungi mereka. Foto Tia yang masih terli

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   5. Pertolongan Samaran.

    Tia merasa dirinya sedang berenang di tengah lautan yang sangat luas. Suasananya gelap dan dingin. Ombak besar bergulung-gulung di sekelilingnya.Ia terus berenang. Namun daratan tak kunjung terlihat.Kedua tangannya pegal danKakinya mulai kram. Napasnya juga terasa sesak.Di atas kepalanya, awan hitam bergumpal menutupi langit.Petir menyambar silih berganti.Tia semakin ketakutan."Tolong..."Suaranya tenggelam ditelan badai. Lalu hujan mulai turun.Awalnya rintik-rintik kecil.Namun beberapa detik kemudian berubah menjadi hujan deras yang menghantam wajahnya tanpa ampun.Byur!Air dingin menerpa wajahnya.Sekali. Dua kali. Semakin deras dan semakin kuat. Tia berusaha membuka mata. Namun air terus menghantam wajahnya.Byur!"Bangun, Tia! Bangun!"Suara seseorang terdengar samar. Tia mengernyit.Suara itu terasa sangat familiar.Byur!Air kembali menghantam wajahnya."Kamu dengar Ayah tidak?!"Ayah? Tia tertegun.Kenapa suara ayahnya ada di tengah lautan?Byur!Kali ini air menghant

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status