Home / Romansa / UNTAMED (Tak Tertaklukkan) / 4. Balas Dendam Manis.

Share

4. Balas Dendam Manis.

Author: Suzy Wiryanty
last update publish date: 2026-06-21 19:07:45

Kedua staf mengangkat kepala serempak lalu memohon. 

"Saya mengaku salah, Pak. Tapi tolong, jangan pecat saya. Saya adalah tulang punggung keluarga. Bagaimana saya harus menghidupi anak istri?" Dengan tangan terborgol Dennis memohon-mohon pengampunan.

"Saya juga mengaku salah, Pak!" Lutfi ikut memohon. Bayangan menjadi pengangguran sementara banyak cicilan yang harus ia bayar menggentarkannya. 

"Saya tergiur kompensasi yang diberikan Pak Jason karena terhimpit ekonomi keluarga. Tolong, jangan pecat saya, Pak." Lutfi ikut menghiba.

"Masalah kalian bukan urusan saya," tukas Riffat dingin.

"Lagi pula mengapa kalian tidak memikirkan akibatnya sebelum terlibat dalam kejahatan?" 

Dennis dan Lutfi tidak bisa menjawab. Mereka hanya bisa menunduk makin dalam. Penyesalan tergambar jelas di wajah keduanya. 

Akhirnya Jason dan kedua mantan staf hotel itu digiring menuju lobi. Sementara Tia diperiksa oleh dokter yang difasilitasi oleh hotel. Orang tua Tia sedang dalam perjalanan ke hotel untuk menjemput putrinya.

Para tamu yang masih berada di area resepsionis seketika memandang ke arah polisi yang menggelandang tiga orang tersangka.

Di salah satu sofa lobi, Alvin yang sejak tadi menunggu kabar dari Jason refleks berdiri saat melihat rombongan itu. Wajahnya pucat seketika. Ia sudah bisa membaca situasi.

Jason yang panik spontan berteriak.

"Vin, tolongin gue!"

Alvin membeku. Tatapannya bertemu dengan mata para petugas kepolisian yang langsung menghampirinya.

"Saudara Alvin Wijaya?"

"Iya... tapi saya tidak tahu apa-apa." Alvin mengangkat kedua tangannya ke udara. 

"Nggak tahu apa-apa lo bilang?" Jason meradang. "Kan kita sama-sama menjebak Tia!" Jason membuka rahasia. Ia kesal karena Alvin ingin cuci tangan begitu saja.

"Anda ikut kami." Petugas itu memiting leher Alvin yang memberontak dan terus mengatakan kalau ia tidak tahu apa-apa. 

Salah satu petugas yang kesal memberi sebuah bogem mentah ke wajah Alvin. Barulah ia terdiam dan meringis kesakitan. Ia pun pasrah saat digiring keluar dari Hotel Paramount.

Beberapa karyawan berdiri dengan wajah pucat. Tak ada yang berani bersuara. Namun justru ketenangan itulah yang paling menakutkan. 

Sementara itu, Riffat tetap berdiri di lobi dengan kedua tangan di saku celana.

Tatapannya dingin menembus punggung mereka yang menjauh. 

Tak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahunan berlari tergesa memasuki lobi. Kemeja kerjanya kusut. Napasnya memburu. Pak Arsyad —Manajer Hotel Paramount. Sejak pagi ia memang tidak masuk kerja karena menemani istrinya yang sedang sakit dan harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit.

Baru beberapa menit lalu ia menerima telepon panik dari beberapa bawahannya yang mengabarkan bahwa polisi datang ke hotel dan pemilik hotel turun tangan langsung menangani sebuah kasus serius.

Begitu mendengar nama Riffat Herlambang disebut, Pak Arsyad segera meninggalkan rumah sakit dan bergegas menuju hotel.

Namun ternyata semuanya sudah terlambat.

Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya saat berdiri di hadapan sang pemilik hotel.

"Pak Riffat..." suaranya bergetar. "Saya minta maaf."

Riffat menoleh. Tatapan dinginnya membuat Pak Arsyad menunduk.

"Saya benar-benar minta maaf, Pak," lanjut Pak Arsyad. "Hari ini saya memang tidak berada di hotel karena istri saya sakit. Tapi tetap saja ini tanggung jawab saya. Saya lalai mengawasi anak buah saya."

Beberapa detik berlalu. Riffat tidak segera menjawab. Keheningan itu membuat Pak Arsyad semakin gugup. Ia takut sekali kalau Rifat mengetahui bahwa dalam 2 bulan terakhir ini ia sering sekali tidak masuk kerja. Istrinya bolak-balik masuk rumah sakit. Sehingga beban pekerjaan ia alihkan kepada  supervisor dan kepala divisi.

"Apa menurut Anda permintaan maaf bisa mengembalikan keadaan seperti semula?"

Suara Riffat terdengar datar. Namun setiap katanya terasa mengancam.

Pak Arsyad tercekat. "Tidak, Pak," jawabnya pelan.

"Tepat." Riffat mengangguk.

Riffat menatap seluruh area lobi sebelum kembali memandang manajernya.

"Anda digaji besar untuk menjalankan hotel ini."

Pak Arsyad menelan ludah.

"Dan sebagai manajer, tugas Anda bukan hanya duduk di belakang meja dan membaca laporan anak buah."

Nada suara Riffat tetap rendah.

Namun semakin lama semakin menekan.

"Anda harus tahu apa yang terjadi di hotel ini."

Pak Arsyad menunduk semakin dalam.

"Kalau ada tamu VIP masuk, Anda harus tahu. Kalau ada pelanggaran SOP, Anda harus tahu. Kalau ada staf yang bermain kotor, Anda adalah orang pertama yang harus tahu."

Setiap kalimat membuat wajah Pak Arsyad semakin pias.

"Saya mengerti, Pak." Dengan tubuh gemetaran Pak Arsyad terus mengangguk.

"Sayangnya, Anda baru mengerti setelah semuanya terjadi."

Lobi kembali sunyi.

Beberapa staf yang berada tidak jauh dari sana nyaris tidak berani bernapas.

Riffat menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Saya sudah memeriksa rekaman CCTV dan laporan keamanan."

Pak Arsyad mengangkat wajahnya perlahan.

"Anda memang tidak terlibat dengan Jason maupun Pak Denis dan Pak Lutfi."

Rasa lega sempat muncul di mata Pak Arsyad. Namun hanya sesaat.

"Anda tidak terlibat, karena Anda sering bolos kerja... setidaknya 2 bulan belakangan ini." 

Keringat dingin membanjiri kening dan tubuh Pak Arsyad. Kesalahannya mulai dikuliti. Satu persatu.

"Hal itu tidak membuat Anda bebas dari kesalahan."

Kalimat itu membuat tubuh Pak Arsyad menegang kembali.

Riffat menatapnya tanpa ekspresi.

"Anda gagal menjalankan SOP sesuai jabatan Anda."

Pak Arsyad menunduk lagi. Ia tahu tidak ada pembelaan yang bisa ia berikan. Karena semua yang dikatakan Riffat benar.

Jika pengawasan berjalan sebagaimana mestinya, kejadian seperti ini seharusnya tidak pernah terjadi.

"Oleh karena itu mulai hari ini," kata Riffat tegas, "Anda saya berhentikan dari posisi manajer Hotel Paramount."

Pak Arsyad memejamkan mata.

Meski sudah menduganya, tetap saja keputusan itu terasa menyakitkan. Sudah delapan tahun ia bekerja di hotel ini. Dan semuanya berakhir malam ini.

"Saya mengerti, Pak." Pak Arsyad menerima pemecatannya dengan lapang dada. Ia memang sudah melakukan kesalahan besar. 

Riffat mengangguk singkat lalu berkata," mengenai hutang Anda pada perusahaan."

Pak Arsyad menahan napas. Inilah yang ia takutkan. Tiga bulan lalu, istrinya menjalani operasi besar. Karena tidak mempunyai dana yang cukup, ia meminjam sejumlah uang yang cukup besar pada perusahaan. Kalau ia tidak bekerja, dari mana ia bisa melunasi hutangnya tersebut.

"Saya anggap lunas."

Pak Arsyad terdiam. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

"Selain itu, Anda tetap akan menerima pesangon sesuai hak Anda."

"Alhamdullilah," Pak Arsyad mengucap syukur. 

"Perusahaan memberi lebih, agar Anda bisa membuka usaha dan tetap menghidupi keluarga."

Mata Pak Arsyad mulai memerah.

"Pak Riffat... terima kasih." Suara Pak Arsyad bergetar.

"Saya benar-benar berterima kasih. Saya takut sekali tidak bisa membiayai keluarga lagi." Suara Pak Arsyad pecah.

Mendengar kata keluarga, untuk pertama kalinya ekspresi Riffat sedikit berubah. Bukan menjadi lebih lembut, melainkan lebih keras.

"Jangan berterima kasih kepada saya."

Pak Arsyad terdiam.

"Saya melakukan itu bukan untuk Anda. Tapi untuk istri dan anak-anak Anda."

Pak Arsyad membeku.

"Kesalahan Anda tidak seharusnya menjadi hukuman bagi mereka."

Air mata Pak Arsyad menetes. Selama bertahun-tahun bekerja, ia mengenal reputasi Riffat sebagai pemimpin yang keras dan tidak mengenal kompromi. Maklum saja, keluarga Herlambang adalah mafianya dunia malam.

Namun hari ini ia menyadari sesuatu. Riffat memang tidak mudah memaafkan kesalahan. Tetapi ia juga tidak pernah menikmati penderitaan orang lain.

"Atas nama keluarga, saya mengucapkan kasih, Pak," ucap Pak Arsyad lirih.

Kali ini sambil membungkuk dalam-dalam. Bukan sebagai bawahan kepada atasan. Melainkan sebagai seorang ayah yang tahu keluarganya baru saja diselamatkan dari kehancuran.

Riffat hanya mengangguk singkat. Lalu berjalan meninggalkan lobi. Sepasang sepatu kulitnya bergema pelan di lantai marmer yang mengilap.

Ia lalu meraih ponsel dan menekan sebuah kontak. Saatnya untuk menitahkan sesuatu yang sudah ia tunggu lama. Saat panggilan tersambung ia pun segera berbicara

"Segera sebar foto-foto tadi. Dimulai saat dia masuk ke club, mabuk dan dibawa ke hotel. Undang namun tidak kentara para awak media dari dunia entertainment."

Senyum simpul mengerikan terbit di bibir Riffat. Ia tahu besok pagi tanah air akan gempar dengan berita ; putri Aminuddin Rahmadsyah dan Astri Rahmadsyah teler dan check ini dengan seorang pria di hotel. Nama baik Aminuddin dan Astri pasti akan hancur. 

Pembalasan yang manis akan segera di mulai. Pelan-pelan saja... tapi mematikan!

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
waduuh... ternyata oh ternyata, pertolongan ny Riffat tidak tulus..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   30. Sahabat Sejati.

    Clara terdiam beberapa saat."Serius lo?""Iya. Dua rius malah." Menutupi kegugupannya Tia mencoba bercanda."Lo mau jual berapa?"Tia menelan ludah."Dulu gue beli sekitar dua puluh jutaan. Tapi sepatunya udah pernah gue pake beberapa kali sih. Kalau lo mau gue jual sepuluh juta aja deh."Untuk meyakinkan Clara, Tia memotret kotak sepatu, kondisi sepatunya, serta bukti pembelian yang masih ia simpan."Oke deh. Deal."Tia mengembuskan napas lega."Lo bisa transfer sekarang nggak? Nanti sore gue anter langsung sepatunya ke apartemen lo.""Bisa. Bentar ya."Tak lama kemudian, notifikasi mobile banking berbunyi. Tia langsung membukanya. Matanya membelalak. Jumlah uang yang masuk bukan sepuluh juta. Melainkan dua puluh juta rupiah.Tia buru-buru menelepon Clara lagi."Cla, lo transfernya kebanyakan!"Di seberang sana Clara malah tertawa."Nggak apa-apa. Gue lagi banyak duit. Lagian memang segitu kan harganya?""Tapi... gue nggak enak, Cla.""Gue-nya enak-enak aja kok. Udah ah, nggak usah

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   29. Mencari Jalan Terbaik.

    Tia langsung mematikan laptop saat mendengar pintu rumah terbuka. Ibunya pasti sudah pulang. Tia melongok ke bawah dari tingkat dua. Tebakannya benar. Ibunya sudah duduk di sofa.Dengar berlari-lari kecil Tia menuruni tangga. Ibunya tadi pergi ke rumah keluarga besar untuk meminta bantuan.Dua minggu lagi mereka sudah harus mengosongkan rumah. Tenggat waktu yang diberikan Riffat akan segera tiba. Ia menaruh harapannya besar pada kabar yang di bawa oleh ibunya. Semoga saja ibunya membawa berita baik. Tia berjalan ke dapur terlebih dahulu. Mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas lalu berjalan ke ruang tamu."Ini, minum dulu, Bu." Tia menyodorkan air dingin yang segera diteguk ibunya hingga separuh.Wajah ibunya tampak letih. Riasan tipis yang biasanya selalu sempurna, kini sudah luntur. Menyisakan gurat kelelahan yang sulit disembunyikan."Berhasil tidak, Bu?" tanya Tia harap-harap cemas.Ibunya menggeleng lemah."Tidak, Ti. Mereka semua kompak bilang tidak punya uang." Ibunya

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   28. Aku Takkan Menyerah!

    Tia merasa punggungnya mendadak dingin. "Apa maksud Anda, Pak Riffat?" Tia menyembunyikan kedua tangannya yang mulai gemetar ke saku jaket. Instingnya mengatakan ada masalah besar lain lagi di hadapannya. Riffat menoleh kepada pria berkacamata di sampingnya."Pak Haris. Perlihatkan dokumennya."Pak Haris mengeluarkan sebuah map lain dari dalam tas kerjanya. "Silakan dibaca dulu isi perjanjiannya." Pak Haris membuka map dan mendorong beberapa lembar kertas ke hadapan Bu Astri dan Tia."Ini adalah perjanjian pinjaman antara almarhum Pak Aminuddin dengan klien kami," imbuh Pak Haris.Dengan cepat Tia dan Bu Astri membaca baris pertama.Nominal pinjaman: lima milyar!Tangannya langsung gemetar."Li... lima miliar?" Suara Bu Astri bergetar. Tia mengepal tangannya makin erat di dalam saku. Jangan histeris, Tia. Jangan membuat laki-laki jahat ini tertawa puas di atas kehancuranmu. Tia merapal kata-kata itu bagai mantra di kepalanya. Pak Haris mengangguk."Benar. Ini adalah pinjaman pri

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   27. Serigala Berbulu Domba.

    "Jadi... kamu mau mengusir kami dari rumah kami sendiri, Rif?"Suara Bu Astri bergetar menahan amarah.Pagi itu genap satu bulan sejak suaminya dimakamkan. Riffat datang bersama seorang pengacara dan membawa setumpuk dokumen. "Rumah kalian sendiri?" Riffat mengangkat sebelah alisnya."Rumah ini sudah menjadi milik saya sekarang," ucapnya sambil menyilangkan kaki."Perlihatkan AJB-nya, Pak Haris." Riffat menoleh pada pengacaranya yang dengan sigap mendorong satu map ke atas meja."Ini adalah akta jual beli yang sudah ditandatangani oleh almarhum beberapa minggu sebelum beliau meninggal. Karena rumah ini merupakan harta pribadi Pak Aminuddin sebelum menikah dengan Ibu, penjualannya sah tanpa memerlukan persetujuan pasangan." Pak Haris menjelaskan prosedur sesuai hukum yang berlaku.Bu Astri memandang dokumen itu dengan napas memburu. Tangannya bergetar saat membaca AJB tersebut."Jadi, jangan bilang kalau saya mengusir kalian dari rumah kalian sendiri. Ini rumah saya," lanjut Riffat sa

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   26. Kisruh!

    Puluhan wartawan dan pemburu berita berdesakan memasuki lorong rumah sakit.Kamera mulai menyala. Lampu kilat berkelebat tanpa henti. Suasana mendadak kacau.Petugas keamanan rumah sakit segera menghadang mereka."Mundur semuanya! Mundur!""Cepat sekali mereka mendapat berita?" Ibunya mendecakkan lidah kesal. "Jadi bagaimana, Bu? Kita tunggu mereka pergi dulu atau bagaimana?" tanya Tia pelan.Ia melihat beberapa reporter terus merangsek dan mendorong pintu kaca. "Kita pelan-pelan jalan memutar saja. Mereka pasti tidak akan pergi sebelum mendapat berita," sahut ibunya lirih. "Maaf, semuanya harap mundur! Jangan membuat keributan! Silakan keluar dari area IGD!" Suara himbauan dari petugas keamanan kembali terdengar. "Ayo, kita keluar dari lorong itu saja, dan terus ke parkiran." Ibunya menunjuk koridor belakang rumah sakit. Dengan langkah cepat keduanya berjalan melintasi lorong-lorong rumah sakit yang temaram. Saat tiba di parkiran, mereka bermain kucing-kucingan dengan beberap

  • UNTAMED (Tak Tertaklukkan)   25. Kehilangan.

    Rasanya Tia baru saja memejamkan mata ketika suara gedoran keras membangunkannya."Tia! Tia, buka pintunya!"Gelagapan Tia terbangun dengan jantung berdebar. Ia langsung terduduk karena kaget. Gedoran kembali terdengar, kali ini lebih keras dan penuh kepanikan.Ia menyingkirkan selimut lalu bergegas membuka pintu.Di depan kamar, ibunya berdiri dengan wajah pucat. Ibunya sudah berganti pakaian berpergian dan sedang menangis."Ada apa, Bu?" tanya Tia bingung. "Ayahmu kecelakaan. Ganti pakaianmu sekarang. Kita harus ke rumah sakit. Ibu tunggu di bawah." Ibunya bergegas menuruni tangga.Refleks Tia menoleh ke arah jam dinding. Pukul 03.00 pagi. Ia segera berganti pakaian yang ringkas. Celana jeans dan jaket hoodie hitam. Setelah mencangklong tas ia berlari ke bawah. Ia tidak sempat berpikir bahkan bersedih. Mereka sedang memburu waktu.Lima menit kemudian, Tia menyetir membelah jalan. Di sampingnya ibunya duduk tegang dengan tatapan lurus ke depan. Sepanjang perjalanan, tak satu pun da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status