Masuk"Oh kamu. Setelah briefing ini selesai, temui saya di kantor.""Baik, Bu." Tia mengangguk patuh."Oke anak-anak." Mbak Christine bertepuk tangan. "Sekarang semuanya kembali ke posisi masing-masing. Semangat bekerja.""Siap, Mbak!"Aktivitas restoran pun mulai dibuka. Para waiter segera berpencar sesuai area tugas.Saat Tia berjalan menyusul Mbak Christine yang memberi kode padanya untuk ikut, ia berpapasan dengan dua rekan kerjanya Manda dan Elsa. Keduanya membawa nampan berisi gelas-gelas kristal."Awas, Els," ucap Manda dengan suara yang cukup keras untuk didengar Tia. "Kamu jangan sampai menyenggol waitress kesayangan Bos. Panjang nanti urusannya."Elsa langsung menimpali."Iya. Aku juga takut kali Nda, kalau nanti nasibku nanti kayak Mbak Amel." Elsa pura-pura bergidik."Ingat, pelindungnya walau udah bau tanah, tapi duitnya banyak."Keduanya tertawa kecil. Menertawakannya tepatnyaMuak terus terus disindir-sindir, Tia menghentikan langkahnya. "Iya, sebaiknya kalian hati-hati.
Keesokan paginya Tia kembali bekerja seperti biasa. Namun baru beberapa langkah memasuki area karyawan, ia langsung merasakan sesuatu yang berbeda.Beberapa rekan kerja yang berpapasan dengannya mendadak menghentikan obrolan. Ada yang menatapnya sekilas, lalu berbisik kepada rekan di sampingnya. Ada pula yang sengaja melirik dari ujung kepala hingga kaki sebelum berlalu sambil mencibir.Tia mengernyit bingung.Saat melewati dua orang waitress dari divisi lain, ia sempat mendengar kalimat yang sengaja dipelankan."Itu orangnya....""Oh, pantesan. Cantik juga sih. Pantes jadi ani-ani-nya kakek-kakek."Begitu Tia menoleh, keduanya buru-buru berjalan menjauh sambil tersenyum sinis.Tia mempercepat langkah menuju ruang ganti. Suasananya tak berbeda. Beberapa rekan kerjanya yang sedang merapikan seragam tampak menghentikan percakapan tepat ketika ia masuk. Salah seorang bahkan memandangnya dengan tatapan sinis sebelum membisikkan sesuatu kepada temannya. Tak lama kemudian mereka keluar sam
Suasana mendadak sunyi."Anak saya menghabiskan masa mudanya bersama laki-laki yang usianya dua kali lipat darinya. Kalau almarhum memberi mobil atau uang, itu adalah kompensasi yang mereka berdua sepakati. Ibu boleh membenci anak saya, tapi Ibu tidak punya hak mengambil barang yang secara hukum sudah menjadi miliknya."Setiap kalimat yang diucapkan Bu Melda memang getir. Namun apa yang ia katakan benar. Tanpa berkata apa-apa lagi, Tia menggenggam lengan ibunya."Ayo pulang, Bu.""Ibu nggak mau! Mobil itu milik ayahmu Tia!"Tia menarik napas panjang."Bu... cukup. Jangan membuat kita semua malu. Sudah ya, Bu."Suara Tia bergetar menahan tangis. Ia sungguh merasa lelah lahir dan batin. Bu Melda mengembuskan napas panjang. Amarah di wajahnya mulai mereda. Apalagi saat ia melihat Tia yang berjalan tertatih-tatih sambil menahan tubuh ibunya yang terus meronta. "Sebenarnya saya juga sudah menelepon Pak Usman," katanya pelan. "Saya kenal beliau karena dulu pernah beberapa kali datang k
Di dalam mobil pikap suasana terasa hening. Suara mesin mobil tua meraung pelan. Aroma amis telur yang masih tersisa memenuhi kabin.Karena mobil tidak memiliki pendingin udara, membuat Tia berkeringat. Ia menyeka pelipisnya diam-diam. Pasti wajahnya sekarang sudah kusam dan berminyak.Azzam melirik sekilas, lalu membuka kaca jendela."Maaf. Mobilnya nggak ada AC." "Nggak apa-apa."Jawaban Tia singkat.Angin sore menerpa wajah mereka, dalam suasana canggung. Beberapa menit berlalu tanpa ada yang berbicara sepatah kata pun.Tia akhirnya berdeham pelan."Jadi lo nanti jadi kuliah di mana?""BINUS.""Oh.""Gue dapet The Widya Scholarship."Tia menoleh sekilas."Yang beasiswa itu?""Iya." Azzam mengangguk. Kuliah gue ditanggung seratus persen. Dapet uang saku juga dari program CSR perusahaan mitra kampus."Tia mengangguk kecil."Pantes. Lo emang pinter kok."Azzam melirik Tia sekilas."Kalo lo, kuliah di mana?""Gue cuti dulu. Mau ngumpulin duit," jawabannya datar."Nanti kalau udah te
"Ngapain lo ke sini? Ini toilet khusus karyawan," desis Tia dengan suara tertahan. "Gue tahu. Gue cuma mau liat keadaan kaki lo aja. Silvia emang anjing banget!" Tony memaki kasar. "Udah, gue nggak apa-apa. Sana, lo balik ke depan."Tony menatapnya lekat-lekat."Iya, ntar gue ke depan. Tapi lo jawab dulu pertanyaan gue. Lo tinggal di mana sekarang?"Tia bungkam. Ia tidak mau mengharap belas kasihan Tony. Apalagi ia tidak mempunyai perasaan khusus padanya. Ia tidak mau memanfaatkan orang."Nomor lo juga udah nggak aktif. Sejak bokap lo meninggal dan lo pindah rumah, gue nyari-nyari lo. Tapi nggak pernah ketemu.""Gue... baik-baik aja," jawab Tia singkat.Tony menggeleng."Bukan itu jawaban dari pertanyaan gue."Tia berdecak pelan. "Gue lagi kerja sekarang, Ton. Lo ke depan aja. Tolong, jangan membuat gue kena masalah lagi."Melihat Tia yang berbicara serius dan ringisan kesakitan di wajahnya, Tony mengalah. "Gue pergi. Kalo lo butuh apa pun itu, telepon aja gue. Nomornya masih sama
Waktu telah menunjukkan pukul tiga sore. Seluruh staf banquet kembali berkumpul di ruang briefing.Di depan mereka, Bu Amel berdiri sambil memegang event order."Setelah ini kita akan menangani acara farewell party. Jumlah tamunya sekitar lima puluh orang," jelasnya. "Yang mengadakan acara akan kuliah ke luar negeri. Tamu-tamunya adalah anak SMA. Jangan anggap enteng. Biasanya tamu seusia mereka lebih heboh, banyak permintaan mendadak, dan suka memanggil waiter berkali-kali. Jadi kalian harus sigap.""Siap, Bu," jawab seluruh tim hampir bersamaan.Tia dan Mbak Lita ikut mengangguk. Tak lama kemudian, dekorasi ruangan selesai. Balon-balon berwarna pastel, rangkaian bunga segar, dan sebuah layar besar bertuliskan Bon Voyage, Silvia Maharani! menghiasi ballroom kecil Restoran Kenanga.Saat melihat nama itu, langkah Tia seketika terhenti. Jantungnya berdebar kencang.Silvia Maharani.Seperti nama teman sekelasnya sekaligus musuhnya selama tiga tahun di SMA. Silvia ini selalu ingin men







