LOGINRiley Thompson turned her deepest heartbreak into a successful career writing filthy, bestselling erotica. After catching her fiancé having sex with her cousin on their wedding day, she vowed never to let anyone close enough to hurt her again. Now she lives by her own rules: Pleasure without emotion, sex without strings attached. Only Mila, her fiercely loyal best friend and the one person who never abandoned her and has ever managed to slip past her walls. But when she meets Jayson Woods, wealthy, magnetic, and dangerously addictive — one reckless night of raw, mind-blowing sex shatters her boundaries. What begins as a no-strings fling quickly spirals into a secret, obsessive affair. As Riley dives deeper into a world of desire, blurred boundaries, and sexual exploration, the connection between her and Mila begins to shift into something neither of them can ignore. And while Jayson awakens Riley’s darkest cravings, it is Mila who slowly uncovers the fragile heart Riley has spent years trying to bury. Raw, emotional, and intensely intimate. This is a story about heartbreak, healing, self-discovery, and finding love in the one place Riley never expected
View MoreHAPPY READING!!!!
"Berani Lo rusak, satu jari Lo gue ambil."
*
BRUMMM....
BRUMMM....
BRUMMM....
Terdengar suara deru motor dengan knalpot bising saling sahut menyahut. Menggeber gas motornya sampai membuat malam yang seharusnya tenang menjadi ramai.
Semua orang yang berada disana melangkah cepat kepinggir jalan untuk menyaksikan dua motor yang sudah berada didepan garis start. Mereka saling sorak-menyoraki dan mendukung jagoannya masing-masing.
Dua motor berbeda warna itu dengan masing-masing pengendaranya mulai menyalakan mesin motornya yang membuat penonton di kanan dan kiri semakin bersemangat melihatnya.
"Lo liat aja, FA! malam ini, gue yang bakal menang." Kata si pengendara motor berwarna kuning cerah menengok kesebelahnya dan Tersenyum Sinis dibalik helm full face-nya.
Orang yang dipanggil FA itu menengok dan hanya menatap datar orang disebelahnya, namun sedetik kemudian ia tersenyum dengan menyipitkan sedikit matanya. "Ya." Sahutnya lalu kembali menghadap depan. "Dalam mimpi Lo." Batinnya
"Cih, bangsat!"
FA menengok ke sebelahnya dan kembali berkata, "Takut? Pulang sana!" Sindirnya.
"Gue takut?" Sahut si pengendara motor kuning lalu tertawa sinis. "Gue IL! Gue gak takut apapun atau siapapun itu. Camkan itu, bangsat!"
Seorang perempuan datang dari arah belakang dan berdiri dihadapan mereka dengan membawa sebuah bendera ditangannya.
"Kalian siap?"
BRUMMM....
BRUMMM....
BRUMMM....
Mereka menyahutinya dengan terus menggeber gas motornya.
" YOK FA SEMANGAT!"
"FA!"
" MENANGIN LAGI GAN!"
Bendera langsung diangkatnya ke atas, menandakan agar kedua pembalap itu bersiap-siap.
"Satu....."
"Dua......"
"Ti—"
"Woy!" Panggil seseorang dari pinggir jalan didepan mereka, tepatnya disebelah tempat berdirinya para penonton.
Semua orang disana menengok ke sumber suara saat merasa tak aing dengan suaranya. Mereka semua yang ada disana seketika terkejut saat melihat orang yang berdiri disana.
Seorang perempuan berhijab, dengan tinggi sekitar 158 cm sedang berdiri disana dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku jaket yang dipakainya dan menatap datar semua orang yang berada disana.
"Dia kan...."
"WOY! SUTTT!"
"Oh, Anak Biaksara?" Gumam perempuan berhijab itu.
Seorang laki-laki dengan mengunakan jaket Boomber coklat mendekat ke perempuan itu dan mencoba memasang ekspresi wajah santai, walaupun sebenarnya ia sedikit takut.
"Eh! Neng Ana, mau kemana? Ini udah malem loh, bahaya cewek malem-malem ada diluar. Nanti—"
Perempuan bernama Ana menengok dan menatap sinis orang didepannya. "Kalo mau balapan jangan disini. Ini daerah rumah gue. Jangan ganggu!" Kata Ana.
Bian menepuk jidatnya pelan. "Ah iya! Gue lupa, Na!" Cengirnya.
"Lo, ajak temen-temen Lo pergi dari sini." Suruh Ana.
"Tapi nang—"
Ana menghela nafasnya lalu mengeluarkan satu tangannya yang berada disaku jaketnya. Semua orang disana melangkah mundur, termasuk Bian. Saat melihat Ana mengeluarkan satu tangannya.
"Pergi gue bilang." Kata Ana dengan Nada memperingati.
"O-oke." Bian mundur dan menaiki motornya. "GUYS! CABUT!" Serunya dan langsung pergi dari sana disusul dengan yang lainnya. Beberapa penonton disana juga mulai membubarkan diri.
"Ck, aneh." Gumam Ana lalu kembali memasukkan tangannya kedalam saku jaketnya. "Huh ... Dingin!" Lanjutnya lalu melangkah pergi dari sana.
Disanq tinggal satu motor yang masih terparkir. Sedangkan, motor-motor yang lainnya sudah p3rgi entah kemana. Sang pengendara itu—FA. Masih duduk di atas motornya tanpa berniat pergi dari sana seperti yang lainnya. Ia menatap punggung Ana yang melangkah pergi semakin jauh sampai tak terlihat lagi dari pandangan matanya.
"Siapa dia?" Batinnya.
*
Ana melangkahkan kakinya pelan, ia bersenandung kecil dan hanya menatap datar ke jalan yang tampak sepi.
"Kenapa mereka kayak pada takut pas ngeliat muka gue ya? Apa muka gue seserem itu?" Gumamnya lalu mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya.
23.50 WIB
"Mampus gue!" Mata ana melotot seketika saat melihat jam di ponselnya. Ia segera menyimpan ponselnya dan berlari cepat kerumahnya.
Sekedar informasi....
SMA Biaksara, sekolah Ana saat ini. Ia baru saja memasuki semester 1 dikelas 11. Jika bertanya kenapa semua anak Biaksara yang berkumpul di sana langsung melangkah mundur saat melihat Ana. Jawabannya hanya Satu.
Mereka merasa ngeri saat melihatnya. karena, pada saat Ana kelas 10 semester genap. Ia sering menyendiri dan membuat teman-teman sekelasnya membully-nya dan dia hanya diam.
FLASHBACK ON
Ditahun pertamanya memasuki SMA, Ana hanya menghabiskan waktunya untuk menyendiri di sekolah, tanpa berniat mencari teman satu pun. Dan itulah yang membuatnya sering di bully dengan teman sekelasnya maupun dengan kakak kelas disekolahnya.
Bukan karena ia jelek, kumel atau apapun. Hanya saja, karena ia lumayan cantik, walaupun pendek ia bisa membuat hampir semua siswa yang ada disekolah merasa Iri dengannya dan berakhir dengan membully-nya.
"Woy babu!"
"Woy kacung!"
"Woy cantik!—eh.."
Suatu ketika, saat Ana sedang duduk didepan kelasnya sembari membaca buku ditangannya. Ia melirik sedikit saat merasakan ada orang yang datang kearahnya. Ya, orang-orang itu teman-teman sekelas dan juga beberapa kakak kelasnya. Mereka Berdiri dihadapannya seraya bersedekap dada dan menatap Ana didepannya.
"Woy babu! Gue Laper. Beliin gue makan!" Kata salah satu diantara orang-orang itu.
"..." Ana menghiraukannya dan membalik halaman berikutnya di novel yang sedang dibacanya.
"Sialan si babu! Ngacangin gue Lo, Hah?!" Tanya cewek itu emosi dan menarik dagu Ana kasar agar melihat kearahnya.
"Apa?" Tanya Ana santai.
"Wah.... Wah..."
"Mulai berani si babu!"
"Kasih pelajaran aja!"
"Asiikkk!"
"Ambil novelnya!" Titah cewek itu.
Ana hanya diam dan menatap datar cewek didepannya. Cewek itu melepas cengkraman di dagunya lalu mengambil novelnya dari temannya sembari tersenyum sinis kearahnya.
"Kayaknya Lo suka banget baca ya?" Tanyanya. "Kira-kira bakal gue apain yang ini buku?" Ana menatap tajam orang didepannya yang sedang membolak-balik novelnya yang baru saja ia beli.
"Apa gue bakar aja ya?" Tangan Ana mengepal saat mendengarnya. Orang yang berbicara seperti itu, justru tersenyum sinis saat melihat ekspresi wajah Ana yang berubah.
"Berani Lo rusak, satu jari Lo gue ambil." Ana beranjak dari tempatnya.
Cewek itu menutup mulutnya dan tertawa meledek saat mendengar ana berbicara seperti itu. "Uuuu... Takuttttt..." Tawanya disusul dengan teman-temannya yang lain.
"Ja—" Mata Ana melotot saat melihat orang didepannya yang sudah memegang korek api gas dan mulai menyalahkan dengan mengarahkan kearah novelnya.
WHOOS...
Novelnya terbakar dan langsung dilemparnya ke kebawah lalu mereka semua tertawa meledek Ana.
Ana mencengkeram baju orang didepannya itu dan menyeretnya ke tengah lapangan. Dia melipat sedikit ujung seragamnya dan memakai handban ditangan kirinya. Tangannya menunjuk ke semua teman-teman cewek itu satu persatu.
"Kalian maju!" Katanya santai.
"Lo—"
KRAK!
Ana memukul tengkuknya Sampai orang itu pingsan, lalu menyeretnya ke tepi lapangan. "Lo biar jadi yang terakhir," Katanya sembari berjongkok dan Tersenyum miring.
"Maju!" Seru Ana yang membuat semuanya Langsung maju secara bersamaan.
Tak sampai 10 Menit, Semua orang disana Langsung pada tepar saat melawan Ana yang hanya sendirian. Semuanya, ya... Semua, cowok maupun cewek dihajarnya sembari melampiaskan rasa marahnya.
Segerombol cowok yang baru saja datang dari arah kantin terkejut saat melihat orang-orang yang pada merintih kesakitan dan tertidur dilapangan.
"Weh.... Ada apa ini???"
"B-bian bantu hajar dia!" Kata salah satu dari mereka yang masih sadar, menunjuk kearah Ana.
"Lah, ngapain gue harus ngehajar dia njir? Dia cewek woy!" Sahut Bian. "Lah kalian pada kenapa dah?!" Tanyanya.
"Dihajar dia pastinya lah goblog!!" Sahut Arka— salah satu teman Bian.
"WAGELASEH!"
Tanpa aba-aba mereka maju dan berniat membalas Ana yang hanya diam dan melirik singkat kearah mereka.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
KRAK!
KREK!
Ana membersihkan tangannya setelah semua orang itu tepar ditempat. Termasuk Bian dkk. Ia meninggalkan sebuah kertas dengan tulisan berukuran besar di tengah lapangan. Lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas.
Ia mengalahkan semua orang yang suka mengganggu ketenangannya, tidak perduli mau Pitu cowok ataupun cewek. Singkatnya, dia mengalahkan semuanya yang kebanyakan laki-laki disana kalah dengannya. Dan itu yang membuat dia takut, atau disegani? Disekolahnya
'Pastiin buat ganti novel gue!'
Tulisnya dikertas yang berada diletakkannya ditengah lapangan.
Besoknya ia dipanggil BK disaat berita tentang dirinya yang menghajar 1/4 orang disekolahnya dipasang di masding dan membuat geger guru-guru dan juga orang tuanya.
FLASHBACK OFF
*
Kira-kira begitulah....
Btw, ceritanya muter-muter gak sih?
—TO BE CONTINUE—
❈❈ Mila Pov ❈ ❈My mother was staring at me like I just told her I killed somebody. “So let me get this straight,” she said, voice already that sharp, judgmental tone. “You’re in a video. A sexual video. With your best friend. Riley Thompson. The girl who’s been coming to this house since you were fourteen.” I didn’t say shit. There was nothing to say that wouldn’t make it worse. “And you’re… what, exactly?” my dad asked from across the room. Dude barely ever spoke during these talks. Today he was locked in. Today he was disappointed as hell. “She’s bisexual, obviously,” my mom said for me. “Or lesbian? I honestly don’t even know anymore. Everything is so fluid these days.” The way she said “fluid” like it was a fucking disease. “It’s not about labels,” I said quietly. “I love them. Both of them. It’s not that complicated.” “Not that complicated?” She stood up. “Mila, it’s extremely complicated. You’re having a sexual relationship with a woman. Your best friend. And apparentl
❈ ❈ Riley Pov ❈ ❈ I was nervous as fuck. Like, actually nervous. Not the fake "I'm so fine" nervous I usually put on. Real, stomach-twisting, hands-shaking, nervous. I stood in the middle of our bedroom. Its our bedroom now, since the three of us had started sharing more nights than not — while Jayson and Mila moved around me like they were setting up for something sacred.Candles were already lit. Soft R&B was playing low in the background. The sheets were clean and pulled back. Everything looked intentional. Soft. Safe.I hated how much I liked that."You good?" Mila asked, stepping in front of me. She was already in a black lace bra and boy shorts, looking like she belonged on a damn billboard. She reached up and brushed a strand of hair behind my ear. "Talk to me, babe."I swallowed. "I'm… yeah. I'm good. Just—""Just what?" Jayson said from behind me. His voice was calm, low. He was shirtless, black sweatpants hanging low on his hips. He rested his hands lightly on my shoulde
❈ ❈ Jayson Pov ❈ ❈ I had been staring at my phone for the past twenty minutes.My father's contact was right there. I kept pulling it up and then closing it. Riley and Mila were in the living room giving me space, knowing this was something I needed to do alone.The thing was, I'd already made my decision. I'd already told Cassie. I'd already started the legal process of taking Thomas down. I'd already built a life with Riley and Mila that felt more real than anything I'd ever had before.But I still cared what my father thought. And that pissed me off.I took a breath and called him.He picked up on the second ring."Jayson," he said, his voice all business. "I was just about to call you. I need to talk to you about the quarterly reports—""Dad, I need to tell you something," I cut him off.There was a pause. My father didn't like being interrupted. He liked control. He liked things running smoothly and predictably."What is it?" he asked, and I could hear the edge in
[ Riley pov]Mila had been thinking about this for a while.She'd mentioned it casually like a week ago — something about wanting to try restraints, wanting to feel controlled. But the way she said it made it clear it wasn't casual. It was something she'd been fantasizing about.So here we were, on friday night. The three of us in our bedroom with the door locked and our phones on silent."So like, I have to be honest," Mila said, and she was nervous. I could see it in the way her hands were shaking slightly. "I'm a little scared.""Scared of what?" Jayson asked."Scared I won't like it," she said. "Like I'm gonna feel trapped, and my anxiety is gonna kick in and I'll freak out.""Then we stop," I said simply. "If anything feels wrong, we gon stop babe.No judgment and no questions asked.”"Promise?" she asked."Promise," Jayson said.She nodded and took a breath. "Okay," she said. "Let's do this."Jayson had bought silk restraints. Not the harsh rope type. Someth
Days blurred together after we got back home. Not bad blurred—just heavy. We were talking again, really talking, but not about the obvious thing. We'd sit up late over coffee that went cold, or I'd find Dave already at the kitchen table when I came down in the morning, like he'd been awake for hou
I woke up to gray light bleeding through the curtains we forgot to close last night. My body felt destroyed in that specific way—sore in places that reminded me exactly what happened, muscles aching from positions and exertion I wasn't used to. The room was quiet except for the air conditioner's lo
The next few days were a strange mix of tension and tentative excitement.Claire and Ryan. Mid-thirties, experienced swingers. Their photos were tasteful but clear: Claire with sultry curves, dark hair falling past her shoulders, a wicked smile that suggested she knew exactly what she wanted; Ryan
The hotel suite smelled like fresh linen and expensive candles when the four of us stepped inside. It was one of those high-end downtown places with floor-to-ceiling windows overlooking the city lights stretching out like a map of possibility, a massive king bed positioned perfectly to catch the gl







![SOLD TO BE THE BILLIONAIRES WIFE [ENGLISH]](https://yfbwww.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.