LOGIN“Lalu selanjutnya yang bertanding adalah…” ucap Yuze terjeda.“Mingmei melawan Lien Hua!”Mendengar namanya dipanggil, Mingmei melangkah maju. Ia menggenggam busur dengan tenang, sementara Lien Hua berjalan dari sisi berlawanan.“Mohon bimbingannya,” ucap Lien Hua sambil memberi hormat.Mingmei membalas hormat, “Begitu juga denganku.”Keduanya berdiri di posisi masing-masing. Kali ini pertandingan dimulai dengan lemparan buah, mengelilingi lapangan dan terakhir menembak papan target diam. Beberapa buah kembali dilemparkan ke udara.“Mulai!”Lien Hua segera menarik busurnya.Wush!Sebuah anak panah melesat dan mengenai buah pertama tepat di tengah.“Bagus!” seru beberapa murid.Namun, Mingmei tidak terburu-buru. Tatapannya mengikuti gerakan buah yang terus berputar di udara.Tangannya perlahan menarik tali busur.Swish!Anak panah melesat dan menembus buah kedua sebelum buah itu sempat jatuh.Lien Hua mengerutkan kening, ia tidak menyangka kemampuan Mingmei akan setara dengan para muri
“Dia membelah anak panah sebelumnya?”“Li Xinhua!” kesal Bei Chen.Lian Wei hanya mengedikan bahunya acuh, hal itu membuat jiwa persaingan dalam diri Bei Chen bangkit.Lalu mereka kembali menembak papan target itu kembali. Anak panah Lian Wei menembus hingga masuk ke papan target. Setengah bagiannya menusuk kedalam papan target.Semua yang melihat hal itu sangat terkejut dengan kejadiannya. Seorang murid mencoba menarik anak panah itu keluar namun terlalu sulit.Lian Wei berjalan dan mengambil anak panah itu dengan santai dan satu gerakan.“Apa begitu sulit menariknya keluar?” tanya Lian Wei tnapa ekspresi apapun.Mingmei hanya tersenyum puas melihatnya.“Ini belum seratus persen kekuatan yang dikeluarkan,” ucapnya pelan, namun hal itu membuat Xie Nian dan Xue Yan menoleh padanya.“Apa?”“Kenapa?” tanya Mingmei pada keduanya.“Kau bilang ini belum seratus persen kekuatannya?” tanya Xie Nian.“Memang seberapa kuat dia?” tanya Xue Yan.“Kalian akan tahu sendiri nanti,” jawab Mingmei.Ke
“Li Xinhua, apa kau mau menjadi murid inti terakhirku? Guru sendiri yang akan mengajarimu berlatih.”“Guru… murid sungguh merasa terhormat karena diberi kesempatan menjadi murid inti Anda.”“Hahaha baguslah kalau begitu,” ucap senang Adipati Xinxi.“Tapi guru, kenapa anda memilihku?”“Guru melihat banyak potensi darimu, sepertinya kau tidak perlu belajar di akademi karena pengalamanmu sudah banyak. Namun kau tetap masuk kesini walaupun kau sudah memiliki banyak ilmu.”“Guru…”“Guru hanya tua, tapi bukan guru tidak bisa melihat potensi dalam dirimu Li Xinhua.”“Tidak. Guru tidak tua, guru tetap yang paling tampan dan gagah di akademi ini,” ucap Lian Wei lalu mengambil teh untuk memberikan teh pada Adipati Xinxi untuk menerima hubungan murid dan guru ini.Adipati Xinxi menerima teh itu dan meminumnya, setelah meminumnya ia meletakan cangkir teh itu di atas meja.“Kalau begitu guru akan mengumumkan kepada semua orang, bahwa kau adalah murid terakhirku.”“Guru bisakah anda mengumumkan ha
“Besok pagi, datanglah ke Menara Tianji.”“Guru Besar…” salah seorang murid senior berseru pelan karena terkejut.Namun Adipati Xinxi telah berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan para murid yang saling berpandangan dengan wajah penuh kebingungan.Mereka tidak menyangka, seorang murid yang baru sehari memasuki akademi itu kembali menarik perhatian Adipati Xinxi untuk kedua kalinya.“Li Xinhua, sebenarnya apa yang Guru Besar lihat darimu yang tidak kami liaht? Kenapa sepertinya guru sangat tertarik padamu?”“Aku juga tidak tahu kakak senior.”“Li Xinhua, kau orang yang beruntung. Selama ini tidak ada satupun murid yang diundang masuk ke Menara Tianji, bahkan kami para murid inti pun hanya bisa mengetuk pintunya,” ucap Luo Yang.“sudah ayo kita berendam.”“Kakak duluan saja, aku mau keluar dulu,” ucap Lian Wei menghindari mandi bersama para seniornya.Lian wei berjalan tidak tentu arah. Ia hanya terus berjalan mengitari akademi. Sebenarnya tujuan utama dia adalah menjari jalan rahasi
Matahari mulai condong ke barat ketika Lian Wei duduk di bawah rindangnya pohon pinus. Di tangannya terbuka sebuah buku, seolah ia sedang membacanya dengan saksama. Namun, yang sebenarnya ia perhatikan bukanlah isi buku tersebut, melainkan selembar peta Akademi Adipati Xinxi yang diselipkan di antara halaman-halamannya sebagai penyamaran agar tidak menarik perhatian orang lain.Ujung jarinya, ia menelusuri setiap jalur yang tergambar.‘Asrama murid baru berada di sisi timur... Aula Pengajaran di tengah... Paviliun Kitab Suci di utara…’ gumamnya dalam hati.Tatapannya berhenti pada sebuah tanda berbentuk kolam.‘Kolam Mata Air Giok. Hanya murid dalam dan para tetua yang diizinkan memasukinya?’Di samping nama kolam itu terdapat catatan kecil.‘Airnya mengandung energi spiritual alami yang dipercaya sebagai kolam mandi para dewa, yang membantu memulihkan kelelahan dan mempercepat penyerapan qi dalam tubuh.’Lian Wei mengangguk pelan.“Tidak heran akademi dibangun di atas urat nadi spiri
Adipati Xinxi menatap lama kedua mata bening Lian Wei.“Li Xinhua... matamu mengingatkanku pada seorang teman lama.”Lian Wei sedikit terkejut. Ia tidak mengenal pria itu, apalagi teman yang dimaksudnya. Namun, dari sorot mata Adipati Xinxi, ia dapat merasakan kerinduan yang begitu dalam, seolah kenangan puluhan tahun lalu kembali hidup hanya karena sepasang mata yang serupa.Sesaat kemudian, Adipati Xinxi menghela nafas pelan. Ekspresinya kembali datar seperti semula.“Mungkin hanya kebetulan.”Ia mengalihkan pandangannya dari Lian Wei, lalu berbalik menghadap seluruh murid baru.Pada saat yang sama, Kepala Akademi melangkah maju dan menangkupkan kedua tangan.“Guru Besar, izinkan saya menyampaikan pengumuman kepada para murid baru.”Adipati Xinxi mengangguk tipis sebelum mundur beberapa langkah.Kepala Akademi memandang seluruh peserta dengan wajah serius.“Tradisi akademi kami dalam proses penerimaan murid baru adalah dengan diadakannya lomba keahlian untuk menentukan kalian layak
“Li Mayleen, adik kecil yang juga ganas. Kau salah membangunkan singa tidur,” ucap Lian Wei pelan.“Tabib Luo, katakan pada Kaisar bahwa aku mengonsumsi ini dan tunjukkan bukti ini pada Kaisar. Ingat hanya kalian berdua saja yang ada dalam obrolan itu.”“Kau harus menyampaikan ini langsung, katakan
“Pangeran kau…? Tadi kau pergi untuk membeli lentera ini?”“Iya, ayo kesana,” ajaknya.Setelah sampai di tempat berkumpulnya orang melepas lampion, Wang Xuemin memberikan kuas pada Lian Wei.“Buat permintaanmu, aku akan membuat disisi yang lain. Lalu kita akan menerbangkannya bersama.”Lian Wei men
“Bukankah lebih baik Yang Mulia berhati-hati saat mengancamnya?”Deg…Xiuhuan langsung menegang, beberapa pejabat bahkan pucat.Xiuhuan menoleh pada Lian Wei dan memberi tanda untuk tidak melanjutkan perkataannya.“Orang yang bisa membangun jaringan sebesar itu tanpa bantuan istana, jelas bukan ora
“Kau tidak apa?” tanya Wang Xuemin.Lian Wei menoleh dan mendapati Wang Xuemin di sampingnya.Lian Wei ingin menjawab tidak apa-apa, namun dadanya terasa sesak saat melihat Xiuhuan mengabaikannya dan menyuruhnya untuk mengalah.‘Kenapa seolah aku sudah sering menerima perlakuan ini?’‘Apakah mungki







