Share

BATAS YANG RUNTUH

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-06-04 20:26:45

​Matahari pagi mulai naik tinggi, sinarnya menembus celah gorden dan menyinari kamar hotel mewah itu. Renjana mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mengusir sisa pening yang menggelayuti kepalanya.

Ingatannya langsung berputar pada kejadian dini hari tadi. Setelah rentetan pertanyaan menjijikkan dari suaminya di telepon, Renjana langsung mematikan sambungan itu secara sepihak. Tindakan itu begitu spontan, dipicu oleh kepanikan karena ia melihat Naren tiba-tiba saja bangkit dari sofan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   LATIHAN BERUJUNG

    Renjana tertegun, pandangannya berbinar kagum. ​"Ini di mana, Ren?" tanyanya lagi. ​Naren duduk bersandar pada tiang, dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. ​"nyonya suka?" tanyanya lembut. ​Renjana menoleh, lalu ia mengangguk. ​"Tentu Naren, bahkan suamiku tak pernah memberikanku kejutan semanis ini," pekiknya tak bisa mengontrol rasa bahagianya itu. ​"Saya sudah membaca komentar para pengikut Nyonya terlebih dahulu dan dugaan saya benar, Nyonya akan disuruh mengecilkan berat badan," ucapnya membuat Renjana tertegun. ​"Ren..." ​Naren menghela napas panjang, bangkit berjalan melewati Renjana. ​"Nyonya sudah pas ideal, namun karena Nyonya jarang olahraga, jadi saya akan mengajarkan Nyonya gerakan dan trik agar membuat tubuh lebih menonjol seperti saya," ucapnya membalikkan badan, menatap Renjana dengan tatapan tegas namun lembut. ​Di depan Renjana banyak sekali alat-alat gym yang bahkan Renjana sendiri tak tahu kapan sang pelayannya ini mempersiapkan semuany

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   DIAMANA?

    ​Renjana memejamkan mata saat bibir keduanya bertemu, napas Naren mulai terdengar berat. ​"Kamu jangan khawatir, mulai saat ini saya akan melindungimu apa pun yang terjadi," bisiknya di sela-sela lumatan Naren, membuat Renjana membeku. ​"Apa maksudmu, Naren?" tanya Renjana gugup. Namun bukannya menjawab, Naren mengangkat tubuh itu lalu mendudukkannya di atas kursi ruang tamu itu, dengan suasana gelap temaram membuat keduanya semakin terhanyut dalam gairah terlarang itu. ​"Anggap saja aku milikmu sekarang!" tegasnya sambil kembali membenamkan wajahnya pada kedua belah dada Renjana. ​Spontan Renjana mendongak ke atas, mendesah pelan. Tangannya meremas kuat rambut Naren, merasakan sesuatu yang luar biasa pada tubuhnya. ​"Naren... shh... ahh..." desahnya sambil berusaha menghentikan aksi sang koki itu. ​Naren mendongak naik ke atas, mengunci pergerakan Renjana. ​"Apa maksudmu? Kamu milikku? Tidakk, kamu bukan milikku, kamu ada yang punya, perempuan tadi! Jangan menjadi pria brengs

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   JANGAN LAMA LAMA

    Sudah dua hari Renjana menjalani hari-harinya dalam tekanan. Terlebih, Andra tak henti-hentinya menyinggung kesalahpahaman yang terjadi beberapa waktu lalu. "Kamu, sih. Gara-gara ulahmu, orang itu jadi ragu buat kerja sama. Untung saja nggak ada yang merekamnya!" ketus Andra sambil menatap Renjana dengan sorot mata tajam. Di tengah suasana yang menyesakkan itu, sosok yang selama dua hari terakhir terus memenuhi pikirannya tiba-tiba muncul di ruang tamu. "Maaf, Tuan. Saya baru sampai. Tadi jalanan macet," ucap Naren. Pria itu mengenakan hoodie berwarna gelap. Rambutnya tersisir rapi seperti biasa, membuat pandangan Renjana tanpa sadar tertahan padanya. ​ ​Ada apa ini, kenapa aku bisa tersipu saat menatapnya dengan penampilan seperti itu? batinnya, berusaha membuang muka, apalagi saat Naren sengaja menoleh ke arahnya. ​"Naren, untuk setahun ini saya beri kamu libur tiga hari saja, keadaannya kacau. Saya sudah memberi tahu publik jika Renjana hamil, sebisa mungkin buat di

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   SALAH SASARAN

    ​"Apa-apaan kamu, sayang? Jangan begini, kita bisa jadi sorotan publik!" ucap Andra setengah berbisik. Tangannya mencengkeram lengan Renjana, berusaha sekuat tenaga menahan emosi yang sudah berada di ubun-ubun dan hampir meledak saat itu juga. ​Air mata Renjana luruh seketika, membasahi pipinya yang kian memucat. Tatapannya tertuju lurus pada sosok perempuan cantik yang duduk di hadapan suaminya. Dada Renjana naik-turun menahan sesak yang mendadak menghimpit. ​Melihat situasi yang memanas, perempuan itu segera merapikan berkas-berkas di atas meja dengan kikuk. "Mbak Renjana, tolong jangan salah paham. Saya... saya hanyalah sekretaris yang diutus untuk menemui Pak Andra, tidak lebih," jelas perempuan itu dengan nada panik, membuat Renjana seketika terdiam kaku di tempatnya berdiri. ​"Apa itu benar? Lalu kenapa harus di tempat seperti ini..." suara Renjana bergetar, menuntut kejelasan. ​"Renjana, meeting itu tidak harus selalu di kantor!" sela Andra cepat, memotong kalimat ist

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   SIAPA DIA MAS?!

    ​"Ah, itu... Naren masih libur," sela Nonik, merasa aneh. ​"Kenapa kamu malah menanyakan dia, bukannya menanyakan suamimu?" desis Bianca tajam, membuat Renjana langsung kelabakan sendiri. ​Melinda yang melihat interaksi dan wajah Renjana yang sejak tadi gelisah, mulai merasa ada yang janggal. Namun, dia memilih diam hingga akhirnya panggilan video itu terputus. ​"Hahhh..." Renjana menghela napas lega. Dia seolah baru bisa bernapas bebas setelah pasokan udara di sekitarnya sempat terasa menghilang. ​"Jana," panggil Melinda dengan tatapan menyipit. ​Renjana menoleh. ​"Jadi, kamu beneran hamil?" ​Renjana terdiam sesaat, kemudian mengangguk patah-patah. ​"Syukur deh, akhirnya kamu akan jadi seorang ibu," ucap Melinda dengan senyum yang terasa berbeda—seolah Renjana sedang tidak melihat sosok Melinda yang dulu dikenalnya. ​Namun karena tidak mau menambah beban pikiran, Renjana menerima ucapan selamat itu dengan anggukan kecil yang canggung. ​Aneh, ada apa dengan Melin

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   KECEPLOSAN

    ​"Ceritakan... kenapa kamu bisa hamil, Renjana? Bukannya Andra..." ​Melinda sengaja menjeda kalimatnya, merasa tak enak hati untuk melanjutkan. ​Keduanya sekarang sedang berada di pinggir kolam halaman rumah Melinda. Setelah Andra pergi, mereka berdua memutuskan masuk ke dalam area perumahan elit tersebut. ​Renjana tersenyum tipis. Ya, Melinda tahu jika Renjana memiliki suami yang mandul. Tak ada yang tahu rahasia itu kecuali dirinya dan Melinda. ​"Aku..." Renjana menggantung kalimatnya. Kali ini, entah ada perasaan aneh apa, seolah hatinya mulai sulit memercayai sosok yang berada di depannya itu. ​Melinda menatap Renjana dalam diam, menunggu perempuan itu mengatakan hal yang membuat dirinya penasaran. Bahkan, wajah Melinda terlihat begitu panik. ​Tapi, kenapa harus panik? batin Renjana curiga. ​"Apa, Jana? Katakan saja!" desak Melinda, mulai tak sabar setelah menunggu beberapa detik namun Renjana tak kunjung melanjutkan penjelasannya. ​"Ah, gak apa-apa, Mel. Mungkin

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   TAK ADA PILIHAN

    Mendengar perintah gila suaminya kepada pria di hadapan mereka membuat jantung Renjana seolah berhenti berdetak sesaat. Tubuhnya mendadak sedingin es. ​Bukan hanya Renjana yang terguncang, Naren pun tak kalah terkejut. Pria itu menegang, berusaha mencerna kalimat yang baru saja lolos dari mulut at

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   "HAMILI ISTRI SAYA!"

    ​"Mas, apa maksudmu? Pekerjaan baru apa yang mau kamu berikan pada dia?" Renjana langsung menyela. Bibirnya bergetar hebat, firasat buruknya kian menjadi-jadi. ​Andra menoleh, menatap tajam ke arah sang istri. "Sopan begitu, menyela suami yang sedang bicara dengan orang lain?!" desisnya, membuat R

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   TOPENG

    Mata Renjana tampak kosong, memandang layar ponselnya. Ia tengah menyaksikan tayangan hasil wawancara yang dia lakukan bersama Andra, suaminya, dua hari lalu untuk kepentingan promosi brand. ​Di dalam video wawancara itu, Andra maupun Renjana terlihat layaknya pasangan suami istri yang bahagia dan

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   KATA KATA MENYAKITKAN

    ​ ​Andra menatap Renjana dari atas sampai bawah, menelisik sosok yang berdiri kaku di hadapannya itu dengan pandangan menghina. ​"Mau kemana kamu?" tanya Andra dingin. Pria itu sama sekali tidak merasa bersalah atau khawatir dengan kondisi sang istri yang tampak kacau. ​Renjana menelan ludah k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status