Home / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 42: Sangat Penasaran

Share

Bab 42: Sangat Penasaran

last update publish date: 2026-05-14 14:00:03

Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam legam baru saja berhenti tepat di lobi utama mansion Rossi. Begitu pintu terbuka, atmosfer pulau yang hangat dan lembap seketika digantikan oleh hawa dingin serta kaku dari bangunan megah itu.

Gia melangkah turun dengan perasaan yang campur aduk; tubuhnya masih merasakan sisa-sisa kelelahan dari perjalanan helikopter, namun batinnya sudah kembali waspada saat melihat barisan pengawal berpakaian hitam yang berdiri tegak menyambut mereka.

Belum sempat Gia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yes! Please, Daddy   Bab 160

    Gia tetap tenang seraya menatap Albert yang tampak tidak sabar ingin melihat Marco segera tiba di sana.Ketegangan di dalam ruangan itu merayap naik, namun Gia menolak memberikan kepuasan emosional pada penculiknya.Pikirannya tetap bekerja dingin di balik raut wajahnya yang tidak menampakkan ketakutan, menakar setiap reaksi psikologis dari pria tua di hadapannya.Albert mendengus kasar, lalu merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel taktis berenkripsi miliknya.Jemarinya menekan tombol perekam dengan sentakan penuh amarah. Albert kembali mengirim pesan suara pada Marco yang memberitahu bahwa waktunya sudah hampir habis."Tiga jam telah berlalu, Rossi! Dan istrimu yang sedang mengandung ini berada di ujung laras senjataku. Jika kau tidak menampakkan batang hidungmu di koordinat yang sudah kukirimkan dalam waktu sembilan jam ke depan, aku akan memastikan kau menerima mayatnya dalam potongan-potongan kecil!" teriak Albert ke arah mikrofon ponselnya sebelum memutus rekaman secara sepiha

  • Yes! Please, Daddy   Bab 159

    Beberapa jam kemudian, Gia membuka matanya secara perlahan. Kesadarannya kembali dengan rasa pening yang luar biasa di bagian belakang kepalanya. Dia mengerjapkan mata berulang kali, mencoba menyesuaikan penglihatan dengan intensitas cahaya yang sangat minim. Lalu tersentak saat menyadari dirinya sudah berada di sebuah gedung gelap kosong dan sangat pengap. Udara di sekitarnya berbau debu, semen kering, dan karat besi yang menyengat.Gia mencoba menarik tangannya secara refleks untuk memeriksa perutnya, namun gerakannya tertahan. Kedua pergelangan tangannya ternyata sudah diikat kencang dengan tali nilon tebal di balik sandaran kursi besi yang didudukinya. Rasa perih langsung menjalar di kulitnya saat dia memaksa bergerak. Dia mencoba menggerakkan bagian bawah tubuhnya, namun hal yang sama terjadi pada kakinya; terikat kuat pada kaki-kaki kursi."Di mana aku?! Lepaskan aku, sialan! Siapa kalian?! Keluar!" teriak Gia. Suaranya bergema kaku di dalam ruangan kosong berukuran luas t

  • Yes! Please, Daddy   Bab 158

    Gia berdiri di depan kompor listrik di dapur menara Rossi yang luas.Tangan kanannya memegang sudit kayu, perlahan mengaduk makaroni di dalam panci yang airnya mulai mendidih.Rasa lapar yang mendadak menyerang di tengah malam membuatnya tidak bisa memejamkan mata, memaksanya untuk turun dari ranjang empuk di lantai atas.Dia kemudian melirik jam dinding digital yang terpasang di atas kulkas dua pintu.Layar kecil itu menunjukkan pukul dua pagi. Sudah dua jam berlalu sejak suaminya pergi meninggalkan menara bersama unit taktis untuk menghancurkan pangkalan Albert."Apakah kau baik-baik saja di sana, Marco?" gumam Gia pelan.Dia menghela napasnya dengan berat, meletakkan sudit kayu di atas tatakan, lalu menoleh ke kanan dan kiri untuk memindai area koridor yang terhubung langsung dengan dapur.Keadaan di rumah itu sangat sepi, menciptakan atmosfer mampat yang tidak seperti biasanya. Hanya ada suara desis air mendidih dari panci di depannya."Apakah mereka semua ada di ruang bawah tanah

  • Yes! Please, Daddy   Bab 157

    "Rossi sialan! Bajingan keparat!" teriak Albert dengan serak dan meninggi, dipenuhi dengan getaran dendam yang teramat pekat.Teriakan Albert di rumahnya membuat ruangan itu langsung menggema.Dia memaki Marco karena sudah berani menghancurkan markas miliknya, pusat dari seluruh kejayaan dan otoritas yang telah dia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun.Kedua tangannya mencengkeram tepi meja kayu ek besar di tengah ruangan hingga buku-buku jarinya memutih kaku.Matanya memerah, dipenuhi guratan urat darah yang menegang, mencerminkan bagaimana amarahnya menggebu-gebu di dalam dada.Tekanan darahnya meningkat drastis, membuat Albert stres setengah mati karena ulah Marco yang sama sekali tidak dia duga akan seekstrem ini.Kehilangan markas utama bukan sekadar kehilangan bangunan fisik, melainkan sebuah hantaman telak yang melumpuhkan sebagian besar kekuatan taktisnya dalam satu malam.Di sudut ruangan dekat pintu yang tertutup rapat, seorang anak buahnya berdiri dengan tubuh be

  • Yes! Please, Daddy   Bab 156

    SUV hitam dan kendaraan komando bergerak tanpa lampu di sepanjang perimeter luar markas Albert, memanfaatkan kabut malam di perbatasan utara untuk menyamarkan pergerakan taktis mereka.Suasana di sekitar target begitu sunyi, hanya menyisakan desau angin dingin yang menusuk tulang.Marco merunduk di balik sisa-sisa dinding beton tua yang berjarak beberapa puluh meter dari pagar pembatas luar.Tangan kanannya memegang erat perangkat komunikasi yang menempel di telinganya, sementara mata abu-abunya bergerak konstan memindai setiap sudut halaman markas musuh."Rio, laporkan posisimu," suara Marco merendah, hampir seperti bisikan mati di tengah keheningan."Tim tengah sudah berada di fondasi utama, Tuan," suara Rio terdengar berdersek pelan melalui earpiece."Kami sedang memasang beberapa bom di sudut-sudut struktural markas tersebut. Sensor termal mereka berhasil kami kelabui dengan perangkat pengacau sinyal."Sementara Marco mengawasi situasi di sana dengan saksama dari balik tempat berl

  • Yes! Please, Daddy   Bab 155: Persiapan yang Matang

    Marco memberi perintah pada Rio sebelum mereka meluncur ke markas Albert.Mereka berdiri di samping SUV hitam yang mesinnya sudah menyala, terparkir di area steril lobi bawah tanah menara Rossi.Suasana mampat dan dingin, hanya menyisakan deru mesin dan aroma bensin.Marco menepuk pundak pria tua itu, memberi interupsi pada Rio agar mengelilingi markas itu dengan bom yang telah mereka siapkan di dalam koper taktis."Pasang C-4 di setiap pilar penyangga luar, Rio," perintah Marco. "Jangan ada satu pun celah yang terlewat. Aku ingin gedung itu runtuh ke dalam begitu pelatuk diledakkan."Rio mengangguk paham dan menjelaskan apa saja yang akan dia lakukan di sana untuk meminimalisir deteksi sensor musuh."Saya akan membagi tim menjadi tiga titik, Tuan. Dua orang di sektor barat untuk memutus kabel generator, dua di timur sebagai pengecoh, dan sisanya memasang perimeter peledak di fondasi utama," urai Rio taktis sembari mengencangkan sabuk amunisinya."Semua akan selesai dalam waktu empat

  • Yes! Please, Daddy   Bab 73: Tubuh Indah itu Mengacaukan Pikiran Marco

    Gaun malam yang dipilihkan oleh Marco akhirnya melekat di tubuh ramping Gia, sebuah mini dress dengan potongan yang sangat rendah di bagian dada dan punggung, jatuh menggantung beberapa senti di atas lutut, serta dilapisi glitter berwarna abu-abu yang berkilau mewah di bawah lampu kamar.Setiap kal

  • Yes! Please, Daddy   Bab 45: Rahasia Tentang Luka di Tubuh Marco

    Gia menatap Rio dengan pandangan yang menusuk, tidak membiarkan pria itu berpaling sedikit pun. Cahaya bulan yang pucat menyinari wajah Rio, mempertegas gurat-gurat kecemasan yang selama ini dia sembunyikan di balik topeng loyalitasnya pada klan Rossi.Gia bisa merasakan bahwa benteng pertahanan pr

  • Yes! Please, Daddy   Bab 36: Harga untuk Tetap Hidup

    Jari-jari Gia gemetar saat dia hampir menyentuh pinggiran luka jahitan yang masih kemerahan itu. Pikirannya berputar liar, menghubungkan titik-titik kejadian seminggu terakhir.“Luka ini ... jadi ini alasan kau menghilang tiga hari tanpa kabar tempo hari?” gumam Gia sangat pelan, hampir seperti bis

  • Yes! Please, Daddy   Bab 35: Luka Jahitan yang Belum Kering

    Sisa-sisa gairah yang meledak semalam masih meninggalkan jejak panas di udara, bercampur dengan aroma kayu pinus yang terbakar pelan di dalam perapian. Mereka tidak pernah sampai ke tempat tidur yang empuk di lantai atas. Tubuh mereka yang kelelahan akhirnya menyerah di atas permadani bulu tebal t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status