Share

Bab 157

last update publish date: 2026-07-18 23:29:40

"Rossi sialan! Bajingan keparat!" teriak Albert dengan serak dan meninggi, dipenuhi dengan getaran dendam yang teramat pekat.

Teriakan Albert di rumahnya membuat ruangan itu langsung menggema.

Dia memaki Marco karena sudah berani menghancurkan markas miliknya, pusat dari seluruh kejayaan dan otoritas yang telah dia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun.

Kedua tangannya mencengkeram tepi meja kayu ek besar di tengah ruangan hingga buku-buku jarinya memutih kaku.

Matanya memerah, dipenu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yes! Please, Daddy   Bab 157

    "Rossi sialan! Bajingan keparat!" teriak Albert dengan serak dan meninggi, dipenuhi dengan getaran dendam yang teramat pekat.Teriakan Albert di rumahnya membuat ruangan itu langsung menggema.Dia memaki Marco karena sudah berani menghancurkan markas miliknya, pusat dari seluruh kejayaan dan otoritas yang telah dia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun.Kedua tangannya mencengkeram tepi meja kayu ek besar di tengah ruangan hingga buku-buku jarinya memutih kaku.Matanya memerah, dipenuhi guratan urat darah yang menegang, mencerminkan bagaimana amarahnya menggebu-gebu di dalam dada.Tekanan darahnya meningkat drastis, membuat Albert stres setengah mati karena ulah Marco yang sama sekali tidak dia duga akan seekstrem ini.Kehilangan markas utama bukan sekadar kehilangan bangunan fisik, melainkan sebuah hantaman telak yang melumpuhkan sebagian besar kekuatan taktisnya dalam satu malam.Di sudut ruangan dekat pintu yang tertutup rapat, seorang anak buahnya berdiri dengan tubuh be

  • Yes! Please, Daddy   Bab 156

    SUV hitam dan kendaraan komando bergerak tanpa lampu di sepanjang perimeter luar markas Albert, memanfaatkan kabut malam di perbatasan utara untuk menyamarkan pergerakan taktis mereka.Suasana di sekitar target begitu sunyi, hanya menyisakan desau angin dingin yang menusuk tulang.Marco merunduk di balik sisa-sisa dinding beton tua yang berjarak beberapa puluh meter dari pagar pembatas luar.Tangan kanannya memegang erat perangkat komunikasi yang menempel di telinganya, sementara mata abu-abunya bergerak konstan memindai setiap sudut halaman markas musuh."Rio, laporkan posisimu," suara Marco merendah, hampir seperti bisikan mati di tengah keheningan."Tim tengah sudah berada di fondasi utama, Tuan," suara Rio terdengar berdersek pelan melalui earpiece."Kami sedang memasang beberapa bom di sudut-sudut struktural markas tersebut. Sensor termal mereka berhasil kami kelabui dengan perangkat pengacau sinyal."Sementara Marco mengawasi situasi di sana dengan saksama dari balik tempat berl

  • Yes! Please, Daddy   Bab 155: Persiapan yang Matang

    Marco memberi perintah pada Rio sebelum mereka meluncur ke markas Albert.Mereka berdiri di samping SUV hitam yang mesinnya sudah menyala, terparkir di area steril lobi bawah tanah menara Rossi.Suasana mampat dan dingin, hanya menyisakan deru mesin dan aroma bensin.Marco menepuk pundak pria tua itu, memberi interupsi pada Rio agar mengelilingi markas itu dengan bom yang telah mereka siapkan di dalam koper taktis."Pasang C-4 di setiap pilar penyangga luar, Rio," perintah Marco. "Jangan ada satu pun celah yang terlewat. Aku ingin gedung itu runtuh ke dalam begitu pelatuk diledakkan."Rio mengangguk paham dan menjelaskan apa saja yang akan dia lakukan di sana untuk meminimalisir deteksi sensor musuh."Saya akan membagi tim menjadi tiga titik, Tuan. Dua orang di sektor barat untuk memutus kabel generator, dua di timur sebagai pengecoh, dan sisanya memasang perimeter peledak di fondasi utama," urai Rio taktis sembari mengencangkan sabuk amunisinya."Semua akan selesai dalam waktu empat

  • Yes! Please, Daddy   Bab 154: Eksekusi Final

    Di pagi harinya, aroma gurih sup ayam dengan sayuran organik dan roti gandum panggang memenuhi ruang makan menara Rossi.Marco meletakkan mangkuk keramik berisi sup hangat itu tepat di depan Gia, lengkap dengan segelas susu almon.Tangannya yang dipenuhi bekas luka taktis bergerak cekatan, merapikan sendok dan garpu untuk istrinya.Usai membuatkan sarapan yang sehat dan bergizi untuk Gia, Marco duduk di kursi seberang meja.Dia langsung membentangkan sebuah tablet taktis yang menampilkan cetak biru pangkalan logistik Albert di perbatasan utara."Makan sarapanmu, Gia," buka Marco, suaranya bariton namun melembut saat menatap perut datar istrinya."Sembari kau makan, aku akan menjelaskan semuanya tentang taktik rencana untuk menghancurkan Albert agar mereka bisa hidup dalam damai setelah ini."Gia menyendok supnya perlahan, matanya tidak lepas dari titik-titik koordinat di layar tablet."Jadi, serangan gorong-gorong semalam hanyalah pembuka?""Benar. Jalur bawah tanah itu sengaja aku gu

  • Yes! Please, Daddy   Bab 153: Menjanjikan Kedamaian untuk Gia

    Marco memasuki kamar utamanya dan melihat Gia sudah tidur dengan nyenyak di tempat tidur.Langkah kaki tegapnya tidak mengeluarkan suara sedikit pun di atas karpet beludru abu-abu.Kamar itu remang-remang, hanya diterangi oleh pendar lampu tidur di sudut ruangan yang memantulkan bayangan samar pada wajah pucat istrinya.Marco menghela napasnya dengan panjang menatap Gia yang tampak damai dalam tidurnya.Dia melepaskan jaket kulit taktisnya yang berbau mesiu dan menggantungnya kaku di dekat pintu, menyisakan kemeja hitam yang melekat ketat di tubuh bidangnya.Sambil melangkah mendekat ke tepi ranjang, dia bergumam pada dirinya sendiri betapa beruntungnya dia memiliki Gia di hidupnya, wanita kuat yang kini tengah mengandung penerus darah dagingnya.Namun, setelah penyerangan ini berlangsung, apakah Marco akan pulang dengan selamat?Pertanyaan taktis itu mendadak menghantam dinding logikanya, mengingat Albert telah menyiapkan unit tempur terbaik untuk menghancurkan klan Rossi malam ini.

  • Yes! Please, Daddy   Bab 152: Rencana Penyerangan Albert

    Rio menghampiri Marco yang sedang merancang pengiriman di beberapa titik yang telah menjadi wilayahnya di dalam ruang taktis bawah tanah.Lembaran peta digital dan maket pelabuhan selatan terhampar di atas meja besi, menyala terang di bawah lampu neon yang dingin. Langkah kaki Rio terdengar tergesa, memecah kesunyian mampat ruangan yang dipenuhi bau mesiu dan perangkat keras militer."Tuan Marco," panggil Rio lalu mengambil posisi tegak di seberang meja taktis. Wajah tuanya tampak kaku dengan sorot mata yang mengisyaratkan bahaya mutlak."Garis pertahanan luar kita mendeteksi pergerakan ilegal. Mata-mata yang dikirim oleh saya ke markas Albert memberitahu bahwa mereka akan melakukan penyerangan berskala besar pada markas kita malam ini juga."Marco tidak langsung mendongak. Jemari kokohnya masih menggeser beberapa pin taktis elektronik di atas layar meja."Berapa banyak personel yang dikerahkan Albert?" tanyanya kemudian."Dua unit komando utama The Sword, lengkap dengan artileri ring

  • Yes! Please, Daddy   Bab 30: Penolakan Sang Monster

    Pintu kayu jati itu terbuka dengan dentuman pelan saat Gia melangkah masuk tanpa permisi. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu meja tunggal yang menciptakan bayangan panjang dan tajam di dinding.Di tengah keheningan yang menyesakkan, Marco duduk di balik meja besarnya, dikelilingi oleh tumpukan

  • Yes! Please, Daddy   Bab 29: Suami dengan Kelainan

    Gia menghentakkan kaki ke lantai marmer dengan geram, menimbulkan suara dentingan hak sepatu yang menggema tajam di seluruh ruangan.Dia menarik napas panjang, merasakan sesak di dadanya yang bukan karena gaun sutra ketat itu, melainkan karena harga dirinya yang baru saja diinjak-injak tanpa ampun.

  • Yes! Please, Daddy   Bab 27: Memancing sang Iblis

    Ruang makan mansion Rossi yang biasanya terasa megah kini berubah menjadi kotak es yang menyesakkan. Gia duduk di ujung meja panjang, sementara Marco berada di sisi lain, menciptakan jarak yang terasa seperti bermil-mil jauhnya.Denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar begi

  • Yes! Please, Daddy   Bab 24: Intruksi sang Penguasa

    “Kau sedang bersenang-senang dengan kartuku, Gia?” ucap Marco di seberang sana terdengar sangat tenang, bahkan terlalu tenang hingga menciptakan getaran mengerikan di gendang telinga Gia. Tidak ada nada kemarahan, hanya otoritas mutlak yang terasa dingin.Gia mencengkeram ponsel itu lebih erat, ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status