Home / Romansa / Yes! Please, Daddy / Bab 9: Kepatuhan yang Mutlak

Share

Bab 9: Kepatuhan yang Mutlak

last update publish date: 2026-04-28 21:35:23

Cahaya matahari yang masuk dari balik celah gorden membuat Gia mengerang. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari pinggang hingga ke ujung kaki.

Tubuhnya terasa remuk, seolah baru saja dihantam oleh beban berat selama berjam-jam. Terutama di bagian pangkal pahanya; ada denyut ngilu yang konsisten, mengingatkannya pada kekejaman yang terjadi di atas ranjang ini semalam.

Gia membuka mata perlahan dan mendapati Marco sudah berdiri di depan cermin besar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yes! Please, Daddy   Bab 159

    Beberapa jam kemudian, Gia membuka matanya secara perlahan. Kesadarannya kembali dengan rasa pening yang luar biasa di bagian belakang kepalanya. Dia mengerjapkan mata berulang kali, mencoba menyesuaikan penglihatan dengan intensitas cahaya yang sangat minim. Lalu tersentak saat menyadari dirinya sudah berada di sebuah gedung gelap kosong dan sangat pengap. Udara di sekitarnya berbau debu, semen kering, dan karat besi yang menyengat.Gia mencoba menarik tangannya secara refleks untuk memeriksa perutnya, namun gerakannya tertahan. Kedua pergelangan tangannya ternyata sudah diikat kencang dengan tali nilon tebal di balik sandaran kursi besi yang didudukinya. Rasa perih langsung menjalar di kulitnya saat dia memaksa bergerak. Dia mencoba menggerakkan bagian bawah tubuhnya, namun hal yang sama terjadi pada kakinya; terikat kuat pada kaki-kaki kursi."Di mana aku?! Lepaskan aku, sialan! Siapa kalian?! Keluar!" teriak Gia. Suaranya bergema kaku di dalam ruangan kosong berukuran luas t

  • Yes! Please, Daddy   Bab 158

    Gia berdiri di depan kompor listrik di dapur menara Rossi yang luas.Tangan kanannya memegang sudit kayu, perlahan mengaduk makaroni di dalam panci yang airnya mulai mendidih.Rasa lapar yang mendadak menyerang di tengah malam membuatnya tidak bisa memejamkan mata, memaksanya untuk turun dari ranjang empuk di lantai atas.Dia kemudian melirik jam dinding digital yang terpasang di atas kulkas dua pintu.Layar kecil itu menunjukkan pukul dua pagi. Sudah dua jam berlalu sejak suaminya pergi meninggalkan menara bersama unit taktis untuk menghancurkan pangkalan Albert."Apakah kau baik-baik saja di sana, Marco?" gumam Gia pelan.Dia menghela napasnya dengan berat, meletakkan sudit kayu di atas tatakan, lalu menoleh ke kanan dan kiri untuk memindai area koridor yang terhubung langsung dengan dapur.Keadaan di rumah itu sangat sepi, menciptakan atmosfer mampat yang tidak seperti biasanya. Hanya ada suara desis air mendidih dari panci di depannya."Apakah mereka semua ada di ruang bawah tanah

  • Yes! Please, Daddy   Bab 157

    "Rossi sialan! Bajingan keparat!" teriak Albert dengan serak dan meninggi, dipenuhi dengan getaran dendam yang teramat pekat.Teriakan Albert di rumahnya membuat ruangan itu langsung menggema.Dia memaki Marco karena sudah berani menghancurkan markas miliknya, pusat dari seluruh kejayaan dan otoritas yang telah dia bangun dengan susah payah selama bertahun-tahun.Kedua tangannya mencengkeram tepi meja kayu ek besar di tengah ruangan hingga buku-buku jarinya memutih kaku.Matanya memerah, dipenuhi guratan urat darah yang menegang, mencerminkan bagaimana amarahnya menggebu-gebu di dalam dada.Tekanan darahnya meningkat drastis, membuat Albert stres setengah mati karena ulah Marco yang sama sekali tidak dia duga akan seekstrem ini.Kehilangan markas utama bukan sekadar kehilangan bangunan fisik, melainkan sebuah hantaman telak yang melumpuhkan sebagian besar kekuatan taktisnya dalam satu malam.Di sudut ruangan dekat pintu yang tertutup rapat, seorang anak buahnya berdiri dengan tubuh be

  • Yes! Please, Daddy   Bab 156

    SUV hitam dan kendaraan komando bergerak tanpa lampu di sepanjang perimeter luar markas Albert, memanfaatkan kabut malam di perbatasan utara untuk menyamarkan pergerakan taktis mereka.Suasana di sekitar target begitu sunyi, hanya menyisakan desau angin dingin yang menusuk tulang.Marco merunduk di balik sisa-sisa dinding beton tua yang berjarak beberapa puluh meter dari pagar pembatas luar.Tangan kanannya memegang erat perangkat komunikasi yang menempel di telinganya, sementara mata abu-abunya bergerak konstan memindai setiap sudut halaman markas musuh."Rio, laporkan posisimu," suara Marco merendah, hampir seperti bisikan mati di tengah keheningan."Tim tengah sudah berada di fondasi utama, Tuan," suara Rio terdengar berdersek pelan melalui earpiece."Kami sedang memasang beberapa bom di sudut-sudut struktural markas tersebut. Sensor termal mereka berhasil kami kelabui dengan perangkat pengacau sinyal."Sementara Marco mengawasi situasi di sana dengan saksama dari balik tempat berl

  • Yes! Please, Daddy   Bab 155: Persiapan yang Matang

    Marco memberi perintah pada Rio sebelum mereka meluncur ke markas Albert.Mereka berdiri di samping SUV hitam yang mesinnya sudah menyala, terparkir di area steril lobi bawah tanah menara Rossi.Suasana mampat dan dingin, hanya menyisakan deru mesin dan aroma bensin.Marco menepuk pundak pria tua itu, memberi interupsi pada Rio agar mengelilingi markas itu dengan bom yang telah mereka siapkan di dalam koper taktis."Pasang C-4 di setiap pilar penyangga luar, Rio," perintah Marco. "Jangan ada satu pun celah yang terlewat. Aku ingin gedung itu runtuh ke dalam begitu pelatuk diledakkan."Rio mengangguk paham dan menjelaskan apa saja yang akan dia lakukan di sana untuk meminimalisir deteksi sensor musuh."Saya akan membagi tim menjadi tiga titik, Tuan. Dua orang di sektor barat untuk memutus kabel generator, dua di timur sebagai pengecoh, dan sisanya memasang perimeter peledak di fondasi utama," urai Rio taktis sembari mengencangkan sabuk amunisinya."Semua akan selesai dalam waktu empat

  • Yes! Please, Daddy   Bab 154: Eksekusi Final

    Di pagi harinya, aroma gurih sup ayam dengan sayuran organik dan roti gandum panggang memenuhi ruang makan menara Rossi.Marco meletakkan mangkuk keramik berisi sup hangat itu tepat di depan Gia, lengkap dengan segelas susu almon.Tangannya yang dipenuhi bekas luka taktis bergerak cekatan, merapikan sendok dan garpu untuk istrinya.Usai membuatkan sarapan yang sehat dan bergizi untuk Gia, Marco duduk di kursi seberang meja.Dia langsung membentangkan sebuah tablet taktis yang menampilkan cetak biru pangkalan logistik Albert di perbatasan utara."Makan sarapanmu, Gia," buka Marco, suaranya bariton namun melembut saat menatap perut datar istrinya."Sembari kau makan, aku akan menjelaskan semuanya tentang taktik rencana untuk menghancurkan Albert agar mereka bisa hidup dalam damai setelah ini."Gia menyendok supnya perlahan, matanya tidak lepas dari titik-titik koordinat di layar tablet."Jadi, serangan gorong-gorong semalam hanyalah pembuka?""Benar. Jalur bawah tanah itu sengaja aku gu

  • Yes! Please, Daddy   Bab 27: Memancing sang Iblis

    Ruang makan mansion Rossi yang biasanya terasa megah kini berubah menjadi kotak es yang menyesakkan. Gia duduk di ujung meja panjang, sementara Marco berada di sisi lain, menciptakan jarak yang terasa seperti bermil-mil jauhnya.Denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar begi

  • Yes! Please, Daddy   Bab 24: Intruksi sang Penguasa

    “Kau sedang bersenang-senang dengan kartuku, Gia?” ucap Marco di seberang sana terdengar sangat tenang, bahkan terlalu tenang hingga menciptakan getaran mengerikan di gendang telinga Gia. Tidak ada nada kemarahan, hanya otoritas mutlak yang terasa dingin.Gia mencengkeram ponsel itu lebih erat, ber

  • Yes! Please, Daddy   Bab 23: Terapi Belanja yang Membabi Buta

    Gia meletakkan cangkir teh yang sudah mendingin itu dengan gerakan kasar ke atas meja. Dia tidak butuh simpati dari Martha, apalagi teori-teori tentang betapa setianya Marco pada kehampaan hidupnya sendiri.Jika Marco ingin menjadikannya satu-satunya pengecualian, maka dia akan memastikan pengecual

  • Yes! Please, Daddy   Bab 16: Penaklukan di Balik Tirai

    Tangan Marco yang besar itu kini mengunci kedua pergelangan tangan Gia di atas kepala dengan satu genggaman kuat.Pria itu tidak memberikan jeda bagi Gia untuk sekadar mengatur napas setelah perdebatan mereka. Berat tubuh Marco yang menindihnya terasa seperti beban beton yang menghimpit paru-paruny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status