Masuk"สิบปี... คือเวลาที่ ‘พราว’ พยายามฝังกลบรักแรกอันแสนเจ็บปวดไว้ในส่วนลึกของหัวใจ เธอใช้ชีวิตในฐานะภรรยาของ ‘ธาม’ สามีรูปหล่อผู้เพียบพร้อม แต่กลับเติมเต็มเธอได้เพียงเปลือกนอกและบทรักอันว่างเปล่า ชีวิตที่เหมือนจะลงตัวกลับสั่นคลอน เมื่อ ‘วิน’ รักแรกที่เคยทอดทิ้งเธอไปอย่างไร้เหตุผลเมื่อสิบปีก่อน หวนกลับเข้ามาในชีวิตอีกครั้งในฐานะผู้บริหารหนุ่มไฟแรง ถ่านไฟเก่าที่ดับมอดไปนานกลับคุโชนขึ้นอย่างรุนแรงเกินห้ามใจ ท่ามกลาง ‘สถานะ...รักต้องซ่อน’ ที่ต่างมีเจ้าของ เมื่อแรงปรารถนามันแรงกล้ากว่าความถูกต้อง พวกเขาจึงเลือกก้าวสู่เส้นทางอันตราย สานต่อสัมพันธ์สวาทร้อนแรงอย่างลับๆ โดยไม่รู้เลยว่า ปมในอดีตที่ทำให้รักร้าว... กำลังรอวันเปิดเผย และอาจทำลายทุกสิ่งทุกอย่างลง..."
Lihat lebih banyakEmily melangkah ke pantry dengan botol minum di tangan, tapi langkahnya melambat saat ia mendengar suara-suara dari dalam. Beberapa rekannya sedang bercakap-cakap, dan meskipun mereka berbicara pelan, Emily bisa menangkap potongan kalimat mereka.
“Serius deh, aku nggak kuat lagi kalau duduk di dekat dia,” suara itu terdengar dari Dina, salah satu rekannya.
“Memangnya dia nggak sadar, ya? Masa tiap hari kayak gitu terus?” balas leni, setengah berbisik. “Kayaknya sih enggak sadar. Mungkin dia nggak tahu, atau... ya, gimana ya bilangnya ke dia?” tambah jesselyn, sambil menghela napas.Dina terkekeh kecil. “Bilang? Kamu bercanda? Bisa jadi dia malah tersinggung, terus drama. Mending nggak usah deh.”
“Tapi kita yang jadi korban, kan?” jesselyn menimpali. “Aku sampai bawa parfum ekstra, tahu. Kalau dia lewat, langsung aku semprot meja aku.”Dina tertawa kecil, tapi suaranya terdengar setengah bersalah. “Iya sih, aku juga pernah pura-pura keluar meeting cuma buat nyari udara segar. Jujur aja, baunya tuh…”
“Ampun, parah banget,” potong lina sambil menahan tawa. “Tapi ya bener, gimana kalau dia nggak pernah sadar? Masa kita harus tahan kayak gini terus?”
Emily berdiri kaku di balik pintu pantry. Hatinya berdebar kencang. Ia tidak perlu bertanya siapa yang mereka bicarakan semua itu jelas mengarah padanya. Ia ingin masuk dan membela diri, tapi kakinya tidak mau bergerak. Ia hanya bisa berdiri di sana, mendengar semuanya dengan rasa malu yang tak tertahankan.
“Eh, diam-diam aja. Jangan sampai dia dengar,” kata Rina tiba-tiba, menurunkan suaranya.
Emily panik. Dengan cepat, ia berbalik dan melangkah pergi sebelum mereka menyadari keberadaannya. Botol minumnya masih kosong, tapi itu tidak lagi penting. Ia hanya ingin keluar dari situ, sejauh mungkin dari mereka dan komentar-komentar yang menusuk hatinya.
Lagi, dan terjadi lagi. Emily mempercepat langkahnya, menunduk, berusaha menahan tangis yang mulai membuncah. Tapi sia-sia. Air mata yang sejak tadi ia coba tahan kini jatuh tanpa henti, mengaburkan pandangannya. Ia berlari kecil keluar dari gedung kantor, melewati trotoar yang sepi, menuju hutan kecil di dekat kantor, tempat pelariannya, tempat satu-satunya di mana ia merasa cukup aman untuk menangis tanpa takut dilihat siapa pun.
Begitu tiba, Emily duduk di bawah pohon besar, Kepalanya ia benamkan dalam kedua lututnya, dan isak tangisnya pecah, memenuhi kesunyian. Hatinya terasa berat, seolah seluruh dunia sedang menekan dadanya.
Ia mencoba mengatur napas, tapi pikirannya terus memutar ulang kata-kata dari pantry pagi tadi—bisikan-bisikan yang tajam seperti belati. “Aku nggak kuat lagi duduk dekat dia.” “Dia nggak sadar, ya?” Kalimat-kalimat itu bergema, menghantamnya berkali-kali.
Emily mendongak, menatap daun-daun yang bergoyang diterpa angin. “Aku sudah coba segalanya…” gumamnya pada diri sendiri, suaranya hampir tak terdengar.
Ia teringat rutinitasnya setiap pagi—mandi dua kali sehari, menggosok tubuhnya sekuat tenaga hingga kulitnya memerah, memakai deodoran mahal yang direkomendasikan influencer, bahkan menyemprotkan parfum yang katanya bisa bertahan sepanjang hari. Tapi semua itu sia-sia. Bau itu tetap ada. Ia tidak tahu dari mana asalnya, atau mengapa ia tidak bisa menghilangkannya? Itu seperti bayang-bayang gelap yang selalu membuntutinya, membayangi setiap hari.
Emily memejamkan mata, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir. Namun, ia tahu itu tidak akan terjadi. Kenyataan ini terlalu nyata, terlalu menyakitkan.
Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, ia kembali mendengar pembicaraan yang mungkin mereka kira ia tidak mendengarnya. leni, dina, jesselyn… mereka semua berbicara tentang dia, seolah Emily tidak punya perasaan. Seolah ia hanya sebuah masalah, sesuatu yang harus dihindari.
Setiap hari, Emily mencoba tersenyum, mencoba berpura-pura tidak peduli. Ia bekerja lebih keras, berusaha untuk tetap terlihat profesional di depan mereka. Tapi di dalam hatinya, ia hancur. Senyumnya hanyalah topeng, menutupi luka yang semakin dalam.
Di bawah naungan pohon itu, Emily mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. “Kenapa aku harus begini?” bisiknya lirih. Ia merasa sendirian dan terasing.
Angin berhembus lembut, membawa suara dedaunan yang berdesir. Untuk sesaat, Emily merasa sedikit tenang. Ia menyeka air matanya, meski isakannya belum sepenuhnya reda. Di tempat ini, ia tidak perlu berpura-pura. Tidak ada yang menatapnya dengan pandangan penuh rasa jijik. Tidak ada yang menutup hidung atau melontarkan komentar tajam.
Tangis Emily mulai mereda. Dengan napas panjang yang bergetar, ia berdiri dan mengusap sisa-sisa air mata yang masih membekas di pipinya. Langit yang mulai mendung seolah mencerminkan hatinya yang berat, tapi perlahan mereda. Emily memandang sekeliling hutan kecil yang menjadi pelariannya. Di sini, ia bisa menangis tanpa rasa takut, tapi ia tahu ia tak bisa terus bersembunyi.
Dengan langkah yang pelan namun pasti, Emily mulai berjalan meninggalkan hutan. Kakinya terasa berat, tapi ia memaksa dirinya untuk terus melangkah, menuju kantornya. Setiap langkah yang diambilnya seperti pertarungan melawan rasa malu dan luka yang masih menganga di dalam hatinya.
Ia menyeka wajahnya sekali lagi, memastikan tidak ada jejak air mata yang tersisa. Aku harus terlihat normal, pikirnya. Emily mencoba mengembangkan senyum kecil—senyum yang dipaksakan untuk menguatkan dirinya sendiri. Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa senyum itu hanyalah sebuah ilusi.
Bagaimana aku bisa kembali menghadapi mereka setelah ini? pikirnya. Bisikan-bisikan tajam dari pantry masih menggema di kepalanya, dan dadanya kembali terasa sesak. Apakah ia mampu mengatasi rasa malu ini? Apakah ia bisa bertahan di tengah lingkungan yang mulai terasa asing baginya?
Langkahnya semakin melambat saat ia mendekati lobi kantor. Emily menyeka dahi dan lehernya yang mulai berkeringat. Ia tahu, keringat hanya akan memperburuk situasi. Bau yang selama ini menjadi momok baginya akan semakin menyengat. Ia berdoa dalam hati agar tubuhnya tetap tenang, agar ia bisa melewati hari ini tanpa insiden baru.
Sesampainya di lobi, Emily menarik napas dalam dan berjalan cepat menuju lift, menghindari tatapan orang-orang di sekitar. Ia menekan tombol lift, dan saat pintu terbuka, ia melangkah masuk, menunduk untuk menghindari kontak mata dengan siapa pun di dalamnya.
Lift bergerak naik ke lantai 5, membawa Emily menuju meja kerjanya—tempat yang seharusnya menjadi zona nyamannya, tetapi kini berubah menjadi medan pertempuran yang penuh bisikan dan pandangan sinis. Saat pintu lift terbuka, Emily menarik napas panjang untuk terakhir kalinya, berusaha menguatkan dirinya.
Ia berjalan ke meja kerjanya, mencoba terlihat sibuk dan tidak peduli. Tetapi setiap langkah terasa berat, seperti berjalan di tengah ruangan yang penuh dengan tatapan tak terlihat. Emily tahu, hari ini tidak akan mudah.
ตอนที่ 63 (ตอนจบ)หลายเดือนผ่านไป...ฤดูกาลได้ผันเปลี่ยนจากปลายฝนสู่ต้นหนาว สายลมเย็นที่พัดโชยมาในยามเช้าไม่ได้นำพามาเพียงความหนาวเย็น แต่ยังนำความสงบสุขกลับคืนสู่ชีวิตของพราวและวินอีกครั้งพายุร้ายลูกใหญ่ที่สุดในชีวิตของพวกเขาได้พัดผ่านไปอย่างสมบูรณ์แล้ว ทิ้งไว้เพียงร่องรอยของบาดแผลในอดีตที่กลายเป็นเครื่องเตือนใจอันล้ำค่า และความเข้าใจในคุณค่าของความรักที่แท้จริงซึ่งพวกเขาเกือบจะสูญเสียมันไปตลอดกาลการหย่าร้างของวินกับพิมจบลงอย่างไม่ราบรื่นนัก มีการฟ้องร้องและสาดโคลนกันผ่านสื่ออยู่พักใหญ่ แต่ด้วยหลักฐานที่วินมีอยู่ในมือ และอำนาจของตระกูลเขาที่แม้จะไม่เท่าตระกูลของพิม แต่ก็ไม่ได้ด้อยไปกว่ากันมากนัก ในที่สุดเขาก็เป็นอิสระพิมได้รับผลกรรมของเธออย่างสาสม ไม่ใช่แค่การสูญเสียวินไปตลอดกาล แต่ยังรวมถึงชื่อเสียงและหน้าตาในสังคมชั้นสูงที่เธอเคยหวงแหนนักหนา เรื่องราวคำโกหกของเธอถูกขุดคุ้ยและแพร่กระจายไปในวงสังคมอย่างรวดเร็วราวกับไฟลามทุ่ง จากนางฟ้าผู้น่าสงสาร เธอกลายเป็นนางมารร้ายในสายตาของทุกคนส่วนธามก็หายไปจากชีวิตของพราวอย่างถาวร เขาส่งข้อความมาแสดงความยินดีสั้นๆ ก่อนจะกลับไปใช้ชีวิตเพลย์บอ
ตอนที่ 62:ความเงียบ...นั่นคือสิ่งเดียวที่ดำรงอยู่ภายในรถยนต์สปอร์ตคันหรูของวินขณะที่มันแล่นไปตามท้องถนนยามค่ำคืนของกรุงเทพฯ เป็นความเงียบที่หนักอึ้งจนน่าอึดอัด กดทับทุกสรรพสิ่งราวกับสุญญากาศ ไม่มีเสียงเพลง ไม่มีเสียงพูดคุย มีเพียงเสียงเครื่องยนต์ที่คำรามเบาๆ และเสียงลมหายใจของคนสองคนที่ยังคงติดอยู่ในห้วงแห่งความจริงอันน่าสะพรึงกลัวพราวนั่งเหม่อมองแสงไฟนีออนนอกหน้าต่างที่วิ่งผ่านไปอย่างรวดเร็ว แต่ภาพที่เห็นกลับไม่ใช่ตึกสูงหรือรถราที่ขวักไขว่ ในหัวของเธอมีแต่ภาพใบหน้าที่บิดเบี้ยวด้วยความโกรธแค้นของพิม... เพื่อนรักที่กลายเป็นนางมารร้าย... คำสารภาพที่พรั่งพรูออกมาจากปากของเธอ มันยังคงดังก้องอยู่ในโสตประสาทซ้ำแล้วซ้ำเล่า...‘ฉันเป็นคนส่งรูปตัดต่อนั่นให้มันดูเอง!’ ‘ฉันแค่จัดฉาก!’ ‘ฉันทำทุกอย่างเพื่อให้ได้พี่วินมา!’สิบปี... ตลอดสิบปีที่ผ่านมา เธอจมอยู่กับความเจ็บปวดและความเข้าใจผิดมาโดยตลอด เธอเกลียดวิน โกรธเขาที่ทอดทิ้งเธอไปอย่างไม่ไยดี แต่ความจริงแล้ว... เขาก็คือเหยื่ออีกคนหนึ่งไม่ต่างจากเธอ... เหยื่อของคำโกหกและความรักอันบิดเบี้ยวของผู้หญิงที่เธอเคยเรียกว่า ‘เพื่อนสนิท’น้ำตาหยดหน
ตอนที่ 61:ความเงียบภายในรถยนต์สปอร์ตคันหรูของวินหนักอึ้งจนน่าอึดอัด มีเพียงเสียงเครื่องยนต์ ที่คำรามเบาๆ พราวนั่งตัวตรงอยู่บนเบาะหนังข้างคนขับ มือทั้งสองข้างที่เย็นชื้นกำเข้าหากันแน่นอยู่บนตัก หัวใจของเธอเต้นรัวแรงราวกับจะทะลุออกมานอกอก ความกังวลและความกลัวกำลังกัดกินจิตใจของเธอ แต่ลึกลงไปในนั้น... ยังมีความเด็ดเดี่ยวที่ผลักดันให้เธอต้องมาที่นี่ในวันนี้ เธอกำลังจะเดินทางไปเผชิญหน้ากับความจริง... ความจริงที่เธอทั้งรอคอยและหวาดกลัวมาตลอด“คุณโอเคไหม” วินเอื้อมมือที่กำพวงมาลัยอยู่มาวางทับบนมือของเธอเบาๆ สัมผัสของเขาทั้งอบอุ่นและหนักแน่น น้ำเสียงทุ้มที่เอ่ยถามมานั้นเต็มไปด้วยความห่วงใย เขาเองก็ดูเคร่งเครียดไม่แพ้กัน สันกรามคมขบเข้าหากันจนขึ้นเป็นสันนูน สายตาจ้องมองไปข้างหน้าอย่างมุ่งมั่นและแข็งกร้าว“ค่ะ... พราวโอเค” เธอพยักหน้าช้าๆ พยายามบังคับเสียงไม่ให้สั่น หันไปมองเสี้ยวหน้าของเขาที่ต้องแสงไฟจากภายนอก “แล้วคุณล่ะคะ... ไหวแน่นะ”“ไหวสิ” เขายิ้มบางๆ ที่มุมปาก แต่รอยยิ้มนั้นส่งไปไม่ถึงดวงตาที่ยังคงแข็งกร้าว “วันนี้... เราต้องจบเรื่องบ้าๆ นี่กันให้ได้ ไม่ว่าความจริงมันจะเลวร้ายแค่ไ
ตอนที่ 60:หลังจากวางสายจากพราวในคืนนั้น วินขับรถสปอร์ตคันหรูของเขาไปอย่างไร้จุดหมาย ท่ามกลางแสงไฟนีออนของเมืองกรุงที่ไม่เคยหลับใหล แต่สำหรับเขาแล้ว โลกทั้งใบกลับมืดบอดและว่างเปล่าอย่างที่ไม่เคยเป็นมาก่อน คำสารภาพที่พรั่งพรูออกมาจากปากของพิม... ใบหน้าที่เคยสวยหวานแต่กลับบิดเบี้ยวด้วยความโกรธแค้นและเกลียดชัง... มันยังคงฉายซ้ำไปซ้ำมาอยู่ในหัวของเขาเขาไม่ได้กลับไปที่บ้านหลังใหญ่ที่เคยเรียกว่า ‘เรือนหอ’... บ้านที่บัดนี้ไม่ต่างอะไรจากรังแห่งคำโกหก แต่กลับมุ่งหน้าไปยังคอนโดมิเนียมส่วนตัวที่เขาซื้อไว้ตั้งแต่ก่อนแต่งงาน... ที่ที่เคยเป็นรังรักลับๆ ของเขากับพราว... แต่ในคืนนี้ มันคือที่หลบภัยเพียงแห่งเดียวที่เขาเหลืออยู่วินทิ้งตัวลงบนโซฟาหนังตัวยาวในห้องนั่งเล่นที่มืดสลัว เขายกมือขึ้นกุมขมับ พยายามไล่ภาพและความรู้สึกเหล่านั้นออกไป แต่มันก็ไม่เป็นผล ความรู้สึกเหมือนถูกหักหลังอย่างรุนแรงที่สุดมันกัดกินหัวใจเขาจนแทบจะแหลกสลาย ผู้หญิงที่เขาไว้ใจมาตั้งแต่สมัยเรียน ผู้หญิงที่เขาจำใจต้องแต่งงานด้วย ผู้หญิงที่แสดงบทบาทภรรยาที่แสนดีและอ่อนหวานมาตลอดหลายปี... ทั้งหมดคือละครฉากใหญ่ที่เธอสร้างขึ้นมาเพ
![พิศวาสรักลูกหนี้ (NC20+) [ซีรีส์ พิศวาสรัก 1/4]](https://yfbwww.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




