LOGINこの世界に転生してきたとき、システムは朝月詩乃(あさづき しの)に一つの能力を授けた。 それは、自分以外の誰かの願いを叶える力だった。 そして、九年にわたる夫婦生活を共にした夫、一ノ瀬慎也(いちのせ しんや)の誕生日パーティーで、詩乃はこの能力で慎也の願いを叶えて、誕生日プレゼントとして贈ることにした。 詩乃は何度も心を込めて慎也に、三十歳の願いはきっと叶うから、よく考えてから願いを言うよう伝えた。 慎也は笑ってうなずき、両手を合わせて、敬虔に願いを込めた。 そのあと、システムが詩乃に慎也の願いを聞かせてきた。 「詩乃の命と、栞の命を交換できますように」 ……
View MoreTidak ada malam yang tenang bagi Tristan. Karena setiap gelap menghampirinya, dia akan dihantui bayang-bayang gadis yang dia tiduri di club malam itu. Bisa-bisanya, setelah dia bangun pagi dan berniat membersihkan tubuh sebentar. Gadis yang dia cium paginya itu mendadak menghilang. Tidak hanya itu saudaraku, gadis itu juga menyisipkan beberapa lembar uang seratus ribu di atas ranjang yang mereka gunakan untuk bermain malam itu. Jumlahnya sekitar 5, dan itu artinya lima ratus ribu.
Bagaimana tidak terhantui. Harga diri seorang Tristan, lelaki yang sudah diambil keperjakaannya malam itu melayang hingga ke bawah-bawah sekali. Padahal rencananya, dia akan melamar wanita itu langsung, karena sudah mengambil keperjakaannya. Sebenarnya mereka itu fair, karena Tristan juga mengambil keperawanan gadis itu.
Tapi. Demi neptunus, dan demi martabat laki-laki. Itu sungguh menyesakkan baginya. Harga diri Tristan hanya lima ratus ribu? Jadi begitu? Sejak saat itu, Tristan bersumpah akan mencari gadis itu.
Sialnya, selama 5 tahun dia mencari hingga ke pelosok kota Jakarta, tidak ada wujud gadis itu. Tristan hafal betul bagaimana wajah itu, bahkan ukuran branya juga dia hafal. Jangan diragukan lagi seorang Tristan. Dia tidak akan lupa, sampai kapanpun.
“Woi, lo gak kerja apa? Hari ini ada rapat anjir.”
Suara melengking dari luar kamarnya membuat pagi Tristan membuka kedua matanya. Paginya langsung suram. Dia menatap langit-langit kamarnya, dan semuanya kosong. Dia memilih sendiri sejak kejadian di club. Tidak ada wanita yang mampu menarik perhatiannya. Jadi sudah biasa bagi Tristan untuk sendiri. Baginya, sendiri itu sudah mendarah daging.
Dia tidur sendiri, tapi yang bangun berdua.Decakan terdengar jelas di kamarnya saat mengintip adiknya yang juga bangun. Seolah mengatakan ‘hai, selamat pagi, beibeh’. Bukannya tidak ada gadis yang mau menenangkan adik kecilnya itu, tapi Tristan benar-benar kehilangan selera berhubungan dengan wanita.
“Sialan, kalo lo udah bangun, ngomong anjir.”
Pintunya terbuka lebar. Dan sesosok manusia muncul di ambang pintu.
Bahkan, karena tidak punya selera menatap lawan jenis. Tristan sampai menghire Jake—lelaki yang kini menatapnya di ambang pintu–sebagai sekretarisnya di kantor. Jake adalah temannya sejak kuliah, dan melihat wajahnya tiap hari, membuat Tristan ingin muntah.
“Hari ini rapat sama siapa?”
“Pak Wicak, lo lupa?”
“Hmmm…shit.Lo urus dulu dia. Pening kepala gue dengar dia ngomongin putrinya.”
Jake tahu betul hal itu. Pak Wicak memang tertarik dengan sang sahabat, untuk dijadikan menantu maksudnya. Bukan tertarik sesama lelaki. Gey dong kalo gitu. Dan setiap ada rapat, Pak Wicak pasti akan menawarkan putrinya yang lulusan luar negeri itu. Seolah tidak ada lelaki lain saja. Itu membuat putrinya terkesan murahan. Kayak barang di obral-obral.
“Lo masih kepikiran cewek itu?”
“Hmmm.”
“Makanya, itu azab buat lo. Makanya kalo cewek suka sama lo, tolak baik-baik. See? Sekarang lo yang dicampakkan seperti seonggok upil di pagi hari.”
“Sialan lo. Mau gaji lo gue potong?”
Jake terkekeh sambil membuat gerakan mengunci bibirnya. Lalu menghilang dari sana secepat kilat, sebelum bantal yang baru di lempar Tristan mengenai kepalanya.
Tristan menarik nafas dalam, menenangkan adiknya sebentar lalu segera menuju kamar mandi. Tidak menghabiskan banyak waktu, hingga akhirnya dia sudah sempurna dengan balutan jas biru dongker yang melekat sempurna di tubuhnya yang kekar. Berkaca sebentar, Tristan tersenyum lebar. Tidak lupa mengagumi ketampanan diri sendiri.
“Kayaknya, satu-satunya yang gue syukuri punya bokap adalah ketampanan ini. Lo sempurna Tristan, kaya, dan jago juga main di atas ranjang. Sekarang, mari kita jalani kehidupan yang membosankan ini.” Tristan menyemprotkan farfum pada bajunya, dan segera berjalan menuju meja makan.
Selain sekretaris di kantor, Jake ini juga merangkap sebagai babunya. Siap disuruh 24/7. Pintar pula memasak. Apalagi yang kurang kan?
“Makanannya sudah selesai, baginda Raja. Silahkan di santap.”
Masakan Jake memang tidak pernah salah. Waktu dulu mereka ngekos bareng, yang selalu memasak juga Jake. Tapi yang membeli semua kebutuhannya adalah Tristan. Sedikit tidak balance sebenarnya, tapi tidak apa-apa. Tristan tidak pernah kekurangan sumber daya keuangan. Setidaknya itu yang dia syukuri, walaupun tidak pernah merasakan hangatnya sebuah keluarga.
Ayah dan ibunya sudah lama bercerai, dan hidup sendiri-sendiri. Tristan tidak memilih satupun dari mereka. Dia hidup mandiri, tapi dengan dana yang selalu dia terima. Itu lebih menguntungkan, daripada harus melihat kedua orang tuanya yang hidup terpisah.
“Ini rekap data, dan juga investor pendatang di perusahaan. Semuanya udah gue kirim ke email lo.”
“Hmmm”
“Oh iya, hari ini accounting baru juga bakal datang buat interview terakhir. Kalo lo mau ngeliat pegawai baru lo. Ada 3 kandidat yang berhasil ke tahap ini, dua dari mereka bakal gugur. Kalo lo mau ikut ngetes mereka, setidaknya biar kejadian kayak dulu gak keulang lagi.”
Alasan mereka ngehire accounting baru di perusahaan, karena yang lama melakukan penggelapan dana. Padahal Tristan tidak pernah pelit soal kesejahteraan pegawai. Jika pegawainya benar-benar berprestasi, dia tidak segan-segan memberikan tiket liburan ke luar negeri. Atau sebuah kunci mobil baru. Tapi tetap saja namanya manusia, dimana-mana pasti ada saja yang tidak bisa melihat uang.
“Datanya dimana?” seru Tristan. Dia tidak tertarik sebenarnya, tapi kali ini dia tidak mau mengeluarkan uang lagi jika ternyata yang baru juga sama. Tristan butuh seseorang yang bisa dipercaya.
“Wait, gue ambil dulu.”
Tristan masih santai memasukkan sandwich itu ke dalam mulutnya sambil menatap lembaran CV kandidat baru. Tidak ada yang istimewa di lembaran itu. Semua menampilkan bakat, dan juga pengalaman bekerja di perusahaan bonafit sebelumnya.
Tidak sampai saat mata Tristan sampai di lembar ketiga. Dia bahkan terbatuk sambil melotot tidak percaya.
“Lo kenapa? Minum dulu, lo mati kan gak lucu. Ntar sumber keuangan gue ngilang.”
Mata Tristan makin melebar melihat bahwa nama kandidat itu tidak salah dengan ingatannya malam itu. Rosalina Hyunhen, dan nama panggilannya Rosa. Tristan langsung berdiri, mengambil kunci mobilnya.
“Lo kenapa, Tris?”
“Gue mau pergi ke kantor duluan, lo bawa keperluan yang lain.”
“Tumben anjir.”
Langkah Tristan berhenti. Dia berbalik dengan senyuman mengeringan, menatap Jake bangga.
“Akhirnya. Akhirnya Jake. Gue ketemu sama dia lagi. Setelah lima tahun, lo bayangin selama lima tahun gue nyari ke pelosok Jakarta tapi dia seolah di telan bumi. Sekarang, mari kita lihat, apakah sumbangan sperma gue berhasil atau tidak,”seru Tristan bersemangat.
Sedangkan Jake hanya diam, dengan kerutan di wajahnya. Dia mengambil kertas tadi, dan menatap kandidat ketiga yang membuat Tristan heboh di pagi hari. Bahkan mau ke kantor tanpa dia sopiri. Sejenak Jake diam, lalu meletakkan kertas itu. Dia bahkan tidak tahu wajah yang setiap malam disebutkan oleh Tristan saat mabuk. Yang dia tahu, sahabatnya itu sudah gila. Dan dia lebih gila karena mau berteman dengan orang gila. Membuatnya hampir gila juga.
警察は一ノ瀬家の屋敷に到着すると、周囲に集まっていたマスコミを一掃した。慎也の両親がドアを開け、予想通り慎也はすぐに家から逃げ出した。彼はこの周辺に詳しく、あっという間に小道に飛び込んで姿を消した。警察は慎也の姿を見失い、彼の両親を逮捕した後、慎也の指名手配を急いで発表した。その日のうちに、慎也は一ノ瀬家の御曹司から指名手配犯へと転落した。上江市では、すでに落ちぶれたこの犯人を追い求める人々の姿があちこちに見られた。慎也は今、家に帰ることもできず、各地の公園でひっそりと暮らしていた。公園には蚊が多く、時折ネズミも現れる。慎也はそれを黙って耐えながら、心の中で考え続けていた。なぜ、こんなことになってしまったのか?思い返せば、すべては三十歳のときに叶えた、あの馬鹿げた願いから始まったのだ。三十歳になる前、慎也は順風満帆な生活を送っていた。両親は元気で、家も裕福、優しく賢い妻がいて、会社も順調で、少し動けば経済誌に載るような存在だった。ネットでは、そんな自分が「手の内で最高のカードを持ちながら台無しにした」と嘲笑されていたが、今、慎也はその意味をようやく理解していた。すべては、満足しない自分が招いた結果だ。慎也はもう、夜しか外に出られなくなった。襟を立て、少しでも人影が見えたらすぐに逃げるようになった。慎也は街中で、両親の判決について話している人々の会話を耳にした。無期懲役、即時執行、仮釈放なし。つまり、両親は一生刑務所を出ることはなく、命を終えるまでそこにいるということになった。慎也は親の白髪を思い出し、胸が締め付けられる思いだった。湖のほとりに立ち、慎也は湖面に映る自分の影を見つめていた。この数週間の隠れ暮らしと、地べたで寝る日々で、彼の体はすっかり汚れていた。髭は久しく剃っておらず、顎に乱雑に生えている。髪もボサボサになっていた。他の人々ならともかく、慎也自身もこの姿を見て、かつての自分を全く認識できなかった。この間、慎也は夜ごとにこっそりと街の墓地を歩いていた。墓地には無数の墓碑が立ち並び、慎也は一つ一つを見ながら、詩乃の墓を探し続けていた。指先で一つ一つの名前をなぞりながら、慎也は地下に埋まった命を見つめていたが、どうしても詩乃の名前は見つからなかった。慎也が知らないのは
栞が目を覚ましたとき、まるで死んだかのように感じた。体全体、顔も含めて、まるで誰かに壊され、作り直されたみたいな痛みが広がっていた。彼女は座ろうとしたが、腰は全く力が入らなかった。栞が目を覚ましたのを見て、看護師が急いで部屋に駆け込んできた。「江川さん、今はまだ座ることができませんよ」「私はどうなったの?」と栞は焦りながら尋ねた。「私の子供は?子供は無事なの?」看護師は困った表情を浮かべ、栞にこの悲しい知らせを伝えたくなかったが、どうしても口にしなければならなかった。「江川さん、将来……まだチャンスがありますよ」その言葉を聞いた瞬間、栞の目から涙があふれ出た。彼女はベッドを叩いたが、うっかり自分の足を叩いてしまい、呆然とした。「私の足はどうなったの?」栞が二つ目の悪い知らせとなる質問をしてきたのを見て、看護師は唇を噛みながら言った。「江川さん、あなたがここまで運ばれた時、お腹に強い衝撃を受けました。その上、ショックで一時的に意識を失い、膝の半月板も損傷しました。ですので、今後はおそらく立つことができず、一生ベッドで寝たきりになる可能性があります」さらに悪い知らせを聞いた栞は、絶望感に包まれた。ちょうどその時、神原社長、神原大介(かんばら だいすけ)が部屋のドアの前に現れ、すべての話を聞いた彼は顔色を変えた。彼は静かにドアから離れようとしたが、栞に気づかれてしまった。大介を見た瞬間、栞の目に溜まっていた涙が再び溢れ出した。「大介、さっきの、聞こえたの?」大介はドアの前に立ってしばらく待ち、最後に軽く頷いて「さようなら」と言った後、名残惜しそうな表情もなく病室を去った。その瞬間、栞はこれが大介との永遠の別れだと感じ、苦しそうに笑った。自分は慎也に半身不随にされ、一ノ瀬家からは一切の配慮を受けていなかった。栞は躊躇うことなく、警察に通報した。警察が一ノ瀬家に到着したとき、慎也の両親は慎也を市外に送り出す準備をしていた。警察を見ると、二人は互いに視線を交わし、ただ警察が慎也に手錠をかけるのを見ているしかなかった。慎也は傷害罪で逮捕され、彼の両親はすぐにお金を使って彼を保釈した。しかし、予想外のことに、栞は彼らを簡単に許すつもりはなかった。ある悲惨な告発の映像がインターネットで急速
栞の言葉を聞き、慎也の母親は少し動揺しながら言った。「栞、つまりどういうことなの?」栞は少し笑って言った。「この子、確かに慎也の子じゃない。でも、今この情報が漏れたから、もし慎也が私と結婚しなければ、始まりから終わりまで無責任だってことになる。どうせ今、慎也の評判はすでに悪いから、結婚で少しでも挽回できるかもしれない。この子が、少なくともあなたたちの評判を少し取り戻す手助けになるんじゃないの。あなたたち、私に感謝しなきゃね」彼女はソファに座り、手に持ったネックレスを弄びながら言った。「どうして同じ分野で、私の親があなたたちの家より倍以上努力してきたのに、いつもあなたたちに押されてしまうのか不思議でたまらない。幼い頃からの約束だったのに、慎也は他の女と結婚した。あなたたちの息子は浮気しても許されて、私が他の人と関わるのは許されないって、どういうこと?あなたたちの息子は自分の息子だから勝手にしても構わない。私は、この江川家の娘で何かしたらダメって、どういうこと?そんなのありえないでしょ?」慎也が怒りで顔を真っ赤にしているのを見て、栞はさらにニヤリと笑った。彼女は言葉を続けた。「あ、そういえば、慎也、実は詩乃が癌だってこと、私は前から知ってたんだよ。でも、あなたには言わなかった。最初はあなたが自分で気づくと思っていたけど、まさか妻が病気だと気づかなかったなんて。あなたは自分の子供を傷つけたかもしれないけど、私のお腹の子には手を出させない」詩乃のことを話された途端、慎也は診察室で抑えていた怒りが爆発し、歩み寄りながら栞を睨みつけ、怒りと耐え忍ぶような言葉を絞り出した。「よくも詩乃のことを口にできるな?黙れ!」慎也の怒りを見た栞は、かえって興奮したように言った。「どうして詩乃のことを言うのに顔を出せないの?忘れたの?詩乃が死ぬ前に、あなたが私と一緒にホタルの庭園に行くって約束したのを。詩乃が死ぬ前、あなたのことをどう思っていたのかしら。あなたは無能な夫だったから」慎也は拳を振り上げ、栞に向けてそれをおろそうとした。慎也の両親は驚きの息を呑んだものの、誰も止めようとしなかった。慎也は栞に拳を次々と打ち込み、栞はその痛みに耐えきれず、言葉が威嚇から懇願に変わっていった。「あ
なぜ栞がこんなにも家から遠くにあるモールにいるのだろう?そして、なぜ彼女は神原社長と腕を組んでいるのだろう?彼ら二人の先ほどの雰囲気を思い返すと、まるでカップルのようだった!慎也は突然、頭がクラクラするような感覚に襲われ、何かの答えがすぐに明らかになる予感がした。真実は、彼が数ヶ月前の病院の監視カメラを確認したことによって証明された。監視カメラの映像によると、詩乃が病院に入院する前、慎也が病室にいない日には、神原社長が毎回病院に来て、次の日の朝まで滞在していた。その後、栞は病棟の看護師たちに口止め料を渡し、慎也にこのことを話させないようにしていた。こんなに長い間、自分は騙されていたのか。自分が詩乃を病室に入れるよう手配した時のことを思い出すと、栞が明らかに不満そうな顔をしていたが、それには別の理由があったことがわかった。慎也は以前、栞が嫉妬していて、詩乃と一緒に同じ病室で過ごすのが嫌だったのだと思っていた。だが、そこには神原社長との密会ができないという理由もあったとは思いもしなかった。ここ最近の栞の奇妙な行動も、すべて説明がついた。以前、栞は慎也の会社のことに全く興味を示さなかったが、最近は意図的に会社のことを聞きたがるようになった。だから、最近慎也が気に入っているプロジェクトは、神原社長にほんのわずかな差で奪われることが多かったのだ。すべての謎が解けた。慎也の頭の中で突然、栞の腹の中の子供のことが思い浮かんだ。自分が栞とする際、毎回きちんと避妊をしていたはずなのに、あの報告書を見たときにはほんの千分の一の確率で起こった偶然だと思っていた。しかし今、こうして思い返すと、他の誰かの策略にはまっていたのかもしれない。証拠を保存した後、慎也は以前の医師の診察室に向かった。詩乃の遺骨が埋められている場所を知った後、家族に本当のことを話そうと思っていたが、意外なことに、診察室のドアに貼られている医師の名前が変わっていた。慎也は急いで中に入ると、見慣れない顔が彼と視線を交わした。「この前の先生はどこに行ったんですか?」中の医師は慎也に驚き、震える声で答えた。「彼女は辞めました。何か用ですか?」慎也はまるで銃で撃たれたかのようにショックを受けた。もう詩乃の遺骨を見つけることはできない。
巡回中の医師が状況を見てすぐに駆け寄ってきた。詩乃の容体を安定させたあと、彼女はカルテをめくり、ため息をついた。「朝月さん、もしご自身を守りたいのであれば、私たちの提案は……お子さんを諦めることです。今や癌細胞はほとんど全身に転移しています。お子さんを諦めれば、わずかに望みがあるかもしれません」「ありえません」詩乃は考える間もなく反論した。「子どもを失ったら、生きているほうがもっと苦しいだけです」彼女は医師を見つめ、目には涙が溜まっていた。「お願いがあります。聞いてくださいますか?」本来なら余計な荷を背負うべきではなかった。だが、紙のように白い唇と、皮膚の下で浮き上
慎也は鼻で冷たく笑った。「強がらないほうがいい」彼は全身を探り、最後に一つの箱を詩乃へ差し出した。「君の誕生日だから、ほら」詩乃は眉をひそめた。「いらない」ここまで来ると、慎也が渡してくる物はすべて吐き気がするほど嫌悪感しかなかった。「これ以上俺を不機嫌にさせるなよ。一般病室に戻りたくないだろ?」仕方なく、詩乃は箱を受け取った。慎也が部屋を出ていく瞬間、彼女は迷うことなくその箱をゴミ箱へ放り投げた。病院には詩乃が信用できる人がいなかったため、彼女は澪に連絡してスーツケースを買って来てもらい、廊下に置いた。詩乃は毎日少しずつ荷物をまとめ、スーツケースに入れ、時
重症病棟では、毎日誰かが死と戦っている。しばしば詩乃がやっと眠りについたころ、隣のベッドのナースコールが鳴り出した。ドアが素早く開き、医師と看護師が駆け込んできて、ベッドをICUへと移動させた。そんなことがあると、他の患者たちも一気に緊張し、誰も眠れなくなる。ナースコールが鳴っていないのに、詩乃の夢の中ではあの鋭く耳障りな音が絶え間なく鳴り続けていた。何度も悪夢で飛び起き、背中は冷たい汗でびっしょりだった。周りのベッドから運び出され、二度と戻ってこなかった患者たちを見ているうちに、詩乃の食欲も日々落ちていった。ある夜、ついに詩乃のベッドのナースコールがけたたましく鳴
詩乃の目がベッドの上に置かれたアレルギー薬をちらりと見たが、手の消毒の動きは止まらなかった。コンコンという軽いノックの音が響いた。神原社長が入口に現れ、病室いっぱいの花を見て口笛を吹いた。「まさか一ノ瀬社長が今でもこんなご趣味があるとはね。誕生日パーティーの後、ほとんど会社に戻ってないって聞いたけど。病院で花を育てていたんですね」「何の用ですか?」慎也の口調は硬く、わずかに怒気が混じっていた。「用がないなら出て行ってもらえますか。病人の休みを邪魔しないでください」神原社長は肩をすくめた。「あなたに関心を持ってるから来たんですよ、一ノ瀬社長。あなたの会社の状況
reviews