“Kamu sudah makan, sudah tidur, sudah istirahat. Jadi, sekarang nggak punya alasan lagi untuk menghindar.”Tanpa memberi kesempatan Suci menyela, Arif meraih pelan tangan gadis itu, lalu menuntunnya menuju sofa panjang di depan televisi. Setelah semua piring selesai dicuci dan dapur kembali rapi, kini saatnya mereka kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.“Aku nggak mau ngulang semua yang sudah aku omongin dari tadi siang,” lanjut Arif setelah keduanya duduk di sofa. “Jadi–”“Kita jalani aja dulu,” putus Suci sambil menarik tangannya dari genggaman Arif. Ia juga sudah enggan berdebat dengan pria itu, karena semua akan berakhir sia-sia. “Jalani kayak biasanya.”“Tapi aku nggak mau,” tolak Arif tanpa basa-basi. “Ngapain aku capek-capek ngerobek surat kontrak, kalau kita tetap jalan seperti biasanya. Makanya aku tegaskan, kalau kita pacaran dulu.”“Itu, kan, maunya Mas Arif. Bukan mauku.”“Aku tau kalau kamu juga mau,” tembak Arif bergeser untuk memangkas jarak dengan Suci.
Read more