"Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu tahu harganya, bukan?" Suara itu datang dari belakang. Dingin, rata, tidak keras, tidak mengancam. Tapi bobotnya membuat Yuriel Leviathan berhenti bergerak seketika. Tangannya masih terentang ke arah batu kuno di depannya. Tetesan darah esensi yang tadi ditolak sudah diserap kembali ke kulitnya. Perlahan, ia berbalik menghadap sumber suara itu. Sendi-sendinya terasa berat. Sosok berbalut jubah hitam berdiri di pintu bilik. Wajahnya tertutup kain tipis dari material langka, material yang tidak bisa ditembus oleh teknik indera spiritual mana pun. Aura sosok itu terasa redam, hampir seolah tidak ada. Aura yang sengaja disembunyikan selalu jauh lebih berbahaya dari yang dipamerkan. Tapi Yuriel tahu betapa menipu penampilannya. Di seluruh Istana Roh Abadi, hanya satu orang yang sudah mencapai Ranah Star Sealed. "Kepala Istana." Yuriel membungkuk dengan hormat, kedua tangannya masih mengepal di samping tubuhnya. Lyra Linn tidak langsung menjawab
Leer más