Neva mendengus dingin. "Ewan, hebat juga kamu ya. Murid dan gurunya sekaligus berhasil kamu dapatkan. Hmph!"Ewan berkata, "Kak Neva, jangan cemburu dong ....""Siapa bilang aku cemburu?" Neva mengangkat alisnya, tidak mau mengakui bahwa dirinya cemburu.Keadaannya persis seperti orang mabuk. Saat dibilang mabuk, dia malah bersikeras mengatakan dirinya belum mabuk, bahkan masih sanggup minum.Neva berkata, "Pokoknya aku kesal soal ini. Kamu harus menghiburku. Kalau nggak, urusan kita nggak bakal selesai."Ewan bertanya, "Kamu mau aku hibur gimana?"Neva menggandeng lengan Ewan, lalu berbisik, "Nanti setelah pulang ... sehari sepuluh kali."Wajah Ewan langsung pucat. Meski kekuatan bertarungnya luar biasa, ada pepatah yang mengatakan, yang mati kelelahan itu bantengnya, bukan sawahnya. Dengan permintaan sebesar itu, mana mungkin dia sanggup?"Aku cuma bercanda kok. Sampai ketakutan begitu." Neva tersenyum, lalu berkata dengan serius, "Sejujurnya, aku ingin punya anak. Setiap kali telepo
Mehr lesen