Waktu berjalan tanpa terasa. Matahari yang sejak siang bersinar terang kini mulai turun perlahan di balik gedung-gedung Jakarta. Cahaya jingga masuk melalui jendela apartemen, membuat ruang tamu terasa lebih hangat.Setelah memastikan kondisi Sonya jauh lebih baik, Sevi akhirnya merapikan tasnya. "Aku pulang dulu ya."Sonya yang duduk di sofa mengangguk pelan. "...Iya.""Nanti kalau ada apa-apa, telepon aku. Jangan dipendem sendiri.""Iya."Sevi tersenyum. "Bagus."Bima ikut berdiri. "Makasih ya, Sev.""Santai aja Bim. Udah, jagain dia aja ya."Bima mengangguk pelan. "Pasti."Tak lama kemudian bel apartemen berbunyi. Ting Tong"Itu pasti Arlan." Bima berjalan membukakan pintu.Benar saja, Arlan berdiri di depan sambil masih mengenakan kemeja kerja. Dasi yang sejak pagi dipakai sudah dilepas, sementara dua kancing atas bajunya terbuka.Kelihatannya benar-benar baru selesai dari kantor."Gimana?" Sevi tersenyum. "Udah jauh lebih tenang, sayang?"Arlan mengangguk lega. "Syukur."Setelah
더 보기