Santi menutup pintu di belakangnya tanpa suara.“Aku nggak datang untuk basa-basi.” sudut bibir Danira menarik kecut. Menyeringai seperti menyepelekan.“Basa-basi? Yang benar saja, benar-benar ucapan nggak masuk akal,” sahut Danira ringan, “kamu datang untuk merebut kembali suamimu kan?” nadanya pelan, tapi penekanannya sangat terasa.Santi berjalan mendekat, langkahnya tenang tapi penuh tekanan, “Aku datang untuk melihat seberapa rendah kamu bisa jatuh. Aku pikir kamu wanita baik-baik, ternyata …,” kalimat Santi juga terputus, tatapannya seolah menghakimi.Senyum Danira kembali muncul, tipis dan tajam, “Kalau bicara hati-hati, Santi. Kamu sedang bicara dengan wanita yang sekarang membawa anak dari suamimu. Ini bukan main-main loh … nyatanya kamu sudah kalah denganku, ah … bukan kalah tapi sebenarnya sejak dulu itu akulah yang memang pantas menjadi istri dari Bimo Prakoso Abdinegara,” ujar Danira, seolah dialah yang seharusnya sejak dulu menjadi pemenangnya.“Benarkah?” suara Santi d
Mehr lesen