Hujan di luar semakin deras. Seolah menjadi latar dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar konflik perasaan. Santi belum bisa menebak seluruh kejadian yang akan terjadi. Dia hanya ingin melakukan yang terbaik.Di dalam mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari rumah sakit, Arka masih menatap layar dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Jarinya mengetuk pelan dashboard, ritmis, tenang, tapi penuh perhitungan.“Dia mulai berpikir,” gumamnya pelan, “dan itu bagus.” Seorang pria di kursi depan menoleh sedikit, “Tuan, apakah kita lanjut ke tahap berikutnya?”Arka tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada layar yang menampilkan rekaman CCTV rumah sakit tepat saat Santi keluar dari kamar Danira.“Belum,” jawabnya akhirnya, “aku ingin melihat seberapa jauh dia bisa berjalan tanpa jatuh.” ujar Arka seolah menggantung.“Tapi, jika dia bekerja sama dengan Baga, itu bisa berbahaya.” Arka tersenyum tipis, “Justru itu yang membuat permainan ini menarik.” tatapan Arka masih pada
Mehr lesen