Malam semakin larut. Setelah menyantap makan malam, mereka memutuskan untuk sedikit berbenah pakaian dan menatanya ke dalam lemari. Dan kini, Felly tengah mengeringkan rambutnya sementara Marvin sedang mandi.Bunyi dering ponsel terdengar, Felly mengangkat benda persegi panjang itu dan senyum pun mengembang di kedua pipinya.“Haii, Gistaa!” sapanya antusias.Gista di seberang sana mencebikkan bibirnya dan membuat mimik mukaseolah marah pada sahabatnya yang pergi jauh darinya itu.“Kok kayak nggak excited gitu, sih?” tambah Felly sambil terkekeh.“Nggak tau ah. Marah banget tiba-tiba ditinggalin jauh banget,”jawab Gista masih dengan wajah yang marah.Felly terkekeh.“Ya… gimana, ya? Aku juga kan hanya ikut kata suami.”Gista mencebikkan bibirnya, “Ah, menyebalkan sekali.” Lalu perlahan, mimik wajah marah itu berubah menjadi sedihdan kemudian Gista menangis, “Huwaaaa, aku khawatir sekali saat kamu nggak bisadihubungi dua hari itu. Kupikir kenapa-kenapa. Tapi untungnya aku bertemu
Leer más