Roni mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon. Seketika, ekspresinya berubah, lalu dia buru-buru mengangkat panggilan itu."Halo, Sayang, ada apa?"Ternyata itu telepon dari istrinya. Namun, melihat ekspresinya, jelas ada sesuatu yang tidak beres. Aku mengernyit.Detik berikutnya, wajah Roni benar-benar pucat. Suaranya sampai bergetar saat berkata, "Sayang, aku pulang sekarang juga, jangan panik.""Aku segera pulang. Bilang sama mereka, jangan macam-macam sama perempuan!" Usai mengatakan itu, Roni menutup telepon. Seluruh tubuhnya seperti disambar petir."Ada apa?" Aku segera bertanya sambil memesan taksi.Mata Roni memerah. Dengan suara serak, dia berkata, "Dulu waktu istriku berobat, aku pinjam uang.""Tapi sekarang belum jatuh tempo, mereka malah menyuruh preman datang ke rumah. Sekarang cuma istriku yang ada di rumah. Aku ...."Hanya dengan kalimat singkat, aku langsung paham betapa gawat situasinya. Aku segera mengajak Roni naik ke taksi yang baru kupesan."Cepat,
Baca selengkapnya