“Dinara... bangun, Sayang... Dinara...”Dinara mengerjapkan matanya perlahan. Sayup-sayup, ia mendengar suara yang sangat ia rindukan memanggil namanya dengan teramat lembut. Suara Elang Adikara. Begitu nyata, bahkan ia bisa merasakan embusan napas hangat menerpa permukaan kulit bahunya.“Sayang, bangun...”Sebuah kecupan hangat mendarat di tengkuk Dinara. Tubuh Dinara refleks berbalik, sementara kelopak matanya terbuka perlahan meski terasa teramat berat. Namun, saat pandangannya memperjelas segalanya, jantung Dinara seolah berhenti berdetak. Tepat di depan wajahnya, sosok Elang Adikara sedang berbaring menatapnya. Dinara terbelalak sempurna.Pria itu tersenyum lembut, terlihat begitu tampan. “Sayang... kamu masih mengantuk, ya?”Dinara masih terpaku, tidak mampu bersuara menatap wajah itu.“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya pria itu lagi, tangannya terulur mengusap pipi Dinara lembut. “Aku kangen kamu, Sayang...”“M-Mas Elang?” lirih Dinara, suaranya bergetar.Elang semakin
Magbasa pa