Nala menghirup dalam-dalam aroma rumahnya. Bau kayu jati tua, pewangi lantai karbol, dan tumisan bumbu dapur yang meresap hingga ke sudut ruangan. Rasanya luar biasa menenangkan. Ia segera menuju dapur untuk mencuci tangan, sementara Bu Raras sibuk menata piring-piring di meja makan kayu yang cukup besar untuk mereka sekeluarga. "Nala, piringnya ambil di rak bawah ya, Nduk. Sendoknya juga, sekalian tolong bawa kerupuk di kaleng biru itu," perintah Bu Raras dengan nada riang yang tak tertutupi. Saat Nala sedang sibuk menata meja, terdengar suara deru mobil yang berhenti di halaman depan. Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang mantap menyusul, diiringi suara lembut seorang perempuan yang sedang tertawa. "Assalamu’alaikum! Waduh, aromanya udah sampai ke depan ini," seru sebuah suara berat yang berwibawa. "Wa’alaikumsalam! Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu," sahut Pak Bakti dari ruang tengah. Nala menoleh ke arah pintu penghubung ruang makan. Di sana berdiri Dimas, kakak sulungnya
Read more