LOGINSetelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras—ibu Nala—yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.
View MoreSetelah perjalanan panjang yang diisi keheningan, kereta yang membawa Nala dari ibu kota akhirnya tiba di stasiun kecil yang letaknya tidak jauh dari kampung halamannya. Dengan ransel di punggung dan koper kecil di tangan, Nala melangkah keluar dari peron, menghirup udara pedesaan yang lembap dan dingin yang menusuk paru-parunya, jauh berbeda dari asap knalpot yang selama ini ia hirup.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari seseorang yang akan menjemputnya. Lalu matanya berbinar saat melihat sosok yang tinggi besar dengan kaus oblong yang terlihat lusuh dan sedikit belepotan oli di bagian lengan. Itu Banyu—kakak keduanya—yang sedang berjalan ke arahnya dengan senyum tengil khas miliknya. "Mas Banyu!" seru Nala, ia segera melompat ke pelukan sang kakak. Pelukan Banyu terasa hangat dan sedikit berbau oli mesin, aroma yang familiar yang langsung mengendurkan sedikit ketegangan di pundak Nala. Banyu membalas pelukan Nala dengan satu tangan, sementara tangan yang lain ia gunakan untuk mengacak-acak rambut Nala. "Cih, akhirnya anak mami ini pulang juga. Udah puas jadi buruh korporat yang kerjanya cuma tiga bulan itu?" ejek Banyu, menimpuk kepala Nala pelan dengan topi baseball miliknya. Nala mendengus kesal, cepat-cepat menjauhkan diri dari sang kakak dan merapikan rambutnya yang acak-acakan. "Mas udah janji gak akan ngeledek aku loh kemarin!" "Kapan? Mas gak ngerasa tuh," balas Banyu, pura-pura tidak ingat sambil mengangkat bahu. "Gak usah ngelak, deh. Ini bukti chat-nya masih ada!" Nala menggerutu. Banyu tergelak. Ia meraih koper berwarna lilac milik Nala dan menggiring Nala ke arah mobilnya yang terparkir agak jauh. "Ya abisnya kalau gak dijanjiin kamu gak bakal mau pulang." "Lagian kenapa sih, kalian ngebet banget nyuruh aku pulang? Aku loh pengin mandiri, pengin cari pengalaman kerja, syukur-syukur bisa sekalian dapet jodoh di tempat kerja!" protes Nala, mengikuti langkah Banyu. Banyu mendadak menghentikan langkahnya dan menoleh tajam. "Heh! Kamu tuh bocah kemarin sore, gak usah mikirin jodoh-jodoh segala! Udahlah, ayo masuk mobil." Nala hanya mendengus saat Banyu memasukkan kopernya ke bagasi. Setelah Nala duduk di kursi penumpang, Banyu mengisi bangku kemudi. Ia melirik adiknya yang sudah duduk anteng. "Dengerin, Dek. Kalau urusan pekerjaan, di kampung juga banyak. Kalau gak dapet di desa sendiri, ya di pusat kota. Seenggaknya ada Mas Dimas yang ngawasin kamu. Kalau di Jakarta, Mama sama Papa tuh khawatir, Dek. Takutnya, kamu salah pergaulan dan lain-lain," jelas Banyu, nada usilnya sedikit meredup digantikan kekhawatiran khas seorang kakak. "Lagian, sebenernya kamu gak kerja juga gak masalah, toh uang jajan kamu aman. Selain dari Papa, Mas Banyu sama Mas Dimas juga ngasih kan? Atau nggak kamu bisa bantuin Papa di warung, lumayan tuh gajinya bisa buat beli skincare." Nala mendengus, ucapan Banyu memang seratus persen benar. Selama berkuliah, bahkan saat sudah mulai bekerja pun, Ayah dan kedua kakaknya—Dimas dan Banyu—rutin mengirimi Nala uang jajan tambahan, di luar uang kuliah dan uang sewa kos. Keluarga Nala memang terbilang mapan. Nala adalah anak bungsu yang paling dimanja, semua kebutuhannya selalu terpenuhi. Maka dari itu ia ingin mandiri dan merasakan punya penghasilan sendiri. Namun karena terbiasa dimanja dan dipenuhi kebutuhannya, membuat mental Nala down saat dihadapi dengan dunia kerja, yang ternyata tidak semudah itu. Saat mobil mulai berjalan, Nala memalingkan wajahnya ke samping. Memandang pepohonan dan kendaraan yang berlalu-lalang di luar jendela. "Mama sama Papa nanti gimana, ya, Mas?" Tanya Nala setelah beberapa saat hening. Banyu menoleh ke samping, ke arah sang adik. "Gimana apanya?" Nala menghela napas panjang, sedikit memilin ujung kausnya. "Mereka... kecewa gak, ya? Aku kemarin ngotot banget gak mau pulang, dan bakal buktiin kalau aku bisa mandiri, bisa survive di lingkungan kerja. Eh baru tiga bulan malah nyerah, dan akhirnya mundur. Mana alasan pulangnya karena diancam gak bakal di transfer lagi." Suara Nala terdengar kecil dan sarat rasa bersalah. Banyu kembali fokus pada jalanan di depannya, tetapi nadanya melembut. "Kanala, dengerin. Mereka itu cuma pengen kamu bahagia dan aman. Kalaupun mereka kecewa, itu bukan karena kamu gagal survive, tapi karena anak bungsunya kurus kering kayak gini," tangan kiri Banyu terulur untuk meraih pergelangan tangan Nala yang terasa lebih kecil dari beberapa tahun lalu, saat Nala untuk yang yang pertama kalinya berangkat ke Jakarta. "Kamu makan gak sih di sana? Kurus banget, Mama pasti bakalan ngomel-ngomel deh nanti, Mas yakin banget." Nala memukul lengan Banyu pelan. "Ih! Ya makan lah! Serius dulu dong, Mas!" Banyu terkekeh kecil, senyum tengilnya kembali terlihat. Ia melepaskan pergelangan tangan Nala, tetapi pandangannya kini lebih serius. "Mama dan Papa nggak akan kecewa, Dek. Mereka malah seneng karena akhirnya bisa bareng-bareng lagi sama anak bungsunya. Mas juga seneng, karena akhirnya ada orang yang bisa dijahilin di rumah." ujarnya yang langsung dihadiahi cubitan kepiting dari sang adik. Nala mendengus sebal, kemudian membuang napas lega karena beban di hatinya sedikit terangkat. Ia tahu, Banyu selalu pandai merangkai kata-kata meski dengan gaya bicara yang seenaknya. "Soal warung, ya bantuin sebisanya aja," lanjut Banyu. "Gak bantu juga gak apa-apa, Mama sama Papa juga gak akan maksa." Nala menggeleng pelan, "Enggak lah, Mas. Masa aku diem doang? Aku mau kok bantuin Papa jaga warung, seenggaknya aku harus punya kegiatan biar gak kepikiran buat nyoba balik ke... Jakarta lagi." Nala tersenyum kecut. "Nah, gitu dong! Itu baru adiknya Banyu!" Banyu memukul setir mobil sekali, bersemangat. "Lagian, Mas yakin kamu bakalan betah. Di sini udaranya enak, makanannya enak, dijamin berat badanmu balik normal dalam sebulan." Mereka kembali terdiam, hanya suara deru mesin mobil dan lalu lalang kendaraan sesekali yang mengisi keheningan. Nala memiringkan kepalanya ke jendela, memerhatikan deretan rumah penduduk yang mulai padat dan terasa asing. Ia melihat anak-anak kecil berlarian di halaman, beberapa pemuda sedang bermain voli di lapangan desa, dan sepasang kakek-nenek duduk santai di teras sambil menikmati teh. Kontras sekali dengan hiruk pikuk Jakarta yang penuh ambisi dan persaingan. Di sini, semuanya terasa berjalan lebih lambat, lebih damai. Tak lama kemudian, mobil Banyu berbelok memasuki sebuah jalanan yang teduh, dikelilingi pagar tanaman yang rapi. Di ujung jalan, terdapat sebuah rumah bergaya lama dengan halaman luas yang bersih, tanpa pagar. Nala bisa melihat sepasang paruh baya berdiri di teras. Mereka menyambut kedatangan mereka dengan senyum lebar. "Tuh lihat, Mama sama Papa kelihatan seneng banget," bisik Banyu, senyumnya ikut melebar. "Jantung Nala berdesir kencang. Sedikit rasa takut dan haru bercampur aduk. Saat Banyu mematikan mesin, Nala segera membuka pintu mobil. "Nala! Anakku!" Suara itu, suara ibunya yang bergetar menahan tangis, seketika meruntuhkan pertahanan diri Nala. Tanpa menunggu sedetik pun, ia berlari kecil dan langsung menghambur ke dalam pelukan wanita paruh baya yang mengenakan daster batik itu. "Mama..." cicit Nala, suaranya pecah. Aroma minyak angin bercampur wangi masakan rumahan yang menguar dari tubuh ibunya seketika membuat air mata Nala tumpah. Rasanya seperti pulang ke tempat paling aman di dunia setelah tersesat di hutan belantara. "Ya ampun, Nduk. Kamu kurus sekali!" Bu Raras—ibunya—melepas pelukan sejenak, menangkup wajah Nala dengan kedua tangannya yang hangat, lalu meneliti wajah putrinya dengan tatapan cemas berlebihan. "Pipi gembilmu ke mana? Di sana kamu makan teratur, kan? Atau kamu irit-irit biar bisa belanja-belanja di mall?" Nala tertawa di sela isak tangisnya. Prediksi Banyu benar seratus persen. "Makan kok, Ma. Cuma... ya gitu, makanan di sana nggak seenak bikinan Mama, bikin nggak selera. Aku jadi kangen masakan Mama, deh." Di belakang Bu Raras, Pak Bakti—ayahnya—melangkah maju. Pria yang rambutnya hampir memutih sepenuhnya itu tidak banyak bicara. Ia hanya tersenyum teduh, lalu menarik Nala ke dalam rengkuhan hangat yang kokoh. "Selamat datang kembali di rumah, anak Papa," bisik Pak Bakti lembut, mengecup puncak kepala Nala. "Maafin Nala ya, Pa. Nala gagal... Nala malah pulang," gumam Nala di dada ayahnya, rasa bersalah kembali menyengat. Pak Bakti menggeleng pelan, lalu menatap mata anak bungsunya lekat-lekat. "Pulang ke rumah bukan kegagalan, Nala. Itu namanya istirahat. Papa sama Mama justru sedih kalau kamu menderita sendirian di sana tapi diam aja." "Tuh, dengerin," celetuk Banyu yang baru saja tiba sambil menyeret koper lilac Nala dengan satu tangan dan memikul ransel Nala di bahu satunya. Ia nyengir lebar melihat adegan haru biru di depannya. "Udah dramanya? Ini koper Tuan Putri berat banget isinya, kayak bawa batu kali. Ayo masuk, Mas laper." Bu Raras langsung melotot ke arah Banyu, tapi sedetik kemudian ia kembali tersenyum cerah pada Nala. "Iya, ayo masuk. Mama udah masak brongkos kesukaanmu, sama tempe mendoan yang banyak. Mas Dimas sama Mbak Tari juga bentar lagi sampai, katanya dia bakal ngebut dari kota biar bisa makan bareng adik kesayangannya." Nala mengangguk semangat, menghapus sisa air mata di pipinya. Ia menggandeng lengan Bu Raras di kiri dan Pak Bakti di kanan, berjalan masuk ke dalam rumah yang lantainya terasa sejuk di telapak kaki. Saat melangkah melewati ambang pintu, melihat ruang tamu dengan sofa tua yang familiar dan foto wisudanya yang terpajang besar di dinding, hati Nala menghangat. Hiruk pikuk ibu kota, target pekerjaan yang gila, dan rasa sepi di kamar kos sempit itu rasanya sudah tertinggal jutaan kilometer di belakang. Benar kata Banyu. Mungkin ia memang "bocah kemarin sore" yang belum siap menghadapi dunia, tapi setidaknya sore ini, Nala tahu ia berada di tempat yang tepat. Ia sudah pulang. *** Tbc.Nala duduk bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututnya erat-erat. Tidak ada lagi isak tangis yang meledak-ledak. Air matanya kini jatuh perlahan, diam-diam, mengalir tanpa suara. Ia seolah sudah kehabisan energi, terlalu lelah bahkan untuk sekadar meraung keras di keheningan malam ini. Tatapannya kosong. Keputusan itu sudah terucap. Hubungannya dengan Hanggara sudah berakhir. Nala tidak pernah membayangkan kisah mereka akan menemui jalan buntu secepat ini. Enam bulan mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang, tapi bagi Nala, waktu itu cukup untuk merangkai rencana-rencana kecil yang ia simpan diam-diam di kepalanya. Obrolan santai tentang masa depan, candaan ringan soal bentuk rumah impian, hingga bayangan sederhana tentang Hanggara yang duduk di ruang tamu, berusaha mengobrol akrab dengan keluarganya. Ia memberikan seluruh kunci kepercayaannya kepada seseorang yang ternyata masih menyimpan kunci cadangan untuk masa lalunya. Nala menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang me
Parkiran rumah sakit sore itu terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen di sana telah habis terhisap oleh deretan mesin kendaraan yang menderu. Namun, kebisingan lalu lintas di luar gerbang sama sekali tak mampu memecah keheningan yang mencekam di kepala Hanggara. Ia mematung di samping mobilnya, menatap nanar layar ponselnya yang gelap dan dingin, sedingin hatinya saat Nala memutuskan sambungan telepon secara sepihak tadi. Hanggara sudah mencoba menelepon kembali berkali-kali, namun, tidak ada jawaban. Nala benar-benar menutup pintu untuknya. Kalimat yang diucapkan perempuan itu terus bergema, menghujam tepat di pusat rasa bersalahnya. 'Mas tuh udah nggak ada kepentingan apa pun sama dia.' Hanggara menunduk dalam, mengembuskan napas panjang yang terasa berat di dada. Nala benar. Sangat benar. Dan kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menata kepingan pikirannya yang porak-poranda sejak pagi. Saat telepon dari Rania m
Nala terdiam. Tangannya yang memegang ponsel perlahan mengencang, jemarinya memutih tanpa ia sadari. Detak jantungnya berubah tak beraturan. Perempuan itu memanggil Hanggara dengan nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Angga. Selama ini, Nala selalu memanggilnya Hanggara atau Gara. Semua orang di desa pun begitu. Tidak pernah sekali pun Nala mendengar ada orang yang memanggilnya sesantai itu. Panggilan itu terdengar sangat akrab. "Saya lagi telepon sebentar, kamu balik aja ke kamar. Takut Ibu kamu bangun dan nyariin, nanti saya nyusul." "Lagi telepon siapa sih? Ibu ya? Aku mau ngobrol dong, udah lama nggak ngobrol sama Ibu." Nala menutup matanya rapat, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu menyakitkan. Suara perempuan itu terdengar jelas. Terlalu jelas untuk dianggap salah dengar. Nada bicaranya ringan, manja, seolah ia sudah sangat terbiasa berada di sekitar Hanggara, bahkan dengan sadar ikut campur dalam percakapan pribadi lelaki itu. "Mas," panggil Nala, menco
Nala sempat mengira, menjalin hubungan dengan laki-laki sedewasa Hanggara akan selalu adem-ayem. Enam bulan belakangan, perhatian Hanggara memang sukses membuatnya merasa menjadi perempuan paling beruntung. Namun hari ini, ketenangan itu terusik. Sosok yang biasa mengisi hari-harinya itu seolah raib ditelan bumi. Pesan yang Nala kirimkan sejak pagi belum menunjukkan tanda-tanda akan dibalas. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Sebenarnya Nala mencoba maklum. Ia tahu kesibukan Hanggara tidak main-main, mulai dari mengurus toko, memantau sawah, hingga mengecek peternakan. Tapi, apa sesulit itu meluangkan waktu satu menit saja untuk memberi kabar agar ia tidak dilanda kebingungan seperti ini? Dengan helaan napas panjang, Nala kembali melirik layar ponselnya. Ruang percakapannya dengan Hanggara masih sama seperti pagi tadi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Putus asa, ia menaruh benda pipih itu ke dalam laci meja. Nala memutuskan beranjak, menghampiri ayahnya yang sedang sibuk me
Setelah adegan Nala yang terperosok ke sawah, Hanggara benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia berpamitan pada Pak Kardi dan warga lainnya, yang tentu saja melepas mereka dengan siulan godaan yang tak kunjung henti."Ayo, kita cari makan. Kamu pasti capek nungguin saya di sini," uja
Beberapa minggu kemudian, rutinitas Nala sedikit berubah. Jika biasanya ia menghabiskan pagi hingga siang di warung membantu ayahnya. hari ini ia memutuskan untuk meliburkan diri sejenak. Pikiran Nala sedang ingin berkelana, maka kakinya pun ia bawa melangkah menyusuri jalanan desa yang masih asri.
Setelah sekitar satu jam bergulat dengan bumbu dapur, aroma harum sayur lodeh, tempe goreng dan sambal goreng mulai memenuhi ruangan. Nala baru saja selesai menata piring-piring di atas meja makan kayu yang besar ketika terdengar suara pintu depan terbuka diikuti salam yang diucapkan bersamaan. "N
Begitu melewati pintu jati yang kokoh, Nala disambut oleh suasana rumah yang sangat tenang. Di ruang tamu yang luas itu, seorang pria paruh baya yang masih tampak bugar duduk di sofa tunggal. Pria itu memakai koko putih dan sedang meletakkan korannya begitu menyadari kehadiran tamu."Nah, Pak, ini












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews