Pluk.Satu tetes air comberan jatuh lagi dari sela atap semen bunker. Tepat kena di kelopak mata kiri asliku yang terbuka setengah. Keruh. Asin campur amis lumpur parit. Aku bahkan tidak bisa memejamkan mata buat mengusap cairan kotor itu. Mati rasa total. Seluruh plat besi di panggul, bahu, dan leher bawahku sudah terkunci kaku, tenggelam di bawah tumpukan daki semen kotor dan tahi kelelawar kering.Mati suri yang merepotkan.Dari dalam lubang dada kiriku yang bernanah, bau oli rem kental bercampur bensin busuk masih merembes keluar tanpa henti. Membuih. Cairan hitam itu mengalir pelan menembus ubin semen bunker yang retak, mengalir ke dalam ceruk pipa pembuangan di luar rumah pompa tua.Noda minyak busuk itu yang jadi petunjuknya.Ngiiiiing...Suara dengingan tinggi mendadak memotong keheningan saluran got bawah tanah. Tajam sekali. Bunyinya cempreng memetakkan telinga, mirip suara mesin pemotong keramik yang dinamonya sudah aus dipaksa memotong pelat baja tebal. Bau karbit terbakar
Baca selengkapnya