Masuk"Jika memelukmu berarti mati, aku akan tetap melakukannya hingga napas terakhirku." . . Seo Haneul berubah menjadi monster yang harus memangsa energi kehidupan manusia. Sialnya, satu-satunya "makanan" yang bisa menenangkan dahaganya hanyalah Panglima Hamin—pria yang paling ia cintai. Hamin diberikan tugas untuk mengeksekusi Haneul, namun ia justru memilih mengkhianati negara demi menjadi tumbal hidup bagi sang kekasih. Di tengah kejaran militer dan kutukan yang perlahan menghapus ingatan Haneul, sanggupkah mereka bertahan? Atau Haneul akan benar-benar melahap nyawa Hamin sebelum ia sempat mengucapkan selamat tinggal?
Lihat lebih banyak"Eksekusi dia, Panglima! Atau kau ingin kami menganggapmu sebagai bagian dari monster itu?"
Suara Penasihat Kael menggelegar di antara deru mesin helikopter tempur yang mengepung puncak Retakan Timur. Sorot lampu raksasa dari langit menyinari sosok Seo Haneul yang berlutut di tengah lingkaran kristal suci. Tangannya terikat rantai plasma yang membara, mengeluarkan desis saat menyentuh kulit pucatnya. Namun, bukan luka bakar itu yang menyiksanya.
Di dalam dadanya, sesuatu yang gelap sedang mencakar, merayap di sepanjang pembuluh darahnya, dan menuntut untuk dilepaskan. Haneul bisa merasakan setiap detak jantungnya mengirimkan gelombang kehampaan yang mendinginkan tulang. Ia bukan lagi manusia murni; ia adalah wadah bagi kegelapan purba yang lapar.
Haneul mendongak dengan susah payah. Rambut hitamnya yang basah oleh keringat dan debu menutupi sebagian wajahnya yang kuyu. Di hadapannya, berdiri pria yang selama tiga tahun ini menjadi seluruh dunianya—tempatnya pulang, sauh bagi kewarasannya. Panglima Hamin.
Pria itu tampak gagah sekaligus mengerikan dengan seragam militer hitam yang kaku dan lencana emas yang berkilat tertimpa cahaya lampu sorot. Pedang hitam panjang di tangannya terhunus tepat di depan wajah Haneul. Ujung logamnya yang tajam memantulkan bayangan mata Haneul yang mulai kehilangan warna beningnya.
"Hamin..." Suara Haneul parau, pecah oleh rasa sakit yang tak terlukiskan. "Tolong... bunuh aku sebelum aku benar-benar berubah menjadi mahluk yang kau benci."
Mata Hamin yang biasanya menatapnya dengan kelembutan yang memabukkan, kini sedingin bongkahan es di puncak gunung. Tidak ada keraguan di wajah rupawan itu, hanya garis rahang yang mengeras. Namun, Haneul yang sangat mengenal pria ini bisa melihat urat-urat di tangan Hamin menonjol, mencengkeram gagang pedangnya hingga sarung tangan kulitnya berderit.
"Kau bukan lagi wanita yang kukenal, Haneul," ucap Hamin. Suaranya datar, tanpa emosi, namun cukup keras untuk didengar oleh seluruh pasukan elit yang mengepung mereka dengan moncong senjata plasma yang siap menyalak. "Kau adalah anomali. Kau adalah parasit yang akan memusnahkan Seowon jika dibiarkan bernapas lebih lama."
"Hamin, lakukan sekarang juga! Jangan biarkan sentimen pribadimu menghancurkan negara!" teriak Kael lagi dari balik barikade baja. "Selesaikan tugasmu atau aku sendiri yang akan memberikan perintah tembak pada seluruh unit!"
Hamin melangkah maju, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka. Sepatu bot militernya mengeluarkan bunyi berdentum di atas lantai kristal. Ia menjulurkan tangan kiri, menarik rambut Haneul dengan kasar, memaksanya menengadah hingga lehernya yang jenjang terpapar di bawah ujung pedang yang dingin. Haneul terisak, bukan karena takut mati, tapi karena pria yang ia cintai kini menatapnya seolah ia adalah sampah yang harus dibersihkan.
Haneul memejamkan mata, menunggu tebasan yang akan mengakhiri segalanya. Namun, saat bibir Hamin mendekat ke telinganya, sebuah bisikan yang lebih tajam dari pedang mana pun terdengar di tengah kebisingan mesin helikopter.
"Jangan berani-berani mati sebelum aku benar-benar memilikimu sepenuhnya, Haneul," bisik Hamin. Getaran suaranya hanya bisa didengar oleh mereka berdua, penuh dengan obsesi yang gelap dan gila.
Haneul terbelalak, iris matanya bergetar. Belum sempat ia mencerna maksud pria itu, Hamin tiba-tiba melakukan gerakan yang tak terduga. Ia membalikkan tumpuan kakinya dan mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh.
Kring! Srak!
Bukan leher Haneul yang ditebas, melainkan simpul utama rantai plasma yang mengikatnya. Ledakan energi ungu terjadi akibat pemutusan paksa, melemparkan debu, bunga api, dan asap tebal ke udara. Kekacauan instan pecah di tengah formasi pasukan Seowon yang terkejut.
"Hamin! Apa yang kau lakukan?! Kau sudah gila?!" Kael berteriak histeris, wajahnya memerah karena amarah dan ketakutan. "Prajurit! Tembak! Eksekusi mereka berdua tanpa ampun!"
Rentetan peluru plasma mulai menghujani area tersebut, menciptakan lubang-lubang hangus di lantai kristal. Hamin tidak melarikan diri untuk mencari perlindungan. Sebaliknya, ia menjatuhkan pedang mahalnya ke tanah dengan bunyi denting yang hampa dan menarik Haneul ke dalam pelukan yang menyesakkan.
Haneul bisa merasakan detak jantung Hamin yang berpacu kencang di balik zirah dadanya. Bau parfum maskulin bercampur aroma logam yang khas dari tubuh pria itu merasuk ke indranya, memicu rasa lapar yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya.
"Apa kau lapar, Sayang? Apa kau menginginkan hidupku?" tanya Hamin. Suaranya kini terdengar gila namun penuh gairah yang menyimpang. Ia menarik kasar kerah seragam militernya, merobek kancing-kancingnya hingga menyingkap leher dan dada atasnya yang berdenyut dengan energi mana murni yang melimpah. "Makanlah dariku. Hisap semua nyawaku sampai kering, tapi jangan pernah lepaskan pelukan ini sedikit pun."
Haneul mengerang rendah. Aroma energi murni dari tubuh Hamin—energi dari seorang pria alfa yang sangat kuat—memicu insting monsternya hingga ke puncak. Ia tidak bisa lagi menahan rasa haus yang membakar jiwanya. Kegelapan di dalam dirinya meledak, mengambil alih kewarasannya.
"Aku akan membunuhmu, Hamin... aku akan melahapmu habis..." isak Haneul di sela-sela taringnya yang mulai memanjang.
"Lakukan," tantang Hamin, tangannya menekan kepala Haneul agar semakin merapat ke lehernya.
Haneul menancapkan taringnya ke leher Hamin. Sensasi hangat dan manis dari energi kehidupan pria itu mengalir masuk ke dalam nadi Haneul yang kering dan kerontang. Rasa sakit yang tadi menyiksa sel-sel tubuhnya perlahan menghilang, digantikan oleh sensasi kenikmatan yang memabukkan dan kekuatan dahsyat yang meluap-luap.
Hamin mengerang keras, sebuah suara yang terjepit antara rasa sakit yang hebat dan kepuasan yang aneh. Kepalanya mendongak, matanya terpejam saat esensi kehidupannya disedot paksa keluar. Tubuhnya bergetar, namun bukannya menjauh, ia justru melingkarkan lengannya di pinggang Haneul lebih erat, mengunci tubuh wanita itu pada tubuhnya sendiri. Ia membiarkan dirinya menjadi tumbal hidup, menjadi makanan bagi monster yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri.
"Teruslah makan... ambil semuanya..." bisik Hamin dengan napas yang mulai pendek dan tersendat. "Jadilah monster yang paling kuat di dunia ini, Haneul. Agar kau bisa menghancurkan siapa pun yang mencoba memisahkan kita, termasuk negara ini."
Ledakan misil pertama menghantam tanah hanya beberapa meter dari tempat mereka berlutut. Gelombang kejutnya menerbangkan puing-puing, namun Hamin tetap bergeming. Haneul melepaskan gigitannya, darah merah gelap menetes dari bibirnya yang kini tampak menggoda sekaligus mematikan. Matanya kini sepenuhnya hitam tanpa pupil, memancarkan cahaya ungu yang berpendar.
Haneul berdiri perlahan, tubuhnya kini tegak dengan aura yang sangat dominan. Sebuah sayap bayangan hitam raksasa muncul dari punggungnya, terbentang lebar menutupi tubuh Hamin yang mulai terkulai lemas akibat kehilangan banyak energi. Sayap itu menyapu peluru-peluru plasma yang datang seolah-olah mereka hanyalah gangguan kecil yang tak berarti.
"Kau memberikan ini padaku, Hamin," ucap Haneul. Suaranya kini bukan lagi suara manusia; suara itu berlapis dengan gema kematian yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa merinding ketakutan. "Maka aku akan memastikan mereka semua membayar mahal untuk setiap tetes darah dan energi yang kau berikan padaku hari ini."
Haneul melesat ke arah barisan pasukan Seowon seperti bayangan maut. Ia tidak menggunakan senjata, melainkan sulur-sulur hitam yang keluar dari telapak tangannya, menembus zirah baja para prajurit seolah itu hanya terbuat dari kertas.
"Target menghilang dari radar! Dia bukan lagi manusia! Mundur! Seluruh unit segera mundur!" teriak para prajurit dalam kepanikan luar biasa saat kabut hitam mulai menelan seluruh puncak gunung, membawa jeritan kematian yang bersahut-sahutan.
Kael mencoba melarikan diri ke helikopternya, namun ia membeku saat melihat Haneul berdiri di hadapannya dengan tatapan haus darah.
Di tengah kekacauan, api, dan aroma kematian itu, sebuah kutukan baru saja resmi dimulai. Kutukan yang tidak lahir dari sihir kuno, melainkan dari sebuah cinta yang terlalu gelap, terlalu obsesif, dan terlalu berdarah untuk disebut suci. Hamin, yang tergeletak lemah di tengah lingkaran kristal, hanya tersenyum tipis menatap kehancuran di depannya. Ia telah berhasil menciptakan ratunya sendiri.
Pluk.Satu tetes air comberan jatuh lagi dari sela atap semen bunker. Tepat kena di kelopak mata kiri asliku yang terbuka setengah. Keruh. Asin campur amis lumpur parit. Aku bahkan tidak bisa memejamkan mata buat mengusap cairan kotor itu. Mati rasa total. Seluruh plat besi di panggul, bahu, dan leher bawahku sudah terkunci kaku, tenggelam di bawah tumpukan daki semen kotor dan tahi kelelawar kering.Mati suri yang merepotkan.Dari dalam lubang dada kiriku yang bernanah, bau oli rem kental bercampur bensin busuk masih merembes keluar tanpa henti. Membuih. Cairan hitam itu mengalir pelan menembus ubin semen bunker yang retak, mengalir ke dalam ceruk pipa pembuangan di luar rumah pompa tua.Noda minyak busuk itu yang jadi petunjuknya.Ngiiiiing...Suara dengingan tinggi mendadak memotong keheningan saluran got bawah tanah. Tajam sekali. Bunyinya cempreng memetakkan telinga, mirip suara mesin pemotong keramik yang dinamonya sudah aus dipaksa memotong pelat baja tebal. Bau karbit terbakar
Pluk... pluk...Tetesan air keruh berkarat dari celah langit-langit semen bunker mendarat lagi di atas pelipis kananku. Asin. Bau lumut tua bercampur kotoran kelelawar kering yang mengendap berbulan-bulan makin padat menyumbat sisa respirator hidungku yang pecah katupnya.Lantai semen ini dinginnya tidak main-main. Rasa kebas menjalar tebal dari pangkal leher bawah sampai ke ujung lima jari tangan kanan organikku yang terkulai di atas tanah.Mati suri. Seluruh bodi besi seberat ratusan kilo ini terbaring kaku tanpa ada pendar lampu indikator sama sekali. Tapi dinding semen bunker yang tebal ini bertindak seperti corong pelantang suara. Tiap getaran kecil dari saluran got utama di luar rumah pompa tua merembes lurus masuk ke dalam kawat saraf tulang punggungku yang longgar dudukannya.Khuk! Huek!Suara batuk parau memantul keras di dalam terowongan beton di bawah tanah. Dekat sekali. Vane. Kapten pemberontak itu menyemburkan dahak kental bercampur darah tua ke dalam air comberan kotor.
Tuk.Sebuah batu kerikil kecil lepas lagi dari langit-langit semen bunker. Jatuh tepat di atas pelipis kananku yang sudah mati rasa. Bunyinya pluk kusam, tenggelam di antara bau bacin kotoran kelelawar kering dan bau oli rem busuk yang menyumbat seluruh lubang respirator penyokku.Mati suri. Seluruh sirkuit dari batas rahang sampai ujung sepatu bot militarku benar-benar tidak bergerak. Mau mengedipkan kelopak mata kiri asliku yang terbuka setengah saja rasanya seperti menyeret jangkar kapal karam di dasar lumpur parit.Bzzzzt...Kawat tembaga di dalam lubang dada kiriku yang bernanah meletup pelan. Kecil sekali. Cuma sekelebat percikan setrum tipis yang membakar sisa daki di tulang rusuk asliku, tapi getarannya menjalar lurus menembus tanah menuju Istana Seowon di tengah kota. Tali mana kehidupan. Kawat gaib yang membentang di antara jantungku yang mati suri dan dada Haneul kembali menyalurkan gema gila dari panggung takhta sana.Hah... hah...Sensasi napas Haneul yang tercekat di ker
Pluk... pluk.Tetesan air tanah berbau karatan mendarat tepat di sela pelipis kiriku yang penuh kerak semen kering. Dingin. Cairan keruh itu mengalir lambat melewati pipi asliku, tersangkut di sudut bibirku yang pecah-pecah berdarah. Asin campur daki. Mati rasa total dari batas leher sampai ke ujung bot militer penyokku yang solnya sudah melosot di dalam lumpur bunker.Gelapnya ruangan semen bawah tanah ini benar-benar pekat, tebal, mirip ditimbun karung terpal kotor di dasar sumur mati. Jam internal di dalam tempurung kepalaku sudah mati total sejak indikator Fatal-00 menyala di mata bionikku beberapa hari lalu.Kopong. Mati suri beneran badanku sekarang.Aneh beneran sisa isi otak manusianya. Di tengah kondisi kotor ti
Bab 6: Prasasti di Dinding KristalDingin. Bukan hanya suhu kristal hitam yang mencengkeram kulit Haneul, melainkan dinginnya kehampaan yang perlahan merayap masuk ke dalam benaknya. Di Menara Kehampaan ini, waktu seolah membeku. Sudah berapa lama ia terkurung di sini? Hari dan malam tidak lagi mem
Rasa sakit adalah hal pertama yang menyapa Hamin saat kesadarannya kembali. Bukan sekadar rasa sakit fisik akibat luka ledakan misil yang menghantam Hutan Perbatasan, melainkan rasa hampa yang luar biasa di dalam dadanya—seolah-olah separuh jiwanya telah direnggut paksa, diseret melintasi dimensi,
Raungan mesin helikopter tempur Seowon kini terdengar seperti raksasa kelaparan yang mengepung dari langit. Cahaya lampu sorot raksasa membelah kabut hutan yang pekat, menciptakan garis-garis putih yang mematikan di antara pepohonan raksasa. Kematian bukan lagi sekadar ancaman; ia hanya berjarak be
Hujan di Hutan Perbatasan tidak lagi terasa dingin bagi Haneul. Justru sebaliknya, setiap tetes air yang menyentuh kulitnya terasa seperti bensin yang menyulut api kegelapan di dalam nadinya. Energi murni yang baru saja ia hisap paksa dari Hamin bergejolak di dalam lambungnya, memacu adrenalin yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.