Dengan sigap, Dina menepuk-nepuk punggung Acha yang terbatuk. “Makanya yang ditelan airnya aja, jangan sama botolnya.” “Uhuk ... uhuk!” Acha masih batuk beberapa kali. Di sela-sela batuknya, tawa kecil tetap lolos begitu saja mendengar ucapan Dina yang terlalu ngawur. “Sialan kamu!” gerutunya di sela-sela ia mengatur napas. Di sisi lain, Celine sudah tertawa keras sampai memegangi perut. “Lagian ditanya begitu doang sampai kaget segitunya,” omelnya sambil menggeleng-geleng kepala. Acha mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu berkedip beberapa kali. Baru setelah batuknya mereda, pertanyaan Celine benar-benar mengendap di kepalanya. Sejak kemarin isi kepalanya hanya dipenuhi wajah Elvano, pengakuan pria itu, dan ciuman mereka di dapur. Saking bahagianya, ia bahkan lupa kalau sebuah pengakuan belum otomatis mengubah status hubungan mereka. Ah, payah! Bisa-bisanya ia sama sekali tak kepikiran sampai ke situ. “Elvano memang bilang suka, sih, tapi ....” Acha menggaru
อ่านเพิ่มเติม