"Ah, Sayang. Jadi bohongmu ketahuan ya? Aktingmu tadi sungguh luar biasa, tapi sayangnya, kau lupa kalau aku ini sutradara yang jauh lebih hebat darimu," ledek Ganda habis-habisan begitu Kael melangkah pergi meninggalkan ruang rapat dengan wajah kaku. Gladis berdiri mematung, wajahnya merah padam menahan malu yang luar biasa. Noda merah di leher yang tadi ia pamerkan sebagai simbol kemenangan, kini justru terasa seperti simbol kehinaan. Ia tidak menyangka Ganda akan senekat itu menyeret harga dirinya ke dalam skenario hubungan rahasia yang di luar dugaan."Kau... kau benar-benar pria paling kasar dan kejam yang pernah kutemui!" teriak Gladis, suaranya melengking karena frustrasi."Kasar? Kejam katamu? Aku hanya membantu mengklarifikasi kebenaran, Nona. Kau ingin membuat Sabrina cemburu dengan noda buatanmu sendiri, dan aku membantumu menunjukkan pada dunia siapa pelakunya. Adil, bukan?" Ganda ter
Baca selengkapnya