"Hei, jangan berpikir kalau aku sedang memaksamu atau menuntut sesuatu," ucap Kael dengan nada suara yang mendadak terdengar sedikit terbakar kegugupan. Ia berdeham pendek, mencoba menetralkan debar di dadanya sebelum melanjutkan dengan kalimat yang sedikit terbata-bata. Ia la bahkan meremas lembut kedua tangan Sabrina. "Aku... aku hanya ingin kita bertukar pikiran. Yaa, semacam itulah." Sungguh, di dalam benak Kael saat ini, ada rasa takut yang teramat besar yang mendadak menyergap jiwanya. Kael tahu betul seberapa dalam luka yang tersimpan di dalam diri gadis itu. Ia mendadak cemas jika pertanyaannya barusan justru bertindak seperti pemicu yang membangkitkan kembali trauma masa lalu Sabrina yang ia tahu belum benar-benar pergi sepenuhnya. Namun, alih-alih meledak marah, tersinggung, atau menu
Baca selengkapnya