“Apa kau yakin?” Kael menaikkan sebelah alisnya, menatap lurus ke dalam manik mata Sabrina yang tampak sayu namun memancarkan kilat keras kepala yang kentara itu.“Sangat yakin,” sahut Sabrina mantap, meski sebuah uapan kecil hampir saja lolos lagi dari bibirnya. “Aku tidak akan tidur. Aku yang membuatmu seperti ini, jadi aku yang harus menjagamu.”Kael terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dalam dada. “Menjagaku dengan cara mengantuk di kursi itu? Yang ada besok pagi lehermu akan kaku.”“Aku bisa bertahan, Kael. Jangan meremehkanku,” protes Sabrina sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Melihat keras kepalanya sang kekasih, ego Kael melunak. Ia tahu tidak ada gunanya mendebat wanita yang sedang dirundung rasa bersalah yang besar. Pria itu menghela napas pasrah, lalu menekan tombol interkom di atas nakas.Tak lama, Teguh melangkah masuk. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”“Teguh, sebelum kau dan Ganda pulang, tolong dekatkan bed khusus penjaga itu ke sisi ranjangku. Ra
Read more