Sabrina mencoba memalingkan wajahnya yang memerah, namun jemari Kael dengan lembut namun tegas menopang dagunya, memaksa sepasang manik mata mereka untuk kembali beradu.“Kau meragukan ketangguhanku hanya karena aku sedang demam, hmm?” bisik Kael dengan suara bariton yang serak dan begitu mengintimidasi ego kelaki-lakiannya.Sabrina menggeleng cepat dengan raut panik yang menggemaskan, lalu berkata, “Kau ini apa-apaan sih? Turunlah, badanmu berat sekali!” Kael yang sudah dilanda cemburu aneh itu malah kembali bersuara, mengabaikan protes istrinya. Seringai tipisnya terbit, penuh dengan kilat provokasi yang seksi. “Bagaimana kalau kita tes bersama, apakah tenagaku ini sudah sepenuhnya pulih atau belum?”
Read more