"Sayangnya, kau terlambat, Alaric." bisik Celestine, suaranya terdengar begitu tipis dan datar, nyaris tenggelam di antara desau angin malam yang berembus pelan di dalam taman kaca. Detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar di sekitar mereka. Alaric, sang Raja baru Ethelwilde yang masih berlutut di atas lantai batu yang dingin, menegang kaku. Sepasang netra safirnya membelalak kecil, memancarkan keterkejutan yang tidak ia sangka. Genggaman tangannya pada kotak beludru berisi cincin platinum itu mengeras, sementara guratan kepanikan yang luar biasa hebat kembali mencoreng wajah tampannya. Detak jantungnya serasa melompat turun ke lambung, ia benar-benar mengira bahwa dirinya baru saja ditolak secara telak setelah semua pengakuan dosa yang ia ucapkan. bahkan kata-kata paling tulus yang pernah ia ungkapkan tidak bisa membuat Celestine luluh untuk menerima lamarannya. Celestine sengaja memalingkan wajahnya sejenak, menatap deretan kelopak bunga lavender di dekat kolam pancuran
Read more