Pagi hari di rumah Pak Herman, mereka sedang menikmati makan pagi bersama di ruang makan yang mewah dan bernuansa klasik Eropa. Sinar matahari pagi Amsterdam yang hangat menembus celah-celah jendela kaca besar, menerangi meja makan kayu yang dipenuhi oleh hidangan sarapan roti panggang, sosis premium, telur setengah matang, serta kopi hitam yang harum mengepul. Pram duduk dengan setelan kemeja formal yang sangat pas membungkus tubuh tegap berototnya, memancarkan aura seorang pemimpin muda yang penuh wibawa. Di sebelahnya, Dara tampak begitu segar dan anggun dengan riasan natural, duduk dengan sikap sempurna khas asisten pribadi kelas atas setelah melewati malam yang luar biasa panas di lantai tiga.Meskipun hidangan di atas meja terasa sangat lezat, suasana di ruang makan itu diliputi oleh ketegangan yang cukup pekat. Pak Herman yang duduk di ujung meja tampak tidak tenang, berulang kali memainkan sendoknya tanpa benar-benar menyentuh makanannya.”Gimana, Pram? Kamu sudah memikirka
Read more