Tiga hari sudah Maudy dirawat, dan hari itu dia diizinkan untuk pulang. Siang itu, udara di parkiran rumah sakit terasa cukup terik saat Bayu membantu Maudy masuk ke dalam taksi. Maudy tampak jauh lebih baik secara fisik, tapi sorot matanya masih menyimpan luka yang dalam. Hingga administrasi selesai, sosok Rio tidak pernah muncul. Suaminya itu hanya mengirimkan pesan singkat sepuluh menit yang lalu. "Aku tidak bisa jemput. Ada meeting dadakan dengan vendor dari Singapura. Pulanglah sendiri!" tulis Rio pada pesan yang dia kirim untuk Maudy. Usai membaca pesan itu, Maudy menyandarkan kepalanya di kursi taksi, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. "Aduh, Bu... jangan ditekuk begitu wajahnya. Nanti kalau ada kaca spion yang pecah gara-gara lihat muka Ibu yang mendung, saya nggak sanggup ganti ruginya, gaji OB saya bisa minus setahun," celetuk Bayu yang duduk di depan, di samping supir taksi. Maudy sedikit melirik, sudut bibirnya berkedut. "Kamu ini, bisa tidak sehari sa
Read more