Malam telah berlalu dan pagi menjelang. Maudy kembali pulang, dan dia mendapati Rio berdiri di ruang tengah. Wajah pria itu kuyu, matanya merah menunjukkan ia tidak tidur semalaman karena dilanda kecemasan yang luar biasa. Rio segera menghampiri Maudy. Tidak ada bentakan, tidak ada tatapan meremehkan. Dia tidak ingin kedokny terbongkar. "Maudy, kamu baru pulang?" suara Rio terdengar sangat lembut, bahkan terkesan dipaksakan. Ia mencoba meraih tas tangan Maudy, sebuah gestur manis yang tidak pernah ia lakukan selama bertahun-tahun. "Ya Mas. Sekarang aku mau persiapan pergi ke kantor," sahut Maudy sembari berjalan masuk menuju ke kamarnya. Sikap semena mena Rio dan keluarganya membuat Maudy menjadi perempuan yang dingin, kaku dan pemberani. "Aku... aku minta maaf soal semalam. Aku hanya cemas, tidak bermaksud menggangumu," ucap Rio untuk pertama kalinya meminfa maaf paca Maudy. Maudy tidak membuang muka. Sebaliknya, ia menatap Rio dengan senyum paling, manis dan tulus yang perna
Read more