Seketika Mahendra bangkit dari kursinya. Soraya ikut menoleh dengan mata membulat. Tak lama kemudian, dua sosok itu muncul dari balik pintu. Kaelix berjalan lebih dulu dengan pembawaannya yang tenang dan berwibawa. Di sampingnya, Sasqia tersenyum hangat sambil membawa beberapa paper bag. Di belakang mereka, dua orang sopir menyusul dengan kedua tangan penuh membawa buah-buahan premium, parcel, kotak-kotak hadiah, hingga berbagai oleh-oleh yang memenuhi pelukan mereka. Sasqia langsung tersenyum begitu melihat keluarganya. “Papa … Sasqia pulang.” Ucapnya penuh semangat. Mahendra sontak bangkit dari kursinya. Tanpa memedulikan siapapun lagi, ia berjalan cepat menghampiri putri bungsunya. “Sas ....” Begitu jarak mereka tinggal selangkah, Mahendra langsung merengkuh tubuh Sasqia ke dalam pelukannya. Pelukan itu begitu erat, begitu penuh rasa rindu. Sasqia sempat terkejut, namun perlahan kedua tangannya ikut membalas pelukan sang ayah. “Papa ....” Senyumnya mengembang tipis. “Akh
Read more