“Mobil sudah siap mengantar Bapak ke restoran untuk makan siang,” lapor Arlan setelah rapat bersama jajaran divisi berakhir. Kaelix menghembuskan napas pelan. Sejujurnya, ia sama sekali tidak berselera makan. Namun, pekerjaannya masih menumpuk hingga malam. Ia tetap membutuhkan tenaga. Pria itu bangkit dari kursi kerjanya, merapikan jas yang dikenakannya, lalu melangkah menuju pintu dengan Arlan mengikuti beberapa langkah di belakang. Klek. Begitu pintu terbuka, Kaelix mendapati Sasqia sudah berdiri di depan ruangannya, tangan kanannya terangkat, hendak mengetuk. “Mas ...,” senyum manis langsung merekah di wajah cantik wanita itu. “Aku dateng bawain makan siang buat kamu.” Ia mengangkat paper bag yang dibawanya dengan antusias. “Aku masak sendiri. Masih hangat.” Tatapan Kaelix jatuh pada paper bag itu selama beberapa detik. Lalu kembali menatap wajah istrinya. “Saya tidak meminta.” Kalimat itu terdengar datar, cukup membuat senyum Sasqia sedikit memudar. “Aku tahu,” balasnya
Read More