Mereka kini duduk berdampingan di sofa kamar–Karuna yang membawanya. Ia tidak mungkin melanjutkan topik yang dibawa sang adam untuk dihabiskan di dalam kamar mandi tertutup.Setidaknya mereka perlu udara segar untuk bisa berpikir jernih.“Memaafkan… kesalahan keluarga kamu?” ulang Karuna pelan, suaranya nyaris hilang.Rajendra mengangguk pelan. Matanya yang biasanya tajam kini dipenuhi badai yang kelam.“Kamu sempat ketemu Ayah kemarin?”“Iya,” jawab Rajendra, suaranya rendah. “Saya tidak bisa menahan diri.”Karuna merasakan dadanya sesak. Ada rasa takut yang pelan merayap, seolah ia sudah tahu bahwa apa yang akan didengarnya akan mengguncang damai yang baru ia bangun kembali.“Terus Ayah bilang apa?”Rajendra menarik napas dalam-dalam, seolah bahkan udara lepas di sekitarnya tiba-tiba menipis. Ia menatap bola mata Karuna cukup lama, ada luka, amarah, dan kelelahan yang begitu kental di netranya.“Ayah meminta maaf,” katanya getir. “Beserta semua alasan yang dia bawa. Tapi saya belum b
Terakhir Diperbarui : 2026-06-14 Baca selengkapnya