“Saya tidak ragu, Karuna.”“Tapi semua kekhawatiran kamu menuju ke sana, Rajendra.”Kalimat itu meluncur pelan, tetapi jatuh tepat pada sesuatu yang paling Rajendra jaga; keyakinannya sendiri. Karuna menatapnya dengan netra yang tampak tenang, meski di balik ketenangan itu terselip kecewa yang diam-diam tumbuh terlalu liar untuk ia kendalikan.“Seolah kalau kamu kerjasama dengan dia, pernikahan kita yang jadi taruhannya,” lanjut Karuna.Rajendra menghela napas panjang. Jemarinya naik untuk memijat pangkal hidung, sementara benaknya mulai penuh oleh sekian banyak hal yang mustahil ia jelaskan hanya dengan satu kalimat sederhana.“Yang datang ke kantor saya bukan Agung,” jujurnya akhirnya.“Bukan ayah Serena,” lanjut Rajendra, kali ini lebih menekan pengakuannya, seolah ingin Karuna memahami bahwa perkara Deluxe tidak sesederhana yang ia kira. Ada sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar kerjasama bisnis dan proposal menguntungkan. Dari tempatnya berdiri, Rajendra melihat wajah Karuna
Read more