14 “Ah, iya, Dok." Nayla tergagap. Ia mengerti dan cepat-cepat mengangguk untuk merapikan pakaiannya. Setelah itu, Dokter Naufal melangkah ke pintu dan membukanya. Ia kembali memasang wajah datar tanpa ekspresi seperti biasa. Sebisa mungkin ia menahan hasrat yang kian meledak di bawah sana. Seorang perawat sudah menunggu di luar. “Ada apa?” tanya Naufal datar. “Dok, Nyonya ingin bertemu. Beliau sedang menunggu di ruang tunggu,” jawab perawat. “Baik. Aku segera ke sana.” Sebelum pergi, Naufal menoleh sekilas ke arah Nayla. “Semua instruksi medis akan disampaikan melalui perawat. Obat, jadwal kontrol, dan hasil laboratorium nanti dijelaskan oleh mereka.” “Baik, Dok,” angguk Nayla pelan. Naufal pun langsung meninggalkan ruangan begitu saja. Pintu tertutup pelan. Tak lama kemudian, perawat tadi masuk membawa resep dan lembar instruksi. “Ini resep obatnya, Nyonya. Nanti bisa ditebus di apotek lantai bawah. Obatnya harus diminum sesuai jadwal, jangan sampai terlewat lagi ya.” “
Baca selengkapnya