Ikatan itu berkobar begitu hebat sehingga aku berlutut, napasku tersengal-sengal. Anak itu berteriak, mencengkeram kami berdua, kekuatannya melonjak karena paksaan, berusaha mati-matian untuk menjaga dunia tetap utuh.“Mikail,” bisikku, suaraku bergetar tanpa kusadari. “Jangan.”Dia mendekati kami.Udara di sekitarnya berdengung, bergetar dengan kekuatan yang tertahan. Bola itu bergetar, merespons, putarannya semakin cepat, cahayanya semakin tajam hingga menjadi mematikan.Mikail tidak melambat. Dia tidak menoleh ke belakang. Dia melangkah maju hanya berdasarkan insting.Dan pada saat itu, aku mengerti dengan sangat jelas.Perang tidak berakhir ketika raja jatuh. Perang hanya mengubah target.Langkah selanjutnya bukanlah perintah. Itu akan menjadi pengorbanan. Dan Mikail sudah memilihnya.***Reaksi balik tidak memilih takhta, tapi memilih nyawa.Bola itu berkedut, putarannya tersentak ke s
อ่านเพิ่มเติม