Mikail akhirnya bergerak.Hanya selangkah ke depan. Bukan ke arah mereka—menuju pusat ruangan. Menuju ruang di mana kekuatan jelas terkumpul, suka atau tidak suka.“Kalau begitu, berikanlah,” katanya dengan tenang. “Tapi pahami ini dulu.”Dia memberi isyarat—bukan memerintah, hanya menunjukkan—dan ruangan itu merespons dengan elegan. Udara menegang, bukan dengan ancaman, tapi dengan kejelasan.“Keadaan sudah selaras,” lanjut Mikail. “Apa pun yang kalian putuskan sekarang tidak akan mengubahnya.”Aku merasakan riak kebenaran itu menyebar. Melalui setiap Alpha yang hadir, setiap pemimpin, setiap pengawas. Mereka tidak menunggu untuk diberi tahu apa yang harus dipikirkan. Mereka sudah tahu.Langit-langit dewan semakin redup, seperti lilin yang menyadari hari sudah pagi.Seorang anggota dewan berbisik, “Bukan begini cara kerja otoritas.”“Tidak,&rdq
อ่านเพิ่มเติม