"Kau sudah mendengarnya dengan jelas, Juslandier! Aku tidak bisa menemuimu lagi! Aku tidak akan pernah menemuimu lagi."Juslandier tersentak.Selama dia mengenal Araphael, malaikat itu tidak pernah meninggikan suara. Bahkan ketika marah atau kesal, Araphael selalu berbicara dengan lembut. Oleh karena itu, mendengar nada tinggi yang keluar dari bibirnya terasa seperti tamparan keras yang menghantam tepat di dada.Tanpa sadar, genggamannya pada pergelangan tangan Araphael terlepas. Dia mundur selangkah, lalu satu langkah lagi. Sepasang mata biru samudera itu hanya mampu menatap sosok yang masih berlutut di atas rerumputan, bahunya bergetar hebat oleh tangis.Kepalanya kosong, mendadak Juslandier merasa dirinya begitu hampa. Dia tidak tahu harus berkata apa. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Yang mampu dia rasakan hanyalah sesuatu yang mengganjal di dadanya, menyesakkan hingga sulit bernapas.Pada akhirnya, Juslandier berbalik, melangkah pergi. S
Read more