Ciuman itu berlangsung beberapa menit lebih lama daripada yang seharusnya. Saat Lovelle akhirnya membuka mata, napasnya sudah tidak beraturan. Ia bahkan belum sempat menyadari apa yang terjadi, ketika tiba-tiba saja Xavian menyelipkan satu tangan di belakang punggungnya, dan satu tangan lagi di lipatan bawah lututnya. Mendadak tubuh Lovelle terasa ringan, karena Xavian mengangkatnya dengan begitu mudahnya ke dalam dekapannya. "Tu-Tuan Claine?!" sergah Lovelle gugup. Tapi pria itu sama sekali tidak menjawab, dan berjalan dengan langkah yang tetap tenang serta terkendali. Dan yang bisa Lovelle lakukan, hanyalah berpegangan pada bahu kokohnya dengan jantung yang berdegup semakin liar. Mereka melewati lorong penthouse yang diterangi cahaya temaram, sebelum akhirnya Xavian mendorong sebuah pintu besar. Ruangan yang didominasi warna hitam, abu-abu gelap, dan kayu-kayuan, membuatnya tampak elegan sekaligus dingin. Ruangan yang jauh lebih sunyi dibanding ruang tamu. Lovelle
Read more