Mendung menggantung rendah di langit siang itu. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang masih menyisakan jejak hujan semalam.Hari itu adalah hari pemakaman Erland. Nurul datang bersama Alfi dan Elang. Walau bagaimana pun, terlepas dari segala luka dan kesalahan yang Erland lakukan pada putranya, ia tetaplah ayah kandung Alfi.Di depan pusara yang masih merah, suasana dipenuhi duka.Bu Titik berjongkok di samping makam putranya. Tangannya berulang kali mengusap nisan yang baru ditancapkan. Air matanya mengalir tanpa henti."Kenapa semua jadi begini? Seharusnya kamu yang menguburkan Ibu. Bukan sebaliknya, Nak." Bu Titik meratap lirih.Di kanan dan kirinya, Dini dan Rina ikut menangis tersedu-sedu. Sesekali mereka memegang bahu sang ibu yang tampak semakin rapuh.Tak jauh dari mereka, Dika dan Vito berdiri dengan wajah gelisah. Suasana muram membuat mereka keduanya tidak nyaman.Suami Dini dan Rina tidak tampak hadir. Hendrik memilih tidak datang karena takut memicu perteng
Mehr lesen