Pagi itu suasana apartemen terasa jauh lebih ramai dari biasanya.Di meja makan, Risa sedang menghabiskan roti bakar dengan wajah puas. Segelas susu cokelat hampir habis di tangannya.Pak Ahmad duduk di sofa sambil membaca koran.Sementara Tari membereskan piring-piring bekas sarapan.Di sisi lain ruangan, Gilang baru saja menutup panggilan telepon.Tatapannya sedikit kosong.Rahangnya mengeras sesaat.Naya.Telepon itu hanya berlangsung beberapa menit, tapi cukup membuat kepalanya terasa lebih berat.Ia menghela napas pelan.Lalu menoleh ke arah meja makan.Risa sedang menggigit roti sambil menggoyang-goyangkan kaki.Melihat itu, Gilang akhirnya berjalan mendekat.Duduk di kursi seberangnya.Risa langsung tersenyum lebar.“Papa.”Gilang menatapnya.“Ada yang mau Papa bicarakan.”Risa mengangguk santai.“Iya. Aku juga mau bicara.”“Papa dulu.”“Oke.”Risa kembali menggigit rotinya.Gilang terdiam beberapa detik.Mencari kata-kata yang tepat.Namun tetap terasa sulit.“Risa.”“Iya?”“K
Read more