Evalia menggigit bibirnya, berusaha menahan tawa. “Iya… aku tahu,” jawabnya sambil mengangguk kecil.Amanda memandang keduanya bergantian sebelum tersenyum. “Tapi jangan khawatir, Eva. Selama ini dia tidak pernah sekalipun membawa perempuan-perempuan itu untuk bertemu denganku. Kamu yang pertama. Dan sejauh ini, ini keputusan terbaik yang pernah dia buat.”Pipi Evalia langsung memerah. Kehangatan menjalar di dadanya. “Kuanggap itu sebagai pujian,” ujarnya malu-malu.“Itu memang pujian,” kata Amanda sambil mengedipkan mata kepada Evalia. Lalu ia menoleh kepada Aleksander. “Akhirnya ada juga seseorang yang bisa menghadapi pria keras kepala ini. Selamat ya, Nak.”“Mama,
Read more