Pria keempat, Evan Wiratama, duduk di ujung sofa. Cahaya samar dari layar ponselnya menerangi wajahnya yang tegas dan tenang. Ia tidak menyentuh minumannya, bahkan tak melirik camilan yang tersedia di hadapannya. Ekspresinya tetap datar sejak pertama kali memasuki ruangan.Selama satu jam penuh, tidak ada seorang pun yang berbicara. Akhirnya, salah satu pria berdeham pelan. “Boss, apa kita mulai sekarang?”Evan mengalihkan pandangan dari ponselnya lalu berdiri. “Ya. Kerjakan cepat. Kutunggu di mobil.” Ia mengambil sebutir anggur shine muscat dari meja, memutarnya di antara jari-jarinya seolah memeriksa kualitasnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut sebelum berjalan menuju pintu.Ketiga pria itu segera mengikuti langkahnya. Namun, mereka berb
Read more