“Apa enaknya sih bubur ayam nggak diaduk?” Sora melirik bubur ayam di mangkuk Figo tanpa selera.“Sekarang aku balik tanya, memang apa enaknya bubur diaduk?”“Ya enak, lah! Bumbunya merata jadi rasanya nggak berubah sampai habis.”Figo mendengus kecil. “Selera kita beda, Nona.”“Bukan beda, yang benar itu aku.”“Oh ya? Dasarnya apa kalau yang benar itu bubur diaduk?”Sora menelan buburnya sesaat, lalu menatap wajah Figo dengan serius. “Coba kamu bayangkan, apa ada orang yang makan mie goreng bumbunya nggak diaduk? Kamu pernah coba? Gimana rasanya?”Figo berdecak lidah. Dia mencubit pipi wanita itu cukup keras, membuat Sora menatapnya penuh protes.“Itu ‘kan mie, bukan bubur. Jangan samakan antara mie dan bubur.”“Ya sama aja, lah. Kalau bubur nggak diaduk, itu berarti kamu cuma ngunyah nasi yang dihaluskan doang tanpa bumbu tanpa ayam.”Pak Udin yang mendengar keributan mereka di belakang, hanya geleng-geleng kepala. “Kalian nggak berubah sampai sekarang. Selalu aja ribut soal bubur d
Read More