Vio berdiri di dekat jendela kecil yang menghadap ke arah deretan kontainer kosong. Jari-jarinya meremas pinggiran jeruji besi dengan erat, mencoba meredam gejolak aneh di dadanya. Kata-kata Rey tadi masih terngiang-ngiang, dan itu membuatnya kesal. Dia kesal karena di satu sisi, apa yang dikatakan Rey ada benarnya. Namun di sisi lain, dia benci fakta bahwa pria asing ini bisa membaca luka hatinya dengan begitu mudah.Tok, tok.Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Vio. Rey kembali melangkah masuk, kali ini dengan jaket kulit hitam yang sudah melekat di tubuh tegapnya. Di tangannya, dia memegang sebuah ponsel satelit yang layarnya menyala.“Clara baru saja membagikan agenda perjalanannya ke publik untuk menghadiri acara amal di hotel pusat kota besok malam,” ujar Rey, langsung kembali ke mode serius tanpa sisa-sisa godaan yang tadi. “Dia sengaja pamer, menunjukkan pada dunia kalau dia tidak tersentuh hukum, sekaligus memancing Kael agar keluar dari persembunyian.”Vio berbalik,
Baca selengkapnya