“Maaf, Bu Aluna… tapi menurut pengamatan saya dan beberapa kejanggalan selama lembur malam… Pak Ragil dan Anggun memang punya hubungan spesial di belakang Bu Aluna.”Rangkaian kalimat yang keluar dari bibir Citra bagaikan hantaman badai yang memporak-porandakan sisa pertahanan batin Aluna. Detik itu juga, Aluna merasakan pasokan udara di sekitarnya mendadak menipis, menyisakan rasa sesak yang teramat pekat di rongga dadanya. Sepasang matanya melotot sempurna, menatap tajam ke arah Citra dengan campuran rasa syok, terluka, sekaligus penolakan yang luar biasa.“Kamu jangan sembarangan, ya, menuduh suami saya seperti itu di depan saya!” sentak Aluna.Suaranya meninggi dengan getaran emosi yang begitu terasa. Walau bagaimanapun, di lubuk hatinya yang terdalam, naluri Aluna masih bergerak secara otomatis untuk membela kehormatan suaminya di hadapan orang lain. Ia tidak ingin martabat rumah tangganya diinjak-injak begitu saja oleh gunjingan orang kantor.Citra yang mendapatkan reaksi keras
Read more