“Ta-tapi, Marco, bagaimana jika ada dokter dan perawat yang bisa datang kapan saja," bisiknya terengah, suaranya gemetar antara ketakutan dan hasrat yang membara."Tidak akan," jawab Marco dengan suara rendah dan tegas, seperti perintah yang tidak boleh dibantah. Matanya yang gelap membara."Hanya setengah jam. Itu sudah cukup. Aku sudah tidak tahan lagi melihatmu di sini, lemah tapi tetap milikku."Tangan Marco yang besar meraih kaus tipis yang dikenakan oleh Gia, lalu merobeknya dengan satu tarikan kasar tanpa mempedulikan perban di perutnyaKain tipis itu kini terlepas, memperlihatkan kulit Gia yang halus dan payudara yang montok dan sempurna di mata sang penguasa tersebut.Gia lantas menggigit bibir, lalu desahan kecil lolos dari mulutnya saat tangan Marco menjelajahi tubuhnya dengan rakus. Jari-jari pria itu menyusuri lekuk pinggul, naik ke payudara, meremasnya dengan kekuatan yang membuat Gia melengkungkan punggung."Ahh... Marco..." erangnya tak karuan, campuran hasrat dan keni
Read more